
SERAYUNEWS-Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggencarkan layanan kesehatan hewan keliling atau healing guna memastikan kondisi ternak tetap sehat dan terbebas dari penyakit menular.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung meninjau pelaksanaan program tersebut di sejumlah wilayah, termasuk pelaksanaan pemeriksaan hewan ternak di Kabupaten Banjarnegara. Langkah ini dilkukan untuk melakukan pengawasan ternak, terutama menjelang Idul Adha, dimana kebutuhan hewan kurban meningkat.
“Pengecekan kita lakukan di wilayah Jawa Tengah, dan hari ini, kami melakukan kunjungan dan pengawasan langsung di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen,” katanya, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, pemeriksaan hewan ternak ini menjadi bagian dari pengawasan kesehatan ternak, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan hewan kurban. Pengecekan ini diakukan karena sebentar lagi Iduladha dan kebutuhan ternak meningkat.
Dikatakannya, saat ini populasi ternak di Jawa Tengah mencapai sekitar 6,3 juta ekor, jumlah yang sangat besar dan harus dijaga kesehatannya. Apalagi data tahun 2026 menyebutkan, populasi ternak di Jawa Tengah terdiri atas sekitar 1,32 juta ekor sapi potong, 23 ribu ekor kerbau, 3,7 juta ekor kambing, dan 1,33 juta ekor domba. Sementara itu, kebutuhan hewan kurban tahun ini diperkirakan mencapai 593 ribu ekor.
Luthfi menegaskan, pemerintah berkomitmen mencegah munculnya penyakit menular, khususnya yang rentan menyerang hewan ternak seperti sapi, kambing, dan kerbau.
“Kami tidak ingin saat Iduladha justru muncul kasus penyakit menular. Semua ternak harus dipastikan dalam kondisi sehat,” katanya.
Program healing merupakan inovasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah sebagai pelengkap layanan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang telah tersedia di 35 kabupaten/kota. Melalui program ini, tenaga medis hewan turun langsung ke lapangan untuk memberikan layanan jemput bola kepada para peternak, termasuk di wilayah terpencil.
Berbagai layanan diberikan secara gratis, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pengobatan, vaksinasi, hingga pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk hewan bunting.
“Dokter hewan kita datang langsung ke kandang-kandang ternak tanpa biaya. Ini penting agar kesehatan ternak bisa terus terpantau,” katanya.
Sejak diluncurkan pada Februari 2026, program ini dinilai efektif dalam menekan penyebaran penyakit hewan. Hingga pertengahan April 2026, tercatat hanya 10 kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Jawa Tengah, dan seluruhnya telah berhasil ditangani.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menambahkan bahwa program ini juga mengedepankan deteksi dini dan respons cepat terhadap laporan dari peternak.
Selain itu, pengawasan lalu lintas ternak di wilayah perbatasan diperketat guna mencegah masuknya penyakit dari luar daerah.
“Di perbatasan sudah disiapkan pos lalu lintas ternak untuk memastikan setiap hewan yang masuk dalam kondisi sehat,” ujarnya.
Di sisi lain, adanya program ini disambut baik oleh para peternak, termasuk di Kabupaten Banjarnegara. Widodo, peternak sapi asal Banjarnegara mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan kesehatan hewan keliling, terutama menjelang Idul Adha ini.
“Bayang-bayang PMK memang masih ada, dengan adanya layanan ini, kami merasa lebih tenang. Harapannya bisa lebih sering dilakukan,” katanya.
Masyarakat berharap melalui intensifikasi program healing ini mampu menjaga kesehatan ternak secara menyeluruh sekaligus menjamin keamanan hewan kurban bagi masyarakat saat Iduladha mendatang.