
SERAYUNEWS – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah sempat menyentuh level terendah terhadap dolar Singapura pada April 2026.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Di saat rupiah terus melemah, mata uang negara tetangga seperti ringgit Malaysia dan dolar Singapura justru dinilai lebih stabil.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan publik mengenai faktor yang membuat kedua mata uang tersebut mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi global.
Berdasarkan data pasar keuangan internasional, rupiah tercatat melemah cukup signifikan terhadap dolar Singapura sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Pada pertengahan April 2026, kurs rupiah terhadap dolar Singapura berada di kisaran Rp13.500 per SGD. Tekanan terhadap rupiah disebut dipengaruhi kombinasi faktor domestik maupun eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah konflik Iran memicu lonjakan harga minyak global.
Kondisi tersebut berdampak besar bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai negara importir minyak bersih.
Kenaikan harga energi membuat biaya impor Indonesia meningkat. Selain itu, pemerintah juga menghadapi tekanan tambahan dari kebutuhan subsidi energi yang semakin besar. Situasi ini memengaruhi neraca perdagangan dan kondisi fiskal nasional.
Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings bahkan menyebut Indonesia menjadi salah satu negara yang cukup rentan terhadap dampak konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Risiko tersebut muncul karena ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih cukup tinggi daripada beberapa negara Asia lain.
Tidak hanya itu, meningkatnya ketidakpastian global juga mendorong investor asing menarik dana dari pasar obligasi dan saham Indonesia.
Arus modal keluar tersebut semakin menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat maupun mata uang regional lain.
Data perdagangan menunjukkan investor asing sempat mencatat penjualan bersih obligasi pemerintah Indonesia pada awal 2026.
Kondisi pasar saham domestik juga mengalami tekanan setelah muncul kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan dan aktivitas perdagangan di pasar modal.
Ekonom menilai stabilitas ringgit Malaysia dan dolar Singapura tidak lepas dari kondisi fundamental ekonomi kedua negara yang relatif lebih kuat daripada Indonesia.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan salah satu faktor utama berasal dari kondisi neraca transaksi berjalan atau current account yang lebih sehat.
Malaysia dan Singapura sama-sama mencatat surplus transaksi berjalan, sedangkan Indonesia masih berada dalam posisi defisit.
Malaysia membukukan surplus current account sekitar 2,2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2025. Sementara itu, Singapura mencatat surplus jauh lebih besar, yakni sekitar 17 persen terhadap PDB.
Sebaliknya, Indonesia diperkirakan masih mengalami defisit current account pada 2026. Kondisi tersebut membuat rupiah lebih rentan terhadap tekanan eksternal, terutama ketika terjadi gejolak pasar global.
Selain faktor transaksi berjalan, struktur ekonomi Malaysia juga dinilai lebih diuntungkan ketika harga minyak dunia naik.
Berbeda dengan Indonesia yang masih mengimpor energi, Malaysia merupakan eksportir minyak dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Kenaikan harga energi global otomatis meningkatkan pendapatan ekspor Malaysia dan memperkuat posisi ringgit.
Data statistik Malaysia menunjukkan sektor minyak dan gas menyumbang porsi besar terhadap total ekspor negara tersebut sepanjang 2025.
Sementara itu, dolar Singapura dinilai lebih stabil karena didukung posisi ekonomi Singapura sebagai pusat keuangan regional.
Negara tersebut memiliki surplus jasa yang kuat, arus modal asing yang besar, serta cadangan devisa yang tinggi.
Monetary Authority of Singapore (MAS) juga menerapkan kebijakan stabilisasi nilai tukar untuk menjaga inflasi dan kestabilan ekonomi domestik. Kebijakan itu membuat dolar Singapura cenderung lebih tahan terhadap gejolak eksternal.
Cadangan devisa Singapura tercatat mencapai lebih dari USD370 miliar pada April 2026. Jumlah tersebut jauh lebih besar daripada Malaysia maupun Indonesia.
Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, investor internasional juga cenderung memindahkan dana ke aset yang aman. Dolar Singapura menjadi salah satu mata uang Asia yang sering menjadi safe haven regional.
Meski tekanan terhadap rupiah terjadi hampir di seluruh negara berkembang Asia, sejumlah analis menilai mata uang Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam jangka pendek.
Selain faktor global, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dan arus modal asing membuat rupiah lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar internasional.
Penguatan dolar AS akibat tingginya suku bunga Amerika Serikat juga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Investor global cenderung memindahkan dana ke aset dolar AS yang lebih aman dan menguntungkan.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter dan intervensi pasar.
Pemerintah juga perlu memperkuat fundamental ekonomi domestik agar rupiah lebih tahan menghadapi tekanan global di masa mendatang.***