
LAMPUNG, SERAYUNEWS-Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan aktivitas vulkanik setelah mengalami erupsi menerus pada awal September 2026.
Berdasarkan laporan terbaru Badan Geologi, erupsi menerus yang dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Meski demikian, aktivitas erupsi masih terjadi dan potensi letusan masih dinilai tinggi.
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat maupun wisatawan dilarang mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas.
Dampak erupsi juga terpantau hingga sejumlah wilayah di Pulau Sumatra. Berdasarkan analisis BMKG, sebaran abu vulkanik pada lapisan atmosfer permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki mencakup wilayah Lampung dan Bengkulu.
Pada periode puncak erupsi, kolom abu bahkan tercatat mencapai 50.000 kaki dan menyebar hingga Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Selain abu vulkanik, aktivitas Anak Krakatau turut menghasilkan gas sulfur dioksida (SO₂), yang terus dipantau karena berpotensi memengaruhi kualitas udara.
Dampak erupsi juga terasa pada sektor penerbangan. Hingga Senin (7/9) sore, sebanyak 2.961 penerbangan domestik dan internasional (2.339 domestik, 622 internasional) terdampak akibat perubahan operasional sejumlah bandara. Kondisi tersebut turut memengaruhi sekitar 341.000 penumpang.
Pada Selasa (8/9), sejumlah bandara mulai kembali beroperasi setelah penutupan sementara akibat sebaran abu vulkanik. Namun, Bandara Radin Inten II, Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung, serta Bandara Salakanagara Tanjung Lesung di Pandeglang masih menunggu perkembangan kondisi abu vulkanik sebelum kembali beroperasi.
Di sisi kebencanaan laut, BMKG terus memantau kondisi Selat Sunda melalui HF Radar di Carita dan Tanjung Lesung dalam mode pemantauan tsunami. Hingga 7 September, probabilitas tsunami berada pada kategori rendah, dengan tinggi gelombang diperkirakan berkisar 0,5–2 meter.
Perkembangan terbaru menunjukkan tanda yang relatif positif. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada 8 September pukul 04.00 WIB, sebaran abu vulkanik justru terpantau bergerak menjauhi puncak gunung ke arah selatan-barat daya, menuju Samudra Hindia.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik tetap diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan kacamata pelindung untuk mengurangi risiko iritasi pada mata serta gangguan pada saluran pernapasan. (faradian yusi)