
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Di antara deretan warung kopi kekinian yang menjamur di kawasan Purwokerto, ada satu tempat yang berhasil mencuri perhatian masyarakat luas. Bukan karena mengusung konsep kemewahan, melainkan berkat kesederhanaan serta panorama unik yang jarang ditemukan di tempat lain: lintasan kereta api yang melintas persis di depan mata.
Tempat tersebut adalah (KPS) Kedai Pinggir Stasiun, atau yang lebih akrab disapa anak-anak muda setempat dengan sebutan “Tepi Rel”, berlokasi strategis di Gang Maya, Kober, Purwokerto Barat.
Siapa sangka, ruang nongkrong yang kini saban hari dipenuhi sejawat muda-mudi ini dulunya hanyalah sebuah lapak seblak berskala amat kecil yang dirintis dengan modal serbaterbatas.
Ali Ma’fur, sosok di balik keberhasilan KPS, mengawali langkah bisnisnya bersama sang istri dengan modal nekat senilai Rp300 ribu saja. Pada mulanya, bisnis ini bukanlah kedai kopi modern ataupun tempat nongkrong bernuansa estetik seperti yang terlihat hari ini. Menu awal yang dijajakan adalah seblak kuliner rakyat bernuansa pedas yang digemari banyak kalangan.
“Kita merintis, kita buka seblak. Lama-lama kita punya ide bikin tempat nongkrongan buat anak-anak muda,” kenang Ali saat menceritakan perjalanan awal usahanya.
Tiga bulan pertama menjadi ujian terberat bagi pasangan suami istri ini. Fluktuasi penjualan terasa amat nyata; kadang ramai disinggahi pembeli, namun tak jarang pula sepi tanpa kepastian.
Meski demikian, Ali dan istrinya memilih untuk terus bertahan, saling menopang satu sama lain dalam menjalankan usaha yang masa itu belum menunjukkan tanda-tanda akan berkembang menjadi sebesar sekarang.
Perubahan garis nasib bisnis Ali terjadi secara tak terduga tanpa perencanaan rumit sebelumnya. Suatu hari, seorang content creator lokal asal Purwokerto bernama Rizal yang dikenal kerap membagikan ulasan kuliner dan rekomendasi tempat nongkrong mampir untuk menyicipi menu sekaligus mengabadikan suasana KPS.
Video dokumentasi yang diunggah Rizal ke media sosial perlahan menyebar luas hingga akhirnya menjadi viral di kalangan warganet. Dari momentum emas inilah, nama Kedai Pinggir Stasiun mulai melejit dan dikenal secara luas oleh publik.
KPS bertransformasi secara instan dari sekadar lapak seblak pinggiran menjadi destinasi kuliner dan ruang sosial favorit anak muda Purwokerto.
Namun demikian, popularitas mendadak yang diraih KPS rupanya membawa tantangan operasional baru. Ali mengaku, di balik manisnya kesuksesan yang terlihat di permukaan, ada fase krusial dan sulit yang harus ia seberangi.
Lonjakan ribuan pengunjung yang datang berbondong-bondong, termasuk kebiasaan pengunjung muda yang nongkrong hingga larut malam serta bisingnya deru knalpot kendaraan sempat memicu gelombang keluhan dari warga permukiman sekitar. Keluhan tersebut bahkan bereskalasi hingga ke tingkat pengurus lingkungan setempat, melahirkan desakan agar kedai ditutup permanen.
“Katanya suruh ditutup lah ini,” ujar Ali mengenang tekanan berat pada masa-masa tersebut.
Alih-alih bersikap reaktif atau menyerah pada keadaan, Ali memilih jalan kompromi konstruktif. Ia secara taat menerapkan aturan jam operasional baru, yakni menutup kedai tepat pukul 22.00 WIB pada hari biasa. Komitmen tersebut perlahan mengembalikan kepercayaan warga setempat.
“Sekarang udah damai dan warga udah saling mendukung. Sekarang udah sinkron, nggak kayak dulu lagi,” tegas Ali lega.
Ketika ditanya mengenai fase paling krusial dalam perjalanan usahanya, Ali tak menampik bahwa dirinya sempat terlintas untuk menyerah. Namun, dorongan moral serta ingatan akan perjuangan panjang bersama istri dan keluarga membuatnya bergeming untuk terus melangkah ke depan.
Hal menarik lainnya dari keberadaan KPS adalah dampak ekosistem ekonomi lokal yang tercipta di sekitarnya. Seiring meningkatnya popularitas KPS, area sekitar Gang Maya Kober mendadak dihidupkan oleh puluhan pedagang kaki lima, mulai dari penjual bakso, mie ayam, hingga aneka jajanan pasar yang membuka lapak di teras-teras rumah warga.
Ali menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah merasa tersaingi oleh kehadiran para pedagang baru tersebut. Baginya, kehadiran sesama pelaku UMKM justru memperkuat daya tarik kawasan KPS menjadi destinasi wisata kuliner lokal yang makin hidup.
“Kita nggak merasa tersaingi, karena rezeki itu jalannya sudah sendiri-sendiri dan udah ada yang ngatur,” ungkap Ali.
Sikap terbuka ini melahirkan keharmonisan antarpedagang, di mana KPS dan usaha warga sekitar saling melengkapi serta sama-sama memetik manfaat ekonomi.
Di tengah ketatnya persaingan tempat nongkrong di Purwokerto, Kedai Pinggir Stasiun (KPS) menawarkan daya tarik tersendiri.
Tiga elemen utama yang menjadi alasan tempat ini konsisten dipadati pengunjung adalah lokasi strategis di tepi rel kereta api, atmosfer area terbuka, serta patokan harga yang terjangkau
KPS yang kini telah dikembangkan hingga memiliki lantai dua dan dilengkapi akses WiFi gratis ini secara presisi menyasar segmen pelajar serta mahasiswa.
Dengan harga minuman yang dibanderol mulai dari Rp6.000 dan rata-rata pengeluaran pengunjung hanya berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000, KPS menawarkan opsi rekreasi yang amat terjangkau tanpa mengorbankan kualitas pengalaman.
Info Lokasi, Harga dan Jam Operasional KPS
Bagi Ali Ma’fur dan keluarga, Kedai Pinggir Stasiun melampaui batas definisi bisnis semata. Kedai ini merupakan monumen kerja keras dan bentuk nyata dari sokongan penuh keluarga yang merintis segalanya dari titik nol.
Secara bertahap, hasil manis dari ketekunan usaha ini mentransformasi kesejahteraan ekonomi keluarga Ali, mulai dari pembenahan hunian pribadi hingga kontribusi aktif dalam pembangunan fasilitas umum di lingkungan RT setempat.
Lebih luas lagi, keberadaan KPS terbukti menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, membuka lapangan rezeki baru bagi warga Gang Maya Kober yang kini turut mengandalkan perputaran roda ekonomi di kawasan tersebut.
Dari modal awal Rp300 ribu dan sebuah lapak seblak yang sederhana, perjalanan Ali Ma’fur bersama KPS membuktikan bahwa ketahanan bisnis (business resilience), fleksibilitas dalam merespons konflik lingkungan, serta pemanfaatan momentum pemasaran digital adalah pilar utama keberhasilan UMKM modern.
Kedai Pinggir Stasiun kini bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang sosial ikonis di Purwokerto yang menyatukan secangkir minuman, obrolan hangat, dan momen melintasnya kereta api dalam satu harmoni yang membekas di hati para pengunjungnya. (Amelia Faridha Zhariif)