
SERAYUNEWS – Penentuan lokasi dibangunnya Puskesmas 2 Cilongok, telah melalui sederet proses. Sebelum akhirnya diputuskan akan dibangun di Desa Sudimara.
Dalam rencana awal, memang ada wacana akan dibangun di Desa Kasegeran. Batalnya rencana itu yang menjadikan alasan Kades Kasegeran, Saifudin, mundur dari jabatan sebagai Kades.
Kepala Desa Sudimara Kecamatan Cilongok, Waryoko, menjelaskan bahwa awalnya ada surat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas yang menunjuk Desa Kasegeran sebagai lokasi rencana peningkatan Puskesmas 2 menjadi Puskesmas Rawat Inap.
Dalam surat tersebut, disebutkan syarat lahan minimal 2.500–3.000 meter persegi. Pemkab kemudian menggelar Forum Group Discussion (FGD). Ada sembilan desa wilayah layanan Puskesmas 2 yang mengikuti.
Masing-masing Batuanten, Cipete, Kasegeran, Jatisaba, Panusupan, Pageraji, Pejogol, Langgongsari, dan Sudimara. Dari sembilan desa, lima kepala desa mengajukan lokasi, antara lain Pageraji, Sudimara, Kasegeran, Jatisaba, dan Cipete.
“Namun, Desa Cipete mundur karena kendala status tanah,” ujarnya.
Hal itu terungkap saat diskusi antar elemen masyarakat, sejumlah Kades di wilayah pelayanan Puskesmas 2 serta anggota DPRD Banyumas dari Fraksi PDI Perjuangan, H. Anang Kostrad Diharto, Senin (2/2/2026) malam.
Selanjutnya dilakukan kajian menyeluruh oleh tim survei independen, yang berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemeriksaan dilakukan mulai dari pengukuran lahan, kontur tanah, hingga aksesibilitas. Survei di Desa Sudimara bahkan menggunakan teknologi drone. Hasil kajian menunjukkan Desa Sudimara dan Desa Kasegeran memperoleh nilai tertinggi.
“Dari hasil rapat di kabupaten, akhirnya diputuskan lokasi pembangunan Puskesmas 2 Cilongok berada di Desa Sudimara,” ujar Waryoko dalam
Waryoko menegaskan, penetapan Desa Sudimara didasarkan pada sejumlah faktor. Pertama lokasi berada di tengah-tengah sembilan desa wilayah layanan, infrastruktur jalan memadai, dengan akses beraspal selebar 9 meter, lahan seluas 4.300 meter persegi, fleksibel untuk pengembangan, kondisi tanah stabil dan tersedia fasilitas pendukung seperti musala, dan harga tanah masih sesuai kemampuan anggaran kabupaten. Selain itu, Sudimara memiliki keunggulan dari sisi sumber daya air.
“Desa kami dilalui cekungan air tanah (CAT). Terbukti ada lima sumur bor yang berhasil baik, berbeda dengan Jatisaba dan Panusupan yang sempat gagal,” ujarnya.
Waryoko menambahkan, sejumlah pertimbangan lain, antara lain letaknya yang berada di tengah-tengah sembilan desa wilayah layanan Puskesmas 2, ketersediaan infrastruktur jalan yang memadai, serta luas lahan yang dinilai lebih fleksibel untuk pengembangan.
“Lahan di Sudimara memiliki akses jalan beraspal dengan lebar sekitar sembilan meter dan kondisi tanah yang stabil. Selain itu, di sekitar lokasi sudah tersedia fasilitas musala sehingga tidak perlu membangun dari awal,” kata dia.
Terkait luasan lahan, Waryoko menyebutkan bahwa lahan di Desa Sudimara memiliki luas sekitar 4.300 meter persegi dan masih memungkinkan untuk dilakukan penambahan jika dibutuhkan. Sementara lahan di Desa Kasegeran dinilai lebih terbatas dari sisi luasan.
“Dari sisi harga tanah juga masih dalam kemampuan anggaran kabupaten. Bahkan, jika diperlukan, masih bisa dilakukan musyawarah dengan pemilik lahan,” kata dia.