
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Sastra memiliki cara yang sunyi namun menghujam untuk merawat ingatan kolektif sebuah bangsa. Ketika sejarah resmi sering kali ditulis oleh para pemenang dengan narasi yang steril, novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori justru memilih berjalan di jalur sebaliknya.
Buku ini masuk ke dalam lorong-lorong gelap masa lalu, menyuarakan jerit mereka yang dibungkam, serta memotret sisa-sisa luka yang tak pernah sembuh dari sudut pandang korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Novel ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak sekadar menghibur, melainkan mengoyak emosi, membakar nalar kritis, sekaligus menuntut empati mendalam dari setiap pembacanya, Senin (7/9/2026).
Novel ini langsung dibuka dengan sebuah adegan puncak yang kelam dan menyesakkan dari sudut pandang tokoh utamanya, Biru Laut. Dalam keadaan mata tertutup kain rapat dan tangan terikat di dalam mobil van, ia diseret menuju sebuah kapal di tengah laut.
Tanpa proses peradilan dan tanpa kejelasan hukum, tubuhnya dilempar ke dasar laut dengan kaki diikat menggunakan pemberat besi agar hilang tanpa jejak.
Meski merenggut nyawa, adegan pembuka yang suram ini ditegaskan lewat kutipan puitis Sang Penyair: “Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali…”
Makna dari kalimat tersebut menjadi fondasi utama cerita: rezim penguasa boleh saja melenyapkan fisik seorang aktivis, tetapi mereka tidak akan pernah bisa membunuh gagasan, keberanian, dan nilai perjuangan yang telah ditebarkan.
Setelah prolog yang mencekam, alur cerita melompat mundur ke masa ketika Biru Laut dan kawan-kawannya masih hidup penuh semangat di Yogyakarta, tepatnya pada tahun 1991.
Mereka menyewa sebuah rumah kayu sederhana di daerah Seyegan yang dijadikan sebagai rumah aman untuk merajut pergerakan. Di tempat inilah pembaca disuguhkan sisi humanis para aktivis.
Laut bersama rekan-rekannya, seperti Kinan, Sunu, Alex, dan Daniel, tidak digambarkan sebagai sosok kaku yang hanya memikirkan politik praktis.
Mereka adalah anak-anak muda hangat yang gemar memasak bersama, berdiskusi seni, hingga mengagumi pementasan teater.
Di tengah pembatasan ketat rezim Orde Baru terhadap kebebasan berpikir, kelompok diskusi di Seyegan ini memilih buku dan literasi sebagai senjata utama perlawanan.
Mereka memperbanyak dan mempelajari karya-karya sastra yang dilarang keras oleh pemerintah, terutama novel-novel sarat makna karya Pramoedya Ananta Toer.
Bagi mereka, buku-buku terlarang tersebut adalah jendela kesadaran untuk melihat ketimpangan sosial di Indonesia.
Yogyakarta di era tersebut digambarkan sebagai magnet yang mempertemukan anak-anak muda berjiwa merdeka dari berbagai daerah.
Kota ini menyatukan keresahan, menghidupkan diskusi-diskusi panjang di bawah temaram lampu, dan merajut keberanian kolektif untuk melawan pembodohan struktural.
Kehadiran sosok Kinan yang tegas dan cerdas menjadi pemicu kedisiplinan serta penggerak utama dalam setiap diskursus, membuat Laut yang biasanya pendiam ikut berani menyuarakan gagasan-gagasan besar.
Seiring berjalannya cerita, pembaca akan dibawa masuk ke paruh kedua novel yang bergeser dari sudut pandang Biru Laut ke adiknya, Asmara Jati. Jika bagian pertama adalah potret gelora pergerakan kaum muda, bagian kedua adalah representasi dari kepedihan yang panjang.
Asmara Jati bersama kelompok Pencari Hilang mendedikasikan hari-hari mereka untuk mencari kejelasan nasib kakak dan rekan-rekan aktivis lainnya yang diculik tanpa pernah kembali.
Di sinilah Leila S. Chudori menunjukkan kepiawaiannya dalam membedah psikologis keluarga korban. Hari Minggu tetap berjalan seperti biasa di rumah keluarga Biru Laut, dengan hidangan ikan kuah kuning kesukaan sang anak yang terus dimasak oleh sang ibu di meja makan, namun kursi di ujung meja itu selamanya kosong.
Ritual makan malam Minggu berubah menjadi monumen kesedihan yang sunyi, menggambarkan bagaimana negara boleh merenggut nyawa seorang anak, tetapi memori tentang kehadirannya tetap tinggal dan menyiksa batin orang tua yang menanti kepulangan tanpa kepastian.
Melalui kepiawaian merangkai alur dua sudut pandang dan diksi yang puitis namun bernas, Laut Bercerita berhasil memanusiakan para korban sejarah. Buku ini mengingatkan kita bahwa di balik catatan sejarah politik yang kering, terdapat air mata, ketakutan, persahabatan yang tulus, dan mimpi-mimpi anak muda yang diputus paksa.
Novel ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja, terutama generasi muda, yang ingin memahami harga dari sebuah kebebasan berpendapat. Laut Bercerita bukan sekadar bacaan pengisi waktu luang, melainkan sebuah pengingat abadi bahwa lupa adalah bentuk pengkhianatan terbesar terhadap sejarah bangsa. (Sofwan Jauhari)