
SERAYUNEWS – Lagu “Sesi Potret” berhasil mencuri perhatian penikmat musik Indonesia sejak pertama kali diperkenalkan.
Karya kolaborasi antara Enau dan Ari Lesmana ini menghadirkan nuansa emosional yang kuat, dipadukan dengan lirik yang sederhana namun sarat makna. Lagu ini tidak hanya enak didengar, tetapi juga mampu menyentuh sisi personal pendengarnya.
Sejak dirilis, “Sesi Potret” banyak dibicarakan karena ceritanya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lagu ini mengangkat tema tentang perjalanan pulang seseorang setelah lama merantau, yang seharusnya menjadi momen bahagia, tetapi justru berujung duka.
Cerita dalam lagu ini berfokus pada seseorang yang akhirnya bisa kembali ke rumah setelah sekian lama bekerja di perantauan. Ia datang dengan membawa oleh-oleh dan harapan untuk bertemu orang yang dirindukan.
Namun, kenyataan yang dihadapi jauh dari harapan. Sosok yang dinanti ternyata telah meninggal dunia lebih dulu. Momen kepulangan yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi pertemuan yang tak pernah terjadi.
Narasi ini menjadi kekuatan utama lagu, karena menggambarkan realitas yang mungkin dialami banyak orang. Kehilangan seseorang tanpa sempat bertemu kembali menjadi pengalaman emosional yang sulit dilupakan.
Berikut lirik lagu “Sesi Potret” yang dikenal luas karena kekuatan emosinya:
Tahun lalu berjuta alasanku
Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan
Kali ini sudah lumayan
Berkat doamu di ijabah sang maha kaya
Dan tahun ini, kubisa pulang
Oleh-oleh sudah ditangan
Tapi anehnya, bukan kau yang menyambutku
Ohh ternyata, kau yang lebih dulu pulang
Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan, wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh,
kalau rindu aku tak mampu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Gengsi menyelimutiku, manusia ini kehilanganmu
Sesi potret yang selalu ku benci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisannya tak sama lagi
Ooh… Satu… dua… tiga…
Ini nyata, kau telah pergi…
Ku bertamu kerumah barumu,
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan, wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Sesal hatiku tak sempat temani kamu
Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Masih sangat amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu
Kehilanganmu
Lagu ini tidak hanya bercerita tentang kehilangan, tetapi juga menggambarkan penyesalan yang mendalam.
Salah satu bagian yang paling menyentuh adalah kalimat “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir”, yang mencerminkan kesulitan seseorang dalam menerima kenyataan pahit.
Tema utama yang diangkat adalah tentang waktu yang terlewat. Banyak orang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau urusan pribadi hingga melupakan pentingnya kebersamaan dengan keluarga.
Lagu ini seolah menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk bersama orang tercinta tidak selalu datang dua kali.
Tak heran jika lagu ini terus dikenang dan menjadi salah satu karya yang memiliki tempat khusus di hati penikmat musik Indonesia.***