
SERAYUNEWS – Kemenangan dramatis Manchester United atas Liverpool dengan skor 3-2 di Old Trafford, Minggu (3/5/2026), menyisakan satu perdebatan panas: siapa sebenarnya pemain terbaik di laga ini?
Nama Kobbie Mainoo jelas jadi sorotan. Golnya di menit ke-77 memastikan kemenangan Setan Merah dan membuat publik tuan rumah bersorak. Namun jika bicara performa keseluruhan, justru pemain lawan yang tampil lebih “menggila”.
Ya, Dominik Szoboszlai layak disebut sebagai MVP dan ini bukan opini kosong.
Meski kalah, Liverpool tampil lebih dominan. Mereka unggul penguasaan bola hingga 61 persen, mencatatkan 512 operan dengan akurasi 88 persen. Bandingkan dengan United yang hanya 39 persen penguasaan bola.
Di balik dominasi itu, Szoboszlai jadi motor utama. Ia mencetak satu gol cepat di awal babak kedua dan menyumbang satu assist untuk gol Cody Gakpo. Pergerakannya konstan merepotkan lini belakang MU sepanjang laga.
Bahkan, kebangkitan Liverpool di babak kedua praktis dimulai dari kaki gelandang asal Hungaria tersebut.
Tak bisa dipungkiri, Mainoo tetap layak mendapat kredit besar. Selain gol penentu, performanya cukup stabil dalam mengontrol tempo permainan di momen-momen krusial.
Namun, jika bicara pengaruh sepanjang 90 menit, Szoboszlai jelas lebih dominan. Ia menjadi pusat kreativitas, penghubung lini tengah ke depan, sekaligus ancaman nyata bagi pertahanan United.
Gol-gol MU sendiri dicetak cepat lewat Matheus Cunha (6’) dan Benjamin Šeško (14’), sebelum Liverpool bangkit. Tapi pada akhirnya, satu momen dari Mainoo jadi pembeda.
Inilah sepak bola: tim bisa menang, tapi pemain terbaik belum tentu berasal dari tim pemenang.
“Tidak bagus (hasil pertandingan), karena kami pulang dengan nol poin… kami harus belajar dari awal babak kedua, saat kami menunjukkan siapa kami sebenarnya,” ujar Szoboszlai, dikutip dari laman resmi Liverpool.
Kalau ukurannya hasil akhir, Mainoo adalah pahlawan. Tapi kalau berbicara soal kualitas permainan secara utuh, sulit menampik bahwa Szoboszlai adalah sosok paling menonjol di lapangan.
Dan di sinilah perdebatan itu akan terus hidup antara “pahlawan” dan “pemain terbaik”.