
JAKARTA, SERAYUNEWS-Pemerintah Indonesia terus mempermudah akses pendidikan dan pemahaman literasi sejarah nasional bagi seluruh lapisan masyarakat. Saat ini, para peserta didik, tenaga pengajar, hingga masyarakat umum dapat memperoleh buku teks pelajaran serta bahan kajian Sejarah Indonesia dalam format digital secara resmi dan bebas biaya melalui beberapa layanan digital pemerintah.
Salah satu rujukan utama untuk mengunduh dokumen pembelajaran ini adalah Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI). Melalui situs resminya di buku.kemdikbud.go.id, portal tersebut menyajikan deretan buku teks utama untuk siswa sekaligus buku panduan bagi pengajar pada tingkat SMA, SMK, dan MA.
Pilihan materi yang disediakan mencakup berbagai skema pendidikan, mulai dari Kurikulum Merdeka hingga Kurikulum 2013, baik untuk mata pelajaran Sejarah umum maupun Sejarah Lanjut.
Guna menunjang kebutuhan pendalaman materi dan analisis akademis, pemerintah juga menyediakan arsip digital melalui Repositori Kemdikbudristek di laman repositori.kemdikbud.go.id. Pangkalan data ini memuat beragam modul pembelajaran mandiri, bahan ajar, petunjuk praktikum, hingga kajian sejarah lokal.
Sementara itu, bagi pembaca yang ingin menelaah terbitan sejarah non-pelajaran, naskah cagar budaya, majalah kebudayaan, serta buku penelitian sejarah nasional, publikasi tersebut disajikan langsung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui portal kebudayaan.kemdikbud.go.id.
Masyarakat yang bermaksud memperoleh dokumen digital buku teks Sejarah Indonesia dapat mengikuti alur pengunduhan yang terstruktur di portal SIBI. Langkah awal dimulai dengan mengakses situs buku.kemdikbud.go.id, lalu masuk ke bagian katalog buku.
Pengguna kemudian disarankan mengatur filter pencarian sesuai jenjang sekolah dan jenis kurikulum yang dibutuhkan. Setelah menentukan tingkatan kelas mulai dari kelas sepuluh hingga dua belas, pengguna tinggal memilih judul buku Sejarah Indonesia yang dicari, lalu mengklik opsi unduh PDF untuk menyimpan berkas secara langsung ke perangkat. (jovinsa Nizar kusumah)