
PURBALINGGA, SERAYUNEWS – Nama Mayjen Sungkono mungkin paling sering Anda dengar sebagai jalan protokol utama di pusat Kota Surabaya.
Namun, di balik nama jalan tersebut, tersimpan rekam jejak seorang putra asli Purbalingga yang memegang peranan krusial dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Kota Surabaya, Sungkono tidak hanya merancang pertahanan kota saat meletusnya Pertempuran 10 November 1945, tetapi juga mempelopori taktik pelucutan senjata tentara Jepang dan penumpasan berbagai ancaman kedaulatan negara.
Sungkono lahir di Purbalingga Kidul, Jawa Tengah, pada 1 Januari 1911. Tumbuh dari keluarga sederhana sebagai putra pasangan Tawireja, seorang penjahit, dan Rinten, ia mengawali pendidikannya di Sekolah Ongko Loro Muhammadiyah Purbalingga sebelum melanjutkan ke HIS dan MULO Surabaya.
Cita-citanya di bidang bahari membawanya menempuh pendidikan teknik perkapalan di Kweekschool voor Inlandsche Schepelingen (KIS) Makassar. Selepas lulus, ia bekerja sebagai mekanik kapal perang di instansi Angkatan Laut Belanda.
Berjiwa kritis, Sungkono sempat memimpin aksi mogok kerja massal menuntut kesetaraan upah bagi awak kapal pribumi yang membuatnya ditahan dan diberhentikan. Pada masa pendudukan Jepang, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Banyumas hingga diangkat menjadi Chodancho (komandan kompi) di Surabaya.
Pasca-proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sungkono memimpin pemuda serta mantan prajurit PETA, Heiho, dan KNIL untuk merebut kekuasaan serta persenjataan dari tangan tentara Jepang.
Diangkat sebagai Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Kota Surabaya, ia melancarkan taktik diplomasi yang cerdik bersama pimpinan militer Jepang, Iwabe.
Agar persenjataan tidak disita oleh pihak Sekutu, penyerahan belasan ribu senapan, pistol, meriam, hingga kendaraan tempur dilakukan melalui sandiwara perampasan.
Taktik ini memberi alasan bagi militer Jepang di hadapan Sekutu bahwa senjata mereka telah direbut oleh pemuda Indonesia, sekaligus memperkuat amunisi pejuang Surabaya secara signifikan.
Ketegangan di Surabaya memuncak setelah pemimpin pasukan Sekutu, AWS Mallaby, tewas dalam insiden bersenjata. Sebagai komandan BKR Kota Surabaya sekaligus anggota Kontak Biro, Kolonel Sungkono mengambil tanggung jawab penuh atas pertahanan seluruh kota.
Saat menghadapi ultimatum Sekutu, Sungkono memimpin pasukan pejuang dengan tenang, berani, dan penuh percaya diri meski harus berhadapan dengan persenjataan modern Inggris.
Kepemimpinan militernya yang tangguh di tengah krisis menjadikan nama Mayjen Sungkono diabadikan sebagai pahlawan besar dan nama jalan protokol utama di Kota Surabaya.