
SERAYUNEWS-Wilayah Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara masih menyimpan sejumlah bangunan kuno peninggalan kolonial. Tidak hanya sebagai bukti sejarah, bangunan yang ada di wilayah tersebut juga menarik para pemerhati sejarah dan tim ahli cagar budaya.
Melihat hal tersebut, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara kembali melakukan penelitian dan kajian lapangan terhadap bangunan tersebut. Meski sudah beberapa kali melakukan kajian. Tim ini selalu mendapatkan hal baru saat melakukan kajian terhadap bangan kolonial tersebut.
TACB yang melakukan kajian di beberapa bangunan kolonial tersebut mengaku sangat puas. Sebab, mereka menemukan keunikan yang sangat tinggi terhadap bangunan yang ada. Termasuk saat mengunjungi dan mengkaji bangunan aula SDN 1 Klampok, gedung BLK, dan Polsek Klampok.
Ketua TACB Banjarnegara Heni Purwono mengatakan, tiga bangunan kolonial di wilayah tersebut masih saling terkait dan saling melengkapi dengan pembangunan pabrik gula di wilayah tersebut yang dibangun tahun 1918.
“Bangunan ini saling melengkapi, pusatnya tentu saja pabrik gula. Sayangnya kondisi bangunan pabrik sudah memprihatinkan, bahkan kondisi bangunan saat ini tinggal sekitar 20 persen saja,” katanya, Minggu (16/2/2025).
Meski begitu, generasi saat ini masih bisa melihat kejayaan bangunan tersebut. Sebab, kondisi bangunan kantor dan rumah dinas era pabrik gula tersebut masih berdiri kokoh dan terawat. Saat ini bangunan digunakan sebagai kantor BLK yang betrada di selatan lapangan.
Menurutnya, keberadaan aula SDN 1 Klampok ini juga dulunya merupakan bangunan Europeschee School Klampok, atau sekolah khusus untuk peranakan Eropa yang bekerja atau pegawai dari Pabrik Gula. Sementara bangunan yang saat ini menjadi kantor Polsek Klampok dulunya adalah Holland Inlandshe Scholl atau sekolah untuk anak-anak pribumi.
“Ini sangat logis, karena SD Klampok kecil dan hanya sekitar 3 ruang namun memiliki aula, mungkin siswanya sedikit. Sedangkan Polsek Klampok ruangannya sangat banyak, karena dulunya sekolah untuk pribumi,” ujarnya.
Dikatakannya, dari sisi arsitektural, aula SDN 1 Klampok memiliki keunikan tersendiri. Hal itu dapat dilihat dari seluruh bangunan menggunakan rangka kayu jati. Bahkan, kayu seperti itu saat ini sudah tidak ada lagi di Banjarnegara. Bangunan yang yang berukuran lebih dari 12 meter persegi ini ternyata tanpa ada tiang yang berdiri di tengah sekalipun.
“Tiga bangunan yang kami kaji semua memiliki keunikan. Rangka yang sangat kokoh dari kayu jati di aula SDN 1 Klampok, bangunan berbentuk oval di BLK, dan bangunan leter U di Polsek. Semuanya layak ditetapkan sebagai cagar budaya,” katanya.
Keberadaan bangunan kolonial yang masih terawat dan dimanfaatkan di wilayah Kecamatan Purwareja Klampok ini memang selalu menjadi rujukan para sejarawan ataupun tim peduli cagar budaya. Bahkan tidak sedikit masyarakat baik pelajar, mahasiswa, akademisi yang sengaja datang untuk melihat narasi sejarah tempat tersebut, sehingga keberadaan cagar bidaya ini harus dirawat dengan baik.