SERAYUNEWS – Baru-baru ini, media sosial diramaikan oleh adanya kasus yang menimpa seorang perempuan yang dikenal sebagai “Bu Guru Salsa.”
Namanya mencuat setelah video pribadinya beredar luas di Internet. Merasa menjadi pusat perhatian, mantan guru tersebut kemudian memberikan klarifikasi melalui akun media sosialnya yaitu TikTok.
Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban penipuan oleh seseorang yang awalnya ia percaya.
Ia juga mengaku bahwa percakapan pribadinya telah disebarluaskan dan diperjualbelikan tanpa izin, sehingga ia kehilangan kendali atas situasi tersebut.
“Saya tertipu oleh seseorang di media sosial dan chat pribadi saya disebarluaskan dan diperjualbelikan. Saya tidak bisa mengontrol hal itu,” katanya dalam TikTok @sissalsaa yang diunggah Rabu, 26 Februari 2025.
Kisah yang menimpa Bu Guru Salsa memicu dugaan bahwa ia menjadi korban love scamming, sebuah modus penipuan berbasis hubungan asmara yang kerap menjebak banyak orang.
Lantas, bagaimana modus ini bekerja, dan mengapa korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang ditipu?
Menurut Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri, love scamming merupakan bentuk kejahatan di mana pelaku memanfaatkan hubungan asmara sebagai kedok untuk menipu korban.
Dalam skema ini, pelaku membangun kepercayaan dengan berpura-pura mencintai korbannya, lalu secara perlahan mulai meminta sejumlah uang dengan berbagai alasan.
Pepatah “cinta itu buta” seolah menjadi kenyataan dalam kasus-kasus seperti ini.
Banyak korban yang begitu terbuai dengan kata-kata romantis hingga rela memberikan uang atau barang berharga kepada pelaku tanpa curiga.
Mereka yang sudah jatuh cinta cenderung mengabaikan tanda-tanda bahaya dan terus percaya bahwa pasangan mereka benar-benar tulus.
Love scamming bukan sekadar penipuan biasa, melainkan bentuk rekayasa sosial yang sangat terencana.
Pelaku biasanya menargetkan individu yang mencari hubungan serius, baik melalui media sosial maupun aplikasi kencan online.
Dengan komunikasi yang intens serta penuh perhatian, maka pelaku membangun ilusi hubungan yang mendalam.
Setelah kepercayaan korban sepenuhnya didapatkan, mereka mulai mengajukan permintaan yang tampak tak masuk akal.
Misalnya biaya akomodasi untuk bertemu, dana untuk bisnis hingga meminta video-video tak senonoh.
Penipuan dengan modus romansa bukanlah hal baru di Indonesia.
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Ivan Yustiavandana, mengungkapkan bahwa transaksi mencurigakan yang berkaitan dengan kasus love scamming telah mencapai miliaran rupiah.
Bahkan, jenis kejahatan ini termasuk salah satu yang paling sering dilaporkan ke PPATK.
Skema yang digunakan pelaku cenderung serupa. Mereka akan memperkenalkan diri sebagai sosok yang menarik, sering kali mengaku sebagai pengusaha sukses atau profesional di luar negeri.
Setelah korban terpikat, mereka mulai meminta bantuan finansial dengan berbagai dalih, seperti biaya tiket pesawat, investasi bisnis, atau bantuan dalam situasi darurat.
Namun, begitu mendapatkan uang yang mereka inginkan, para pelaku biasanya langsung menghilang tanpa jejak.
Pihak kepolisian pun telah menindaklanjuti berbagai laporan terkait love scamming.
Misalnya, Polda Metro Jaya pernah menangkap dua tersangka dengan inisial CS dan UT atas kasus penipuan dengan modus ini.
Korban yang melaporkan mengalami kerugian hingga Rp2,4 miliar akibat bujuk rayu para pelaku.
Kedua tersangka dijerat dengan beberapa pasal, di antaranya Pasal 28 Ayat 1 Juncto Pasal 45 Ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta Pasal 3, 4, dan 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Ancaman hukuman bagi pelaku love scamming pun tidak main-main, yakni hingga 20 tahun penjara.
Kabar lain soal Bu Guru Salsa disebut-sebut bahwa dirinya dekat dengan sosok pria yang dianggap kekasihnya.
Pria ini disebut-sebut mengaku berasal dari Kalimantan dan kerap menjanjikan kehidupan yang lebih layak untuk Salsa.
Dengan iming-iming masa depan yang lebih baik, Salsa pun mempercayai pria tersebut sepenuhnya.
Namun, kepercayaan ini justru menjadi awal dari musibah. Pria tersebut diduga menggunakan berbagai bujuk rayu untuk membangun hubungan emosional dengan Salsa, hingga akhirnya meminta sesuatu yang bersifat pribadi.
Salsa, yang saat itu tidak menyadari modus yang sedang menjeratnya, menuruti permintaan tersebut.
Sayangnya, video yang ia buat kemudian disalahgunakan dan diperjualbelikan di dunia maya tanpa sepengetahuannya.
Dalam pernyataannya, jelas terdengar bahwa Salsa menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kendali atas penyebarannya.
Ia pada akhirnya juga meminta agar publik tidak menyerang pihak lain, termasuk keluarganya dan orang-orang terdekatnya, atas kejadian yang menimpanya.
“Sekali lagi saya minta tolong dan saya memohon jangan menyerang keluarga saya, teman-teman saya dan instansi yang berkaitan dengan saya sebelumnya,” katanya.
“Saya akan bertanggung jawab hal ini secara pribadi,” pungkasnya.
Dengan begitu, saat ini tak warganet yang menduga bahwa Salsa tergolong sebagai korban love scamming.***