
Cilacap, serayunews.com
Juru Kunci Desa Cijeruk, Abah Karta menjelaskan, acara ritual diawali dengan berdoa bersama di lapangan Desa Cijeruk. Kemudian dilanjutkan dengan mengarak bebegig atau orang-orangan sawah dan ogoh-ogoh, simbolik hama tikus dan babi hutan.
“Bebegig diarak dari lapangan desa menuju Muara Sungai Banekong. Setelah tiba di muara sungai, lantas dilakukan doa oleh juru kunci dan kiai sekitar,” katanya kepada serayunews.com, Senin (26/12/2022).
Setelah itu, kata dia, ritual dilanjutkan dengan melarung bebegig sawah tersebut ke sungai, serta membakar ogoh-ogoh berupa tikus dan babi hutan di muara. Selanjutnya, acaranya adalah makan bersama dari bekal yang dibawa oleh para petani.
“Filosofinya ngarak bebegig sawah ke muara sungai sambil bikin bunyi-bunyian dari kentongan, sebagai simbol ngusir hama padi seperti tikus dan babi yang selama ini bisa menghambat pekerjaan petani,” ujarnya.
Abah Karta menceritakan, ritual Ritus Tundan Banekong sendiri sudah ada sejak masa Sriwijaya dan masih berlangsung hingga saat ini. Diharapkan, ritual tersebut dapat dilestarikan oleh generasi penerus, mengingat menyatu dengan alam merupakan suatu kewajiban manusia.