
PURWOKERTO, SERAYUNEWS– Nama Soepardjo Rustam menjadi salah satu tokoh penting asal Banyumas yang memiliki perjalanan hidup luar biasa. Lahir di Sokaraja, Kabupaten Banyumas, pada 12 Agustus 1926, Soepardjo mengawali pengabdiannya sebagai pejuang kemerdekaan dan pengawal setia Panglima Besar Jenderal Soedirman saat perang gerilya melawan Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, kariernya terus menanjak. Ia dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis, mulai dari perwira TNI, diplomat, Gubernur Jawa Tengah, hingga Menteri Dalam Negeri dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Perjalanan hidup Soepardjo Rustam menjadi gambaran transformasi seorang pejuang di medan perang menjadi tokoh penting dalam pemerintahan Indonesia.
Salah satu kisah yang paling melekat pada sosok Soepardjo Rustam terjadi ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada penghujung 1948.
Saat itu, Jenderal Soedirman tetap memilih memimpin perang gerilya meski menderita tuberkulosis. Pasukan bergerak meninggalkan Yogyakarta menuju berbagai wilayah di Jawa dengan berjalan kaki melewati hutan, pegunungan, dan medan yang berat.
Di tengah perjalanan itulah Soepardjo, yang akrab disapa Pardjo, menjadi salah satu pengawal yang selalu berada di dekat sang panglima.
Dalam kondisi logistik yang terbatas, Pardjo bahkan rela mempertaruhkan nyawanya dengan keluar seorang diri dari persembunyian untuk mencari bahan makanan bagi rombongan gerilya.
Ia menukarkan pakaian bekas kepada warga demi memperoleh bahan pangan, sementara prajurit lainnya tetap menjaga Jenderal Soedirman yang kondisinya semakin lemah.
Keberanian tersebut berhasil menyelamatkan kebutuhan logistik pasukan. Namun, perjuangan panjang itu tidak mampu menyelamatkan Jenderal Soedirman yang wafat pada 29 Januari 1950 akibat penyakit tuberkulosis.
Soepardjo Rustam berasal dari wilayah bekas Karesidenan Banyumas, daerah yang sama dengan Jenderal Soedirman. Kedekatan latar belakang itu membuatnya sangat mengagumi sosok panglima besar tersebut.
Sebelum Indonesia merdeka, ia bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer bentukan Jepang. Di sana, Soepardjo dipercaya sebagai Daidancho, jabatan yang setara dengan komandan batalyon berpangkat kapten.
Usai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Soepardjo memilih tetap mengabdi kepada Tentara Republik Indonesia dan ikut mendukung strategi perang gerilya yang dipimpin Jenderal Soedirman dalam menghadapi Belanda.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949, Soepardjo melanjutkan kariernya di TNI Angkatan Darat.
Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Atase Militer Republik Indonesia di Belanda pada 1952. Sekembalinya ke Tanah Air, ia bertugas sebagai Perwira Staf Markas Besar Angkatan Darat serta memimpin Sekolah Infanteri di Curup, Sumatera Selatan.
Kariernya kemudian berkembang ke bidang diplomasi. Sejumlah jabatan penting yang pernah diembannya antara lain:
Rangkaian jabatan tersebut menunjukkan kapasitas Soepardjo Rustam tidak hanya di bidang militer, tetapi juga hubungan internasional.
Memasuki masa pensiun dari militer, Soepardjo Rustam dipercaya menjadi Gubernur Jawa Tengah pada 1974.
Selama hampir delapan tahun memimpin provinsi tersebut, ia dikenal mendorong pembangunan di berbagai sektor, terutama infrastruktur, administrasi pemerintahan, dan peningkatan pelayanan publik yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional pada masa itu.
Pengalaman memimpin Jawa Tengah kemudian membawanya ke tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.
Presiden Soeharto menunjuk Soepardjo Rustam sebagai Menteri Dalam Negeri pada 19 Maret 1983. Ia menjabat hingga 23 Maret 1988.
Selama memimpin Kementerian Dalam Negeri, Soepardjo berperan dalam pembinaan pemerintahan daerah, penyelenggaraan administrasi pemerintahan, serta penguatan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah sesuai kebijakan pemerintahan saat itu.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Mendagri, Soeharto kembali mempercayainya menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) mulai 1988 hingga 17 Maret 1993.
Jabatan tersebut menjadi puncak sekaligus akhir perjalanan panjang pengabdiannya di pemerintahan.
Soepardjo Rustam wafat di Jakarta pada 11 April 1993 dalam usia 66 tahun, hanya beberapa minggu setelah mengakhiri tugasnya sebagai Menko Kesra.
Hingga kini, namanya dikenang sebagai salah satu putra terbaik Banyumas yang memiliki rekam jejak pengabdian lengkap, mulai dari pejuang kemerdekaan, pengawal setia Jenderal Soedirman, perwira TNI, diplomat, Gubernur Jawa Tengah, hingga dua kali menjabat sebagai menteri.
Kisah hidup Soepardjo Rustam menjadi bukti bahwa semangat pengabdian kepada bangsa dapat diwujudkan melalui berbagai peran, baik di medan perjuangan maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Sosoknya juga tetap menjadi bagian penting dalam kajian sejarah perjuangan Jenderal Soedirman serta perkembangan pemerintahan Indonesia pada era Orde Baru.