
SERAYUNEWS – Fenomena lulusan sarjana yang beralih profesi atau “banting setir” semakin marak terjadi di Indonesia.
Kondisi ini mencerminkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara latar belakang pendidikan dengan peluang kerja yang tersedia di pasar.
Tidak semua gelar pendidikan berujung pada pekerjaan yang linear dengan bidang studi. Di tengah tekanan ekonomi yang dinamis, banyak lulusan justru menempuh jalur karier yang sebelumnya tidak pernah mereka rencanakan saat di bangku kuliah.
Perubahan arah karier ini bukan semata-mata karena kehilangan tujuan. Sebaliknya, hal ini merupakan bentuk adaptasi terhadap tuntutan hidup yang mendesak.
Banyak sarjana kini kesulitan menembus sektor formal yang sesuai dengan ilmu mereka. Lapangan kerja formal dinilai belum mampu menyerap jutaan lulusan baru setiap tahunnya.
Akibatnya, sektor informal atau bidang yang tidak relevan menjadi pilihan rasional demi bertahan hidup.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), potret keselarasan pendidikan di Indonesia memang cukup menantang:
64,64 persen: Pekerja yang bekerja selaras dengan tingkat pendidikannya.
35,36 persen: Tenaga kerja yang bekerja tidak sesuai tingkat pendidikan (mismatch).
22,36 persen: Pekerja dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi dari syarat pekerjaannya (over-educated).
Angka-angka di atas menggambarkan adanya kesenjangan nyata antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri saat ini.
Caption Foto: Ilustrasi lulusan sarjana yang sedang mencari peluang kerja di tengah ketatnya persaingan pasar kerja formal di Indonesia.
Bagi sebagian lulusan, passion adalah kemewahan yang tidak selalu bisa diwujudkan segera. Kebutuhan ekonomi sering kali memaksa mereka mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia.
Kondisi ini sangat terasa bagi lulusan di bidang pendidikan atau sosial. Harapan untuk mendapatkan penghasilan layak kerap berbenturan dengan realitas gaji di lapangan yang berada di bawah ekspektasi awal.
Karena tidak semua orang memiliki privilese untuk menunggu pekerjaan ideal, tekanan kebutuhan hidup harian menjadi motor utama dalam mengambil keputusan beralih profesi ke bidang yang lebih menjanjikan secara finansial.
Ketidakseimbangan pasar kerja juga terlihat dari proporsi tenaga kerja. Saat ini, sektor informal masih mendominasi struktur ketenagakerjaan kita.
Sektor Formal: Hanya menyerap sekitar 40 persen tenaga kerja.
Sektor Informal: Menampung sekitar 60 persen tenaga kerja, termasuk pekerjaan tidak tetap dan ekonomi gig (freelance).
Keterbatasan di sektor formal mendorong sarjana untuk lebih fleksibel. Munculnya berbagai platform digital juga membuka peluang baru di luar jalur konvensional yang sering kali menawarkan penghasilan lebih kompetitif dibanding menjadi pegawai tetap di bidang yang sesuai jurusan.
Fenomena ini adalah alarm bagi pemerintah dan lembaga pendidikan. Diperlukan penyesuaian kurikulum yang lebih responsif terhadap kebutuhan industri 4.0 dan 5.0.
Beberapa langkah strategis yang bisa diambil antara lain:
Penguatan Keterampilan Praktis: Mengedepankan hard skill dan soft skill yang dibutuhkan dunia kerja nyata.
Program Magang Berkualitas: Mempererat kolaborasi antara perguruan tinggi dan perusahaan agar mahasiswa mengenal dunia kerja lebih awal.
Literasi Karier: Memberikan pemahaman kepada mahasiswa bahwa karier masa kini bersifat cair dan tidak selalu linear.
Secara keseluruhan, perubahan arah karier lulusan sarjana adalah cerminan dinamika ekonomi.
Meski terlihat sebagai ketidaksesuaian, fleksibilitas ini juga menunjukkan bahwa lulusan Indonesia memiliki daya tahan dan kemampuan adaptasi yang tinggi di berbagai bidang.