
SERAYUNEWS – Di tengah hiruk pikuk Pasar Wage, Purwokerto, di antara beragam aroma serta bising langkah kaki, sosok Rohiati (53) tampak bersahaja. Siapa sangka, dari lembaran Rp5.000 yang ia sisihkan dengan telaten setiap hari, bisa membawanya ke tanah suci.
Ini adalah buah dari kesabaran dan dan keuletan penjual peyek yang membuktikan bahwa niat tulus tak pernah kalah oleh keterbatasan ekonomi.
Setiap pagi, tepat pukul 05.00 WIB, saat embun masih betah menyelimuti kota Purwokerto, Rohiati sudah memulai aktivitasnya. Ia menjajakan peyek buatannya yang terkenal gurih hingga ke meja-meja kantor pemerintahan. Namun, misinya bukan sekadar mencari laba.
Sejak tahun 2013, sebuah janji ia tanam dalam hati. Bisa berangkat ke tanah suci, menunaikan ibadah haji bersama suami. Sejak saat itu, tak pernah berkecil hati, seberapa pun hasil dagangnya, iya selalu menyisihkan seberapa.
Niat itu terbesit ketika di paguyuban pasar ada tawaran menabung untuk wisata ke Bali, namun Rohiati memilih jalan yang berbeda.
“Daripada untuk jalan-jalan, lebih baik buat haji saja sama suami. Jadi, saya mulai nabung Rp5.000 tiap hari,” katanya, Selasa (05/05/2026).
Bagi sebagian orang, Rp5.000 mungkin hanya cukup untuk membayar parkir. Namun bagi Rohiati, itu adalah material untuk membangun jembatan menuju Tanah Suci.
Setiap hari, Rohiati tak pernah absen untuk menyisihkan Rp5.000. Dan setiap bulan, ketika ada laba yang lumayan ditabung di bank Rp1 juta.
Tetapi, ambisinya itu tidak mengesampingkan keperluan sehari-hari keluarganya, yang tetep menjadi prioritas. “Alhamdulillah tercukupi, anak juga sekolah,” ucapnya.
Banyak rekan sesama pedagang yang mulanya tak percaya. Bagaimana mungkin seorang penjual peyek dengan waktu dagang singkat (pukul 05.00–09.00 WIB) bisa mengumpulkan biaya haji yang tak sedikit? Namun, kerja keras tidak pernah berbohong. Peyeknya yang selalu “ludes” adalah saksi bisu perjuangannya selama 13 tahun terakhir.
Tahun 2026 menjadi tahun yang paling dinanti. Rohiati beserta suaminya, Agus Waulyo (58), akhirnya masuk dalam daftar jemaah calon haji yang akan berangkat.
“Dijadwalkan tanggal 14 Mei nanti,” ucapnya.
Tak ada persiapan mewah yang ia pamerkan. Di sela kesibukannya memenuhi pesanan peyek yang masih mengalir, ia hanya melatih fisik dengan berjalan kaki ringan dan memperkuat batin.
“Persiapannya cuma iman dan niat yang ikhlas. Senang sekali, rasanya hati ini sudah di sana,” kata dia.
Kisah Rohiati adalah pengingat bagi kita semua, bahwa Baitullah tidak hanya memanggil mereka yang mampu secara materi, tetapi mereka yang mampu menjaga niat dalam setiap keping rupiah yang dikumpulkan dengan keringat dan doa.