
SERAYUNEWS – Apabila Anda sedang mencari peta penyebaran Hantavirus, Anda bisa menyimak artikel ini sampai akhir.
Pasalnya, wabah hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah virus tersebut terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina.
Sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi tersebut, sementara sejumlah penumpang dari berbagai negara masih menjalani pemantauan kesehatan ketat.
Kasus ini memicu kewaspadaan global karena hantavirus dikenal sebagai penyakit zoonosis yang memiliki tingkat fatalitas tinggi. Di Indonesia sendiri, hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru.
Namun, keberadaannya kerap luput dari perhatian karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti demam berdarah, tifus, atau leptospirosis.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran hantavirus varian Andes yang ditemukan pada kasus kapal pesiar tersebut.
“Indonesia memiliki panduan skrining untuk hantavirus, termasuk dalam bentuk rapid test seperti Covid-19 atau reagen yang digunakan di mesin PCR,” ujar Budi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit yang selama ini cenderung berada “di bawah radar”.
Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian internasional karena melibatkan penumpang dari berbagai negara.
Kapal tersebut memulai perjalanan dari Pelabuhan Ushuaia, Argentina, pada 1 April dan dijadwalkan tiba di Kepulauan Canary, Spanyol, pada 10 Mei.
Sekitar 150 penumpang dan awak kapal dari 28 negara berada di dalam kapal itu.
Setelah virus terdeteksi, berbagai negara langsung melakukan pelacakan terhadap penumpang yang sempat turun atau melakukan kontak dengan pasien.
Operator kapal menyebut seluruh penumpang yang turun di St Helena, Samudra Atlantik Selatan, telah dihubungi. Mereka berasal dari sedikitnya 12 negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat.
Dalam perkembangan terbaru, otoritas kesehatan Singapura juga mengonfirmasi terdapat dua warga negaranya yang menjadi suspek hantavirus setelah ikut berada di kapal tersebut.
Keduanya kini menjalani isolasi di National Centre for Infectious Diseases (NCID) sambil menunggu hasil laboratorium.
Sementara itu, WHO menyebut lima dari delapan kasus suspek telah terkonfirmasi positif hantavirus.
Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk pasangan lansia asal Belanda dan seorang perempuan asal Jerman.
Meski ramai diperbincangkan setelah muncul kasus di kapal pesiar internasional, hantavirus sebenarnya sudah lama ditemukan di Indonesia. Penelitian menunjukkan virus ini telah ada sejak dekade 1980-an.
Epidemiolog Masdalina Pane mengungkapkan bahwa dalam tiga tahun terakhir terdapat lebih dari 250 kasus suspek hantavirus di Indonesia. Namun, hanya 23 kasus yang dinyatakan positif.
Jumlah tersebut diduga belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Banyak kasus kemungkinan tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai penyakit infeksi lain yang lebih umum ditemukan di Indonesia.
Fenomena ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yakni kasus yang terlihat hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya.
Studi di Indonesia bahkan menemukan seroprevalensi hantavirus pada manusia mencapai sekitar 11,6 persen.
Artinya, setidaknya satu dari 10 orang pernah terpapar virus tersebut, meski tidak selalu mengalami gejala berat.
Hantavirus ditemukan tidak hanya di daerah terpencil, tetapi juga di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi. Penelitian menyebut sejumlah wilayah seperti:
menjadi lokasi ditemukannya kasus atau paparan hantavirus.
Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi dan sanitasi lingkungan yang buruk berperan besar dalam meningkatkan risiko penyebaran virus.
Tikus sebagai reservoir utama hantavirus sangat mudah berkembang di kawasan padat penduduk, lingkungan kumuh, serta daerah dengan pengelolaan sampah yang kurang optimal.
Berbeda dengan dengue yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui partikel udara yang terkontaminasi urin, saliva, atau kotoran tikus.
Virus dapat masuk ke tubuh manusia saat seseorang:
Karena penularannya melalui udara yang tercemar, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular hantavirus.
Aktivitas sederhana seperti menyapu gudang kotor, membersihkan rumah kosong, atau membongkar area penuh sarang tikus tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko infeksi.
Hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya.
1. HFRS atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome
Jenis ini banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Penyakit menyerang pembuluh darah dan ginjal dengan gejala:
2. HPS atau Hantavirus Pulmonary Syndrome
Jenis ini lebih sering ditemukan di Amerika. HPS menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan gagal napas akut.
Gejalanya meliputi:
Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) hantavirus bahkan bisa mencapai 50 persen pada tipe tertentu.
Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang dibawa tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus.
Indonesia memiliki kombinasi faktor risiko yang membuat hantavirus berpotensi meningkat, antara lain:
Perubahan iklim juga diyakini memengaruhi peningkatan populasi rodensia sehingga memperbesar kemungkinan penularan.
Karena itu, para ahli menilai hantavirus bukan sekadar penyakit langka, tetapi ancaman laten yang perlu diantisipasi secara serius.***