
SERAYUNEWS- Suasana Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang dipenuhi gema takbir, kebersamaan keluarga, serta tradisi menikmati hidangan daging kurban kini mulai berlalu.
Setelah umat Islam menjalani Hari Raya Idul Adha pada 10 Dzulhijjah bertepatan 27 Mei 2026 dan tiga Hari Tasyrik pada 11, 12, serta 13 Dzulhijjah atau 28, 29 dan 30 Mei 2026, saat ini umat Muslim kembali diperbolehkan menjalankan puasa sunnah.
Momen berakhirnya Hari Tasyrik menjadi kesempatan baru bagi umat Islam untuk menjaga semangat ibadah dan melanjutkan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sejumlah puasa sunnah pun kembali bisa diamalkan mulai tanggal 14 Dzulhijjah.
Hari Tasyrik sendiri dikenal sebagai hari makan, minum, dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT. Karena itu, Islam melarang umat Muslim berpuasa pada hari-hari tersebut.
Rasulullah SAW bersabda: “Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR Muslim)
Larangan berpuasa pada Hari Tasyrik menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah SWT, terutama setelah umat Muslim melaksanakan ibadah kurban dan berbagai rangkaian ibadah Idul Adha.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasan selengkapnya:
Hari Tasyrik merupakan tiga hari setelah Idul Adha yang jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada masa tersebut, umat Islam masih diperbolehkan menyembelih hewan kurban hingga matahari terbenam tanggal 13 Dzulhijjah.
Selain menjadi bagian penting dari rangkaian Idul Adha, Hari Tasyrik juga memiliki kaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji. Jamaah haji di Mina melaksanakan lempar jumrah pada hari-hari tersebut.
Secara bahasa, kata “tasyrik” berasal dari tradisi menjemur daging kurban di bawah sinar matahari agar lebih tahan lama. Tradisi itu dilakukan masyarakat Arab pada masa lampau ketika belum tersedia teknologi penyimpanan makanan modern.
Karena itulah, hari-hari setelah Idul Adha dikenal dengan istilah Hari Tasyrik.
Hari Tasyrik termasuk hari yang dimuliakan dalam Islam. Selain menjadi waktu menikmati nikmat Allah SWT, hari-hari tersebut juga dianjurkan untuk memperbanyak zikir dan rasa syukur.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 203: “Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan Hari Tasyrik.
Karena itu, umat Muslim dianjurkan memperbanyak:
1. Takbir
2. Tahmid
3. Tasbih
4. Tahlil
5. Doa dan zikir lainnya
Takbir Hari Tasyrik biasanya dikumandangkan setelah salat fardu hingga tanggal 13 Dzulhijjah.
Selain itu, Hari Tasyrik juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan sosial melalui pembagian daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan.
Setelah tanggal 13 Dzulhijjah berlalu, umat Islam kembali diperbolehkan melaksanakan berbagai puasa sunnah. Berikut beberapa puasa yang dianjurkan:
1. Puasa Ayyamul Bidh
Puasa Ayyamul Bidh merupakan puasa sunnah yang dilakukan setiap pertengahan bulan Hijriah, tepatnya tanggal 13, 14, dan 15.
Namun khusus bulan Dzulhijjah, pelaksanaannya mengalami perubahan karena tanggal 13 masih termasuk Hari Tasyrik yang diharamkan untuk berpuasa.
Karena itu, Puasa Ayyamul Bidh pada bulan Dzulhijjah biasanya dikerjakan pada tanggal:
– 14 Dzulhijjah
– 15 Dzulhijjah
– 16 Dzulhijjah
Puasa ini memiliki keutamaan besar karena pahalanya disebut setara dengan puasa sepanjang tahun.
Selain itu, Ayyamul Bidh menjadi salah satu cara menjaga semangat ibadah setelah momen Idul Adha berakhir.
2. Puasa Senin dan Kamis
Puasa Senin dan Kamis menjadi salah satu puasa sunnah paling populer di kalangan umat Muslim. Ibadah ini dapat kembali dikerjakan setelah Hari Tasyrik usai.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa amal manusia diperlihatkan kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis. Karena itu, beliau senang ketika amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.
Puasa ini dinilai ringan namun memiliki keutamaan besar karena membantu menjaga konsistensi ibadah mingguan.
Selain meningkatkan spiritualitas, puasa Senin dan Kamis juga dipercaya memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh.
3. Puasa Daud
Puasa Daud dikenal sebagai puasa sunnah terbaik. Polanya dilakukan secara bergantian, yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak.
Rasulullah SAW menyebut Puasa Daud sebagai puasa yang paling dicintai Allah SWT.
Namun, puasa ini membutuhkan kondisi fisik yang kuat dan disiplin tinggi karena dilakukan secara rutin dalam jangka panjang.
Bagi umat Muslim yang ingin meningkatkan kualitas ibadah dan melatih pengendalian diri, Puasa Daud dapat menjadi pilihan setelah Hari Tasyrik berakhir.
Melanjutkan ibadah puasa setelah Idul Adha memiliki banyak manfaat, baik dari sisi spiritual maupun kesehatan.
1. Menjaga Momentum Spiritual
Semangat ibadah yang telah dibangun selama bulan Dzulhijjah dapat terus terjaga melalui puasa sunnah.
Dengan begitu, umat Muslim tidak hanya bersemangat beribadah saat hari besar Islam saja, tetapi juga konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
2. Melatih Kesabaran dan Pengendalian Diri
Puasa mengajarkan manusia mengendalikan hawa nafsu, menjaga emosi, dan meningkatkan kesabaran.
Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam kehidupan sosial maupun pribadi.
3. Membantu Tubuh Beristirahat
Setelah beberapa hari menikmati berbagai hidangan daging kurban, puasa dapat membantu sistem pencernaan beristirahat.
Karena itu, sebagian orang juga memanfaatkan puasa sunnah sebagai sarana detoksifikasi alami tubuh.
4. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Puasa merupakan ibadah istimewa yang memiliki pahala besar di sisi Allah SWT.
Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa adalah ibadah khusus antara hamba dan Rabb-nya.
Selain puasa sunnah, umat Muslim juga dianjurkan terus memperbanyak ibadah setelah Idul Adha dan Hari Tasyrik.
Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Membaca Al-Qur’an
2. Memperbanyak sedekah
3. Menjaga salat berjamaah
4. Memperbanyak zikir dan doa
5. Membantu sesama
Momentum setelah Idul Adha menjadi waktu tepat untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan Dzulhijjah.
Hari Tasyrik mengajarkan banyak nilai penting dalam kehidupan umat Islam.
1. Mengajarkan Rasa Syukur
Hari Tasyrik menjadi pengingat agar manusia selalu bersyukur atas nikmat makanan, kesehatan, dan kesempatan beribadah.
2. Memperkuat Kebersamaan Sosial
Tradisi berbagi daging kurban dan makan bersama menciptakan hubungan sosial yang lebih erat di tengah masyarakat.
3. Menghidupkan Zikir kepada Allah
Hari Tasyrik juga mengingatkan umat Muslim agar selalu mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan.
4. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW
Menjalankan amalan-amalan Hari Tasyrik termasuk bagian dari mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
1. Kapan Hari Tasyrik dimulai?
Hari Tasyrik dimulai pada tanggal 11 Dzulhijjah dan berakhir pada 13 Dzulhijjah.
2. Apakah puasa pada Hari Tasyrik diperbolehkan?
Tidak. Puasa pada Hari Tasyrik hukumnya haram bagi umat Muslim, kecuali dalam kondisi tertentu bagi jamaah haji.
3. Kapan boleh mulai puasa sunnah lagi?
Puasa sunnah dapat kembali dilakukan mulai tanggal 14 Dzulhijjah.
4. Apa puasa sunnah yang dianjurkan setelah Hari Tasyrik?
Beberapa puasa sunnah yang dianjurkan antara lain Puasa Ayyamul Bidh, Puasa Senin Kamis, dan Puasa Daud.
Berakhirnya Hari Tasyrik bukan berarti semangat ibadah ikut berakhir. Justru, momentum setelah Idul Adha menjadi waktu terbaik untuk melanjutkan amal saleh melalui puasa sunnah dan berbagai ibadah lainnya.
Dengan menjaga konsistensi ibadah, memperbanyak zikir, serta memperkuat kepedulian sosial, umat Muslim dapat terus meningkatkan ketakwaan dan meraih keberkahan dari Allah SWT.