
SERAYUNEWS – Polemik panjang klub sepak bola kebanggaan masyarakat Cilacap, PSCS, kembali memuncak. Klub berjuluk Hiu Selatan tersebut dipastikan tidak berpartisipasi dalam Liga 4 Jawa Tengah musim 2025/2026 ini.
Kepastian itu menyisakan kekecewaan mendalam bagi ribuan pendukung setianya Laskar Nusakambangan yang tak pernah berhenti menemani perjalanan klub, baik saat berada di puncak kejayaan Divisi Utama (Liga 2) hingga kini harus menelan pil pahit berada di kasta terbawah kompetisi PSSI.
Drama pelik ini bukan muncul tiba-tiba. Gejolak internal sudah mencuat sejak beberapa waktu lalu, ditandai dengan mundurnya Direktur Utama klub, masalah pemain yang dikabarkan terlantar, hingga proses akuisisi yang berjalan tanpa kejelasan.
Bahkan upaya penyelamatan lewat rencana akuisisi oleh Tim BBR dan kelompok suporter Laskar sempat menumbuhkan secercah harapan, namun mendadak gagal jelang penutupan pendaftaran Liga 4 karena adanya “keputusan sepihak”.
Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, yang selama ini turut mengikuti perkembangan PSCS, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam dalam upaya menyelamatkan keberlangsungan PSCS.
“Berkait dengan PSCS memang beberapa waktu yang lalu kami berupaya untuk memfasilitasi teman-teman. Yang pertama kita memfasilitasi dulu ada Mas Suhud yang ditunjuk oleh Pak Gede selaku penguasa mayoritas saham,” ujar Bupati Syamsul, Sabtu (29/11/2025).
Ia juga menyebut telah berinisiatif membantu mencarikan sponsor. Namun langkah itu terhambat karena adanya ketidakjelasan kepemilikan saham yang menjadi perhatian penting calon sponsor.
“Perusahaan ataupun rekanan yang mau memberikan sponsorship menanyakan bagaimana sahamnya sudah dibawa ke Cilacap atau belum. Karena itu memang kita tidak memiliki uang untuk membiayai,” imbuhnya.
Syamsul menambahkan bahwa negosiasi terakhir yang melibatkan perwakilan pemilik saham mayoritas, yaitu Fanny Irawatie, sempat mencapai titik terang. Dalam pembahasan disebutkan bahwa saham klub dibeli senilai Rp1 miliar, dengan komposisi 75 persen dikuasai mayoritas.
Namun, situasi berubah tiba-tiba. Akhirnya, pihak yang berusaha menyelamatkan PSCS memilih mundur.
“Begitu ada tanda tangan kesepakatan itu, ternyata kami mendapatkan informasi, laporan jadi naik Rp2 miliar. Sehingga yang tadinya teman-teman dari Laskar yang peduli ini mau menyelamatkan, merasa juga ada ketidakkonsistenan dari pemilik saham mayoritas,” ungkapnya.
Bupati menyebut pihaknya sebenarnya sudah menyiapkan sejumlah dukungan strategis seperti pengajuan perbaikan stadion melalui CSR perusahaan. Namun, semuanya terhenti karena status kepemilikan yang belum final.
“Karena ini kembali lagi ada tidaknya kejelasan itu ya saya tidak bisa apa-apa. Karena memang secara aturan kita APBD belum bisa. Nanti kalau memang ada aturan, pasti kita akan anggarkan untuk optimalisasi pengembangan PSCS,” tuturnya.
Meski kondisi tampak buntu, ia memastikan masih melakukan upaya penyelamatan klub. “Saya sementara ini juga masih mencoba untuk mencari investor yang barangkali mau dengan komitmen yang sekarang,” pungkasnya.
Absennya PSCS dari Liga 4 bukan hanya kehilangan satu musim, tetapi juga sinyal ancaman terhadap keberlanjutan klub. Namun bagi masyarakat Cilacap, PSCS bukan sekadar klub sepak bola tetapi identitas, kebanggaan, dan cerita panjang perjuangan. Karena itu, harapan untuk kebangkitan Hiu Selatan masih terus menyala. PSCS harus kembali, bukan perlahan menghilang.