
SERAYUNEWS – Puasa qadha ramadhan batasnya sampai kapan? Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, tidak sedikit umat Muslim yang masih memiliki kewajiban puasa Ramadhan yang belum tertunaikan.
Puasa qadha Ramadhan menjadi bentuk tanggung jawab ibadah atas puasa wajib yang tertinggal, baik karena sakit, bepergian jauh, haid, nifas, maupun sebab lain yang dibenarkan syariat.
Sayangnya, kewajiban ini kerap terabaikan karena dianggap bisa dilakukan kapan saja tanpa batas waktu yang jelas.
Padahal, puasa qadha bukan sekadar pengganti formal, melainkan amanah spiritual yang harus dipenuhi. Menunda pelaksanaannya tanpa alasan yang kuat justru berpotensi menambah beban tanggung jawab seorang Muslim di hadapan Allah SWT.
Kewajiban puasa qadha Ramadhan ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk mengganti puasa yang ditinggalkan pada hari-hari lain sesuai jumlah yang terlewat. Hal ini menunjukkan bahwa utang puasa tidak gugur hanya karena waktu berlalu.
Makna qadha sendiri adalah menunaikan kewajiban yang tertunda. Dalam konteks ibadah puasa, qadha Ramadhan menjadi kewajiban yang bersifat mengikat dan tidak boleh disepelekan, baik oleh mereka yang memiliki uzur syar’i maupun yang meninggalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan.
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi di masyarakat adalah anggapan bahwa puasa qadha bisa ditunda tanpa batas.
Ada pula yang mengira niat puasa qadha sama seperti puasa sunnah, sehingga boleh dilakukan setelah terbit fajar. Pemahaman ini keliru.
Puasa qadha termasuk puasa wajib, sehingga niatnya harus dilakukan pada malam hari sebelum Subuh.
Niat tersebut tidak harus dilafalkan secara keras, karena hakikat niat adalah tekad di dalam hati. Melafalkan niat hanya bersifat membantu agar lebih fokus dan sadar terhadap ibadah yang dilakukan.
Secara umum, puasa qadha Ramadhan dapat dilakukan sejak berakhirnya bulan Ramadhan hingga sebelum masuk Ramadhan berikutnya.
Tidak ada ketentuan hari tertentu yang diwajibkan, selama masih berada dalam rentang waktu tersebut.
Namun, para ulama sepakat bahwa semakin cepat qadha dilakukan, semakin baik. Menunda hingga mendekati Ramadhan berikutnya dikhawatirkan akan menimbulkan kelalaian, terlebih jika kembali datang uzur yang menghalangi pelaksanaannya.
Meskipun puasa qadha dapat dilakukan hampir sepanjang tahun, terdapat hari-hari yang secara tegas dilarang untuk berpuasa, baik puasa wajib maupun sunnah.
Hari-hari tersebut meliputi Hari Raya Idul Fitri pada 1 Syawal, Hari Raya Idul Adha pada 10 Dzulhijjah, serta hari-hari Tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Di luar hari-hari tersebut, umat Muslim bebas memilih waktu yang paling memungkinkan untuk menjalankan puasa qadha sesuai kondisi masing-masing.
Demikian informasi tentang batas waktu puasa qadha ramadhan.***