
SERAYUNEWS- Ramadan 1447 Hijriyah tengah berlangsung dan banyak orang tua mulai bertanya: kapan anak boleh mulai berlatih puasa?
Dokter anak dan ulama Islam memberikan pandangan yang seimbang antara kesiapan fisik dan kewajiban agama. Menurut pakar medis, anak dapat dikenalkan puasa secara bertahap sejak mereka mulai mampu, sementara dari sisi Islam, puasa tidak diwajibkan sampai baligh.
Melatih anak berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga membentuk disiplin dan empati. Pakar kesehatan menganjurkan latihan bertahap, mulai puasa setengah hari dulu, lalu meningkat seiring waktu sesuai kemampuan anak.
Sementara itu, dalam ajaran Islam, puasa menjadi kewajiban ketika seorang Muslim telah mencapai usia baligh (pubertas), berdasarkan petunjuk Nabi.
Namun anak-anak dianjurkan dilatih berpuasa sejak usia tujuh sampai sepuluh tahun jika mereka siap secara fisik. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Ahli kesehatan anak menekankan pentingnya kesiapan fisik sebelum melatih puasa. Anak di bawah usia tujuh tahun umumnya belum dianjurkan berpuasa penuh karena tubuh mereka masih sangat membutuhkan asupan nutrisi dan cairan sepanjang hari.
1. Usia 3–4 tahun: Anak bisa dikenalkan suasana sahur dan berbuka sebagai pembiasaan.
2. Usia 5–6 tahun: Mereka bisa mencoba puasa beberapa jam, misalnya sampai Zuhur atau Ashar.
3. Usia sekitar 7–10 tahun: Latihan puasa setengah hari hingga satu hari penuh bisa dilakukan secara bertahap dengan pengawasan orang tua sesuai kondisi kesehatan anak.
Para dokter menekankan agar tidak memaksakan anak berpuasa lebih lama daripada yang tubuhnya mampu, karena bisa berisiko terjadi hipoglikemia atau dehidrasi.
Dalam ajaran Islam, puasa menjadi wajib setelah seseorang mencapai baligh (pubertas) masa saat seseorang dianggap bertanggung jawab secara syariah. Hadis Nabi menjelaskan:
«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ…»
Artinya: “Pena diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil hingga ia baligh…” (HR. Abu Dawud).
Artinya baligh adalah batas dibebaskannya kewajiban puasa bagi anak sampai ia dewasa secara agama. Selain itu, fatwa ulama menyatakan:
“Anak dianjurkan berpuasa ketika berusia tujuh tahun jika mampu secara fisik, dan ditekankan lebih ketika mereka mencapai usia sepuluh tahun.”
Islam menegaskan kewajiban puasa Ramadan dengan ayat Al-Quran:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Artinya: “Dan dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah : 43)
Sedangkan kewajiban puasa dijelaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…” (QS. Al-Baqarah : 183)
Kewajiban ini berlaku bagi orang yang mampu, termasuk sudah mencapai baligh, sehat, dan tidak sedang dalam kondisi yang membatalkan puasa.
1. Mulai dengan puasa beberapa jam dan tingkatkan perlahan sesuai kemampuan.
2. Pastikan anak makan makanan bergizi saat sahur dan berbuka.
3. Perhatikan tanda tubuh anak lemah seperti pusing atau sangat lapar.
4. Libatkan anak dalam ibadah lain seperti salat dan baca Al-Quran untuk membangun cinta terhadap puasa.
Islam mewajibkan puasa bagi mereka yang sudah baligh, tetapi anak-anak boleh dilatih berpuasa sejak usia sekitar tujuh hingga sepuluh tahun jika siap secara fisik dan mental.
Latihan harus bertahap dengan perhatian terhadap kesehatan mereka agar menjadi pengalaman spiritual yang positif.
Melatih puasa pada anak adalah investasi iman dan kesehatan yang perlu dilakukan dengan sabar. Kunci suksesnya bukan sekadar durasi puasa penuh, melainkan bagaimana anak memahami makna ibadah ini.
Orang tua pun harus terus memantau dan mendukung proses ini tanpa memaksakan, agar anak tumbuh menjadi Muslim yang kuat secara fisik dan spiritual.