
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Generasi Z masih menonton televisi meski media sosial dan platform video semakin mendominasi cara mereka mendapatkan informasi dan hiburan.
Kehadiran media sosial membuat Gen Z tidak lagi harus menunggu program berita dimulai atau duduk di depan televisi untuk mengetahui peristiwa terbaru. Mereka cukup membuka ponsel untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dalam hitungan detik.
Digital News Report 2026 yang diterbitkan Reuters Institute menunjukkan media sosial dan jaringan video kini menjadi sumber berita yang paling banyak digunakan secara global. Tren serupa juga terlihat di Indonesia.
Reuters Institute mencatat 64 persen masyarakat Indonesia mendapatkan berita melalui platform seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok. Penggunaan WhatsApp sebagai sumber berita bahkan meningkat hingga 56 persen.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak berarti Gen Z sepenuhnya meninggalkan televisi.
Sejumlah mahasiswa di Purwokerto masih menonton televisi dengan tujuan yang beragam. Mereka mengakses televisi untuk mendapatkan berita, menikmati hiburan, menyaksikan siaran langsung, hingga menonton film dokumenter.
Tiya, mahasiswi Universitas Wijayakusuma (Unwiku) Purwokerto, masih menggunakan televisi untuk mengikuti berita dan menyaksikan siaran langsung pada momen tertentu.
“Masih biasanya karena masih ingin melihat berita dan melihat live streaming kayak upacara kemerdekaan.” ujar Tiya.
Dalam sehari, Tiya menghabiskan sekitar satu jam untuk menonton televisi. Menurutnya, televisi masih relevan ketika menghadirkan tayangan yang ingin ia ikuti secara langsung.
Kebiasaan serupa juga dilakukan Tika, mahasiswa Unwiku. Ia menonton televisi untuk mengikuti berita sekaligus menikmati tayangan entertainment dan hiburan.
Tika menghabiskan waktu sekitar satu jam dalam sehari untuk menonton televisi.
Berbeda dengan Tiya dan Tika, Cindy, mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), lebih banyak menggunakan televisi sebagai sarana hiburan.
Ia mengaku masih menikmati tayangan kartun seperti Upin & Ipin. Untuk menikmati tayangan tersebut, Cindy dapat menghabiskan waktu sekitar dua jam di depan televisi.
Sementara itu, Jauhari, mahasiswi Ilmu Komunikasi, memiliki pilihan yang lebih spesifik. Ia menggunakan televisi terutama untuk mengikuti berita dan tidak terpaku pada satu stasiun televisi.
“Kalau nonton TV tuh cuma lihat berita aja, dari channel manapun. Biasanya paling sering Indonesiana TV, kalau kondisi lagi di rumah,” ujar Jauhari.
Untuk program berita, Jauhari biasanya menonton selama 30 menit hingga satu jam atau sampai program tersebut selesai. Namun, durasi menontonnya bisa lebih panjang ketika ia menyaksikan Indonesiana TV karena tertarik dengan film dokumenter.
“Kalau nonton yang berita, aku cuma nyelesain acara beritanya sekitar 30 menit–1 jam. Tapi, Indonesiana TV itu bisa dua jam lebih karena isi filmnya biasanya dokumenter,” katanya.
Pengalaman empat mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa Gen Z masih memberikan ruang bagi televisi dalam keseharian mereka.
Namun, mereka tidak lagi menjadikan televisi sebagai satu-satunya sumber informasi dan hiburan. Gen Z memiliki banyak pilihan platform dan cenderung memilih media berdasarkan jenis konten yang ingin mereka konsumsi.
Tiya menggunakan televisi untuk berita dan siaran langsung. Tika memanfaatkannya untuk berita sekaligus hiburan. Cindy memilih tayangan kartun, sedangkan Jauhari lebih tertarik pada berita dan film dokumenter.
Pola tersebut menunjukkan bahwa jenis konten menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keputusan Gen Z untuk menonton televisi.
Dengan kata lain, keberadaan media sosial tidak otomatis membuat televisi kehilangan penonton dari kalangan generasi muda. Televisi masih memiliki tempat ketika menawarkan konten yang sesuai dengan kebutuhan dan minat audiens.
Perubahan perilaku konsumsi media Gen Z sejalan dengan perkembangan ekosistem media global.
Digital News Report 2026 mencatat penggunaan televisi sebagai sumber berita terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, media sosial dan jaringan video semakin mengambil peran penting, terutama di kalangan pengguna muda.
Meski demikian, televisi tidak serta-merta kehilangan relevansinya.
Reuters Institute mencatat televisi masih menjadi salah satu sumber berita penting bagi sebagian masyarakat Indonesia, terutama kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terhubung dengan internet.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan teknologi tidak otomatis menghapus keberadaan media lama. Sebaliknya, perkembangan teknologi memberikan audiens lebih banyak pilihan untuk menentukan di mana, kapan, dan bagaimana mereka mengonsumsi informasi serta hiburan.
Bagi Gen Z, televisi mungkin bukan lagi layar utama sepanjang hari. Namun, ketika kontennya dianggap relevan, menarik, atau menawarkan pengalaman yang sulit digantikan, televisi masih menjadi pilihan. (Faradian Yusi)