
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS — Dieng Culture Festival (DCF) 2026 tidak hanya menarik wisatawan yang ingin menikmati pertunjukan seni dan tradisi. Festival budaya di dataran tinggi Banjarnegara ini juga menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menelusuri sejarah, budaya, dan jejak spiritual kawasan Dieng.
Salah satunya Sofia, wisatawan asal Badung, Bali. Untuk pertama kalinya, Sofia sengaja datang ke Dieng untuk melihat langsung budaya masyarakat sekaligus merasakan atmosfer Dieng Culture Festival 2026.
Bagi Sofia, perjalanan ke Dieng memiliki makna khusus. Ia melihat adanya keterkaitan historis dan spiritual antara Bali dengan kawasan Dieng yang dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam perkembangan tradisi Hindu di Jawa pada masa lampau.
Untuk mewujudkan perjalanan tersebut, Sofia bahkan melakukan persiapan khusus. Ia mengaku harus menabung dan menyesuaikan waktu dengan pekerjaannya agar bisa datang langsung ke Dieng.
“Saya menabung untuk bisa hadir langsung ke Dieng, datang ke Dieng menjadi tujuan utama. Setelah ini kami akan mengunjungi Jogja,” katanya.
Ketertarikan Sofia terhadap Dieng tidak terlepas dari pandangan yang berkembang di kalangan sebagian umat Hindu Bali mengenai posisi kawasan tersebut dalam sejarah perkembangan Hindu di Nusantara.
Dieng kerap dikaitkan dengan jejak awal perkembangan tradisi Hindu di Pulau Jawa. Nama Dieng secara populer dijelaskan berasal dari gabungan kata “Di” yang merujuk pada tempat tinggi atau gunung dan “Hyang” yang berkaitan dengan dewa atau leluhur.
Dari pemaknaan tersebut, Dieng sering dimaknai sebagai kawasan tempat bersemayamnya para dewa.
Jejak sejarah tersebut semakin kuat dengan keberadaan Kompleks Candi Dieng. Candi-candi di kawasan ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-7 hingga ke-8 Masehi dan menjadi bagian penting dari peninggalan Hindu di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan pemujaan terhadap Siwa.
Bagi wisatawan seperti Sofia, keberadaan peninggalan sejarah tersebut membuat perjalanan ke Dieng memiliki dimensi yang lebih luas.
Dieng tidak hanya menawarkan wisata alam, tetapi juga cerita sejarah, tradisi, dan jejak spiritual yang membuat pengalaman berkunjung terasa lebih bermakna.
Kehadiran Sofia di DCF 2026 menunjukkan bahwa festival tersebut mampu menarik wisatawan dengan beragam motivasi perjalanan.
Sebagian wisatawan datang untuk menikmati pertunjukan musik. Sebagian lainnya ingin menyaksikan ritual budaya, mencicipi kuliner lokal, menikmati alam, atau memahami lebih jauh sejarah dan tradisi masyarakat dataran tinggi Dieng.
Bagi Sofia, DCF menjadi momentum untuk melihat secara langsung bagaimana warisan budaya Dieng tetap hidup di tengah masyarakat.
Ia juga melihat kedekatan budaya dan sejarah berbagai wilayah di Nusantara sebagai salah satu alasan yang membuat Dieng menarik untuk dikunjungi.
Kunjungan pertamanya ke Dieng sekaligus menjadi bagian dari perjalanan wisata yang lebih panjang. Setelah menikmati rangkaian DCF 2026, Sofia dan rombongan berencana melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.
Pengalaman serupa, dengan sudut pandang berbeda, datang dari Kiki, wisatawan asal Kota Bekasi. Tahun ini menjadi kali pertama Kiki menghadiri Dieng Culture Festival.
Tanpa pengalaman sebelumnya, Kiki mengaku langsung terpukau dengan suasana Dieng dan berbagai kegiatan yang tersaji selama festival.
“Enggak rugi sih, puas. Ternyata sangat menarik dan banyak acara budayanya, termasuk festival kopi khas dataran tinggi Dieng,” ujarnya.
Menurut Kiki, daya tarik Dieng tidak hanya terletak pada rangkaian acara DCF. Keindahan alam, udara khas dataran tinggi, serta suasana kawasan pegunungan turut memberikan pengalaman tersendiri.
Perpaduan alam dan budaya tersebut menjadi salah satu hal yang membuat Dieng memiliki karakter berbeda dibandingkan destinasi wisata lainnya.
Pengalaman Sofia dan Kiki memperlihatkan sisi lain DCF 2026. Festival ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi pintu bagi wisatawan untuk mengenal identitas Dieng melalui berbagai perspektif.
Bagi Sofia, perjalanan ke Dieng menjadi kesempatan menelusuri jejak sejarah dan spiritual yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan tradisi Hindu di Nusantara.
Sementara bagi Kiki, Dieng menawarkan pengalaman baru melalui perpaduan budaya, festival kopi, udara pegunungan, dan panorama alam.
Dua pengalaman tersebut memiliki titik temu yang sama: Dieng tidak cukup hanya dilihat, tetapi perlu dirasakan dan dipahami.
Di tengah geliat DCF 2026, kisah para wisatawan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Dieng tidak semata-mata terletak pada kemeriahan festival.
Di balik DCF terdapat warisan sejarah, tradisi masyarakat, lanskap alam, kuliner, dan berbagai cerita yang terus mengundang wisatawan untuk datang serta mengenal Dieng lebih dekat.
Bagi sebagian wisatawan, perjalanan ke Dieng bahkan bukan sekadar agenda liburan. Seperti Sofia, mereka rela menabung dan mengatur waktu untuk merasakan langsung pengalaman budaya yang selama ini hanya mereka kenal dari cerita.