
CILACAP, SERAYUNEWS – Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap menggelar Risk Management Forum (RMF) di Gedung Patra Graha Cilacap, Senin (3/8/2026). Forum ini menjadi upaya meningkatkan kesadaran dan memperkuat komitmen insan Pertamina untuk menjadikan manajemen risiko lebih dari pemenuhan kepatuhan (compliance), tetapi budaya yang melekat dalam setiap aktivitas dan proses bisnis.
Area Manager Risk Management Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Dwi Jatmoko, menyampaikan risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasional kilang. Risiko tersebut mencakup aspek Health, Safety, Security and Environment (HSSE), proses operasi, keandalan aset, proyek, hingga risiko terhadap reputasi perusahaan dan aspek legal.
“Karena itu, pengelolaan risiko harus menjadi bagian dari cara berpikir dan bertindak setiap pekerja, sehingga mampu mendukung terciptanya operasi kilang yang andal, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui forum ini, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya keterkaitan antara manajemen risiko dengan Business Continuity Management System (BCMS) sesuai kerangka ISO 22301:2019.
Lanjut Dwi, Risk Management menjadi fondasi sebelum gangguan terjadi, sementara Crisis Management/Incident Management dan Continuity Management berperan saat dan setelah gangguan berlangsung.
“Ketiga elemen tersebut harus berjalan sebagai satu kesatuan strategi ketahanan bisnis, bukan sebagai proses yang berdiri sendiri di masing-masing fungsi,” imbuh Dwi.
Executive General Manager Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro berharap forum ini mampu memperkuat implementasi manajemen risiko di seluruh lini organisasi.
Menurutnya, peningkatan pemahaman manajemen risiko harus dimiliki seluruh pekerja, mulai frontline hingga jajaran manajemen, mengingat besarnya tanggung jawab dan peran strategis Kilang Cilacap menjaga ketahanan dan ketersediaan energi nasional.
“Kami berharap forum ini melahirkan pemahaman yang semakin baik tentang manajemen risiko sehingga budaya sadar risiko dapat diterapkan secara konsisten di seluruh level organisasi,” kata Hermawan.
Sementara itu Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina Patra Niaga, Rahman Pramono, menekankan tiga hal utama dalam pengelolaan risiko. Yang pertama, dunia usaha dihadapkan pada dinamika bisnis yang terus berubah sehingga perusahaan harus mampu mengantisipasi berbagai potensi risiko. Kedua, manajemen risiko harus mendukung keberlanjutan bisnis sekaligus memperkuat peran perusahaan dalam menjaga kedaulatan energi nasional.
“Yang ketiga, implementasi manajemen risiko harus bertransformasi dari sekadar memenuhi aspek kepatuhan menjadi budaya yang tertanam dalam setiap aktivitas dan proses bisnis,” tegas Rahman.
Rangkaian RMF ditutup dengan keynote speech dan diskusi bertema From Compliance to Risk Culture: Managing Refinery Risk in an Evolving World oleh Special Advisory Geopolitics & Security, Ashadi Cahyadi.
Sesi ini mengulas pentingnya membangun budaya risiko yang adaptif menghadapi dinamika geopolitik, tantangan keamanan, serta perubahan lingkungan bisnis yang semakin kompleks.
Melalui RMF ini, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap menegaskan komitmen untuk terus memperkuat budaya manajemen risiko sebagai fondasi dalam menjaga keandalan operasional, meningkatkan ketahanan bisnis, serta mendukung keberlanjutan penyediaan energi bagi masyarakat.