
CILACAP, SERAYUNEWS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap mencatat tingginya kebutuhan layanan cuci darah atau hemodialisis. Setiap hari, rumah sakit milik pemerintah daerah itu melayani hingga 80 pasien, bahkan masih memiliki daftar tunggu puluhan pasien yang belum dapat terlayani.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Cilacap, dr. Reza Prima Muharama, mengatakan tingginya jumlah pasien menjadi gambaran bahwa kasus gangguan ginjal yang membutuhkan cuci darah terus meningkat di Kabupaten Cilacap.
Saat ini, RSUD Cilacap mengoperasikan 40 unit mesin hemodialisis yang melayani pasien dari Senin hingga Sabtu dalam dua shift pelayanan.
“Untuk pelayanan cuci darah, kami mengoperasionalkan 40 alat hemodialisis. Jam operasional dari hari Senin sampai Sabtu dengan dua shift. Insyaallah setiap hari kami bisa melayani sekitar 70 sampai mendekati 80 pasien,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, kapasitas tersebut menjadikan RSUD Cilacap sebagai salah satu rumah sakit dengan fasilitas hemodialisis yang cukup besar di wilayah Kabupaten Cilacap.
Reza mengungkapkan, tren pasien yang menjalani cuci darah kini tidak lagi didominasi kelompok lanjut usia. Berdasarkan data rumah sakit, pasien berusia sekitar 20 tahun kini mulai banyak yang harus menjalani terapi hemodialisis.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pihak rumah sakit karena menunjukkan perubahan pola penyakit yang kini menyerang usia lebih muda.
“Kalau data kami di RSUD Cilacap, bahkan ada yang usianya baru mendekati 20 tahun sudah menjalani cuci darah. Ini menjadi salah satu keprihatinan kami,” ujarnya.
Menurut Reza, perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus gagal ginjal. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis, minuman kemasan, hingga makanan dan minuman cepat saji dinilai menjadi salah satu pemicu yang perlu diwaspadai masyarakat.
“Sekarang pola hidup, termasuk mengonsumsi minuman-manis, minuman kemasan, itu menjadi salah satu faktor pencetus meningkatnya kasus cuci darah,” jelasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan sejak dini, seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta mencukupi waktu istirahat.
Tingginya kebutuhan layanan hemodialisis juga terlihat dari masih adanya daftar tunggu pasien di RSUD Cilacap. Hingga saat ini, sekitar 50 pasien masih menunggu giliran untuk mendapatkan layanan cuci darah.
“Masih ada waiting list, terakhir sekitar 50-an pasien. Ini menjadi bukti bahwa kasusnya terus bertambah setiap hari. Karena itu kami terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan melalui pola hidup sehat, olahraga, dan tidur yang cukup,” katanya.
Di tengah tingginya kebutuhan layanan kesehatan, RSUD Cilacap juga menyiapkan sejumlah pengembangan fasilitas. Dalam master plan yang telah disusun, rumah sakit akan meningkatkan pelayanan di Instalasi Bedah Sentral (IBS), ruang operasi, hingga ruang rawat inap.
Selain itu, RSUD Cilacap berencana mengembangkan layanan medical check up sebagai salah satu sumber pendapatan di luar pembiayaan BPJS Kesehatan.
Menurut Reza, langkah tersebut dinilai memiliki prospek besar mengingat Cilacap merupakan kawasan industri yang memiliki banyak perusahaan besar.
“Kami ingin melengkapi layanan medical check up umum. Cilacap ini kota industri, ada Pertamina, SBI, S2P, Pelindo. Itu menjadi peluang pasar bagi RSUD untuk meningkatkan pelayanan sekaligus diversifikasi pendapatan di luar BPJS,” ujarnya.
Melalui pengembangan layanan tersebut, RSUD Cilacap berharap dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian rumah sakit dalam menghadapi tantangan pembiayaan layanan kesehatan di masa mendatang.