
SERAYUNEWS – Puasa Rabu Abu menjadi pintu masuk umat Katolik untuk memasuki Masa Prapaskah, sebuah periode penting dalam kalender liturgi Gereja Katolik.
Pertanyaan “sampai kapan puasa Rabu Abu 2026?” kerap muncul setiap awal Prapaskah, terutama bagi umat yang ingin menjalankan puasa dan pantang dengan tepat sesuai ajaran Gereja.
Pada tahun 2026, Masa Prapaskah memiliki makna khusus karena juga bertepatan dengan perayaan Tahun Yubileum Khusus Santo Fransiskus Assisi.
Secara resmi, Masa Prapaskah 2026 dimulai pada Rabu Abu, 18 Februari 2026, dan berakhir pada Sabtu, 4 April 2026, sehari sebelum Minggu Paskah.
Puasa Katolik di Masa Prapaskah bukan sekadar praktik menahan lapar.
Lebih dari itu, puasa merupakan latihan rohani untuk membantu umat menata ulang relasi dengan Tuhan dan sesama.
Masa Prapaskah meneladani 40 hari Yesus Kristusberpuasa di padang gurun sebelum memulai pelayanan-Nya.
Angka 40 sendiri memiliki makna simbolis sebagai masa pertobatan, pemurnian diri, dan pembaruan spiritual.
Dalam praktiknya, puasa dan pantang mengajak umat untuk tidak terjebak pada rutinitas formal.
Menahan diri dari makanan menjadi sarana untuk mengendalikan hawa nafsu, membuka ruang bagi doa yang lebih khusyuk, serta menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan.
Dengan demikian, puasa Rabu Abu menjadi awal dari perjalanan rohani yang lebih mendalam selama Prapaskah.
Puasa Rabu Abu 2026 berlangsung satu hari penuh, yakni pada 18 Februari 2026. Pada hari ini, umat Katolik yang memenuhi syarat diwajibkan berpuasa dan berpantang.
Setelah Rabu Abu, kewajiban puasa berikutnya jatuh pada Jumat Suci, 3 April 2026.
Sementara itu, pada Jumat-Jumat lain selama Masa Prapaskah, umat hanya diwajibkan berpantang.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan “sampai kapan puasa Rabu Abu 2026?” adalah sampai akhir hari Rabu, 18 Februari 2026.
Namun, semangat pertobatan yang dimulai pada hari itu diharapkan terus dihidupi hingga akhir Masa Prapaskah.
Agar puasa dijalankan dengan benar dan penuh makna, Gereja menetapkan beberapa aturan yang perlu dipahami umat.
Pertama, jumlah makanan. Puasa berarti makan kenyang satu kali sehari, dengan dua kali makan ringan yang tidak setara dengan satu porsi penuh.
Tujuannya bukan menyiksa tubuh, melainkan melatih pengendalian diri dan kesadaran rohani.
Kedua, hari pelaksanaan puasa. Puasa wajib dilakukan pada Rabu Abu dan Jumat Suci.
Hari-hari ini memiliki makna simbolis yang kuat sebagai ungkapan pertobatan dan penghayatan atas penderitaan Kristus.
Ketiga, batasan usia. Puasa wajib bagi umat berusia 18 hingga 59 tahun.
Anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu tidak diwajibkan, namun dianjurkan mengganti dengan bentuk pengorbanan lain yang sesuai kemampuan.
Keempat, konsumsi minuman. Minum tetap diperbolehkan selama puasa.
Gereja menekankan bahwa puasa bukan soal menahan cairan, melainkan mengendalikan keinginan dan memusatkan hati pada Tuhan.
Kelima, tujuan puasa. Puasa diarahkan untuk menumbuhkan kerendahan hati, rasa syukur, dan kepedulian sosial.
Dengan mengurangi kenyamanan diri, umat diajak lebih peka terhadap penderitaan orang lain dan lebih tekun dalam doa.
Berdasarkan Surat Peraturan Pantang dan Puasa 2026, Keuskupan Agung Jakarta menegaskan bahwa Masa Prapaskah 2026 berlangsung dari 18 Februari hingga 4 April 2026.
Umat diwajibkan berpuasa dan berpantang pada Rabu Abu dan Jumat Suci.
Pada Jumat-Jumat lainnya selama Prapaskah, kewajiban yang berlaku adalah pantang.
Pantang diwajibkan bagi umat berusia 14 tahun ke atas, sementara puasa mengikuti ketentuan usia dewasa hingga awal tahun ke-60 sesuai Hukum Kanonik.
Tahun 2026 juga dirayakan sebagai Tahun Yubileum Khusus Santo Fransiskus Assisi, sehingga umat diajak menghayati pertobatan ekologis melalui sikap hidup yang lebih peduli pada sesama dan lingkungan.
Melalui panduan pastoral yang disiapkan, umat diharapkan menghidupi Masa Prapaskah dengan semangat tobat dan syukur: semakin mengasihi, semakin peduli, dan semakin bersaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Puasa Rabu Abu hanyalah awal. Masa Prapaskah mengajak umat untuk menjalani transformasi batin secara berkelanjutan.
Dengan memahami aturan, makna, dan tujuannya, puasa dan pantang tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai sarana pertumbuhan iman.
Pada akhirnya, Masa Prapaskah mempersiapkan hati umat untuk menyambut Paskah dengan sukacita yang lebih mendalam.
Bukan karena berhasil menahan lapar semata, tetapi karena berhasil menata hidup agar semakin selaras dengan kasih Tuhan.***