Jumat, 24 September 2021

Sejarah Purbalingga Sejak Purbakala Hingga Kemerdekaan Dibedah di Teras Budaya, Ini Penjelasannya

Gemalingga melalui Teras Budaya 2021 menggelar diskusi tentang jejak sejarah dan budaya Purbalingga. Dua pembicara hadir, masing-masing Gunanto Eko Saputro (Penulis sejarah) dan Agus Sukoco (budayawan). (Joko Santoso)

Gerakan Mahasiswa Purbalingga (Gemalingga) menggelar diskusi membedah sejarah dan budaya Purbalingga, yang diberi tajuk Teras Budaya 2021. Kegiatan perdana dilakukan secara daring. Tema yang diangkat mengenai jejak sejarah Purbalingga mulai era purbakala hingga kemerdeksan.


Purbalingga, Serayunews.com

“Kegiatan ini kami laksanakan di Kedai Pojok, Sabtu (31/7/2021) petang. Dua pembicara hadir, masing-masing penulis sejarah Purbalingga Gunanto Eko Saputro dan budayawan Agus Sukoco. Diskusi dimoderatori Laksa Tiar Makmuria,” kata Ketua Departemen Kajian Sosial dan Budaya Gemalingga, Soyfanudin, Minggu (1/8/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Gunanto menyebutkan jejak sejarah Purbalingga memang cukup mengagumkan sejak era purbakala, Hindu-Buddha, Islam, zaman kolonial, sampai perjuangan kemerdekaan. Ia mencontohkan Purbalinga mempunyai Situs Tipar di Desa Ponjen yang merupakan situs perbengkelan purba.

 “Situs itu pernah diteliti Prof Harry Truman Simanjuntak Bapak Arkeologi Indonesia tahun 1983 dan masuk dalam Atlas Pra Sejarah Nasional sejajar dengan situs purbakala lainnya seperti Sangiran dan Trinil,” katanya.

Kemudian, pada era Hindu-Buddha kita juga memiliki Prasasti Batu Tulis Cipaku dan Prasasti Bukateja yang menandakan kawasan di lereng timur Gunung Slamet itu penting pada era abad ke 5-8 Masehi. Lalu, kalau bicara era sesudahnya ada Kadipaten Wirasaba yang eksis sejak jaman Majapahit

“Wirasaba merupakan induk dari Banyumas Raya kini, saya berandai jika saat itu tidak terjadi Peristiwa Mrapat, budaya ‘panyinyongan’ sekarang namanya bukan Banyumasan tetapi Wirasabaan,” imbuhnya.

Beralih ke era Islam, ada Perdikan Cahyana yang mengirimkan kontribusi dalam pembangunan Kesultanan Demak.

 “Syech Wali Perkasa mendapat Surat Kekancingan dari Raden Patah yang menyatakan wilayah Cahyana bebas pajak dan berlaku pada era-era berikutnya,” imbuh Gunanto.

Pada kolonialisasi Belanda, Purbalingga memiliki peran penting dengan adanya pabrik tembakau, gula, dan teh. Kita juga menjadi lokasi Lapangan Udara Wirasaba yang merupakan pangkalan militer penting di wilayah Jawa Tengah bagian selatan-barat.

Selanjutnya, pada saat perang kemerdekaan, rakyat Purbalingga juga bangkit untuk melawan penjajahan. Ada peristiwa Perang Blater, Perang Pepedan, Sabotase Belanda di Bobotsari dan lainnya.

“Seorang serdadu Belanda bernama Letnan Hans Gerritsen bahkan secara khusus menulis buku atas pengalaman selama tugas militernya di Purbalingga berjudul ‘De Hinderlag Bij Sindoeradja’ artinya ‘Penyergapan di Sinduradja,” katanya.

Menurut Gunanto, semua catatan sejarah itu membuktikan orang-orang di ‘Bumi Pewira’, julukan Kabupaten Purbalingga, sudah menorehkan catatan emas sejak dulu kala.

“Kita seharusnya bangga dan menggunakannya sebagai api semangat untuk membangun Purbalingga kini dan masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Budayawan Agus Sukoco menyebutkan saat ini sudah tak banyak orang yang tahu dengan cerita sejarah tersebut. Menurutnya, ketidaktahuan itu menyebabkan kita kehilangan jatidiri.

“Saat ini seolah-olah standar kemajuan kita adalah modernisasi yang menganut nilai-nilai barat, padahal nenek moyang kita mempunyai budaya adi luhung sendiri yang mulai terlupakan,” katanya.

Oleh karena itu, kata Agus, menggali sejarah dan budaya leluhur penting untuk mencari jati diri.

“Kalau kita tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu maka kita tidak bisa menguasai masa kini maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan,” ujarnya mengutip penyair WS Rendra.

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini