
SERAYUNEWS-Di usia yang seharusnya diisi dengan belajar, bermain, dan merajut cita-cita, Raditya Zhibran Setiawan (14) atau akrab disapa Gibran, justru harus menghadapi ujian berat. Siswa kelas VII Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 27 Banjarnegara itu harus berjuang melawan hepatitis autoimun, penyakit yang membuatnya menjalani serangkaian perawatan medis hingga operasi hati.
Awalnya, Gibran tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan kesehatan serius. Ia hanya merasakan tubuhnya semakin mudah lelah dan tidak mampu beraktivitas seperti biasanya.
“Saya sering merasa lemas dan cepat capek. Saat belajar di sekolah juga rasanya tidak nyaman karena badan sering tidak fit,” ujar Gibran, Kamis (4/6/2026).
Kondisi tersebut lambat laun mulai memengaruhi aktivitas belajarnya. Sebagai siswa yang tinggal di asrama sekolah, ia kesulitan mengikuti kegiatan belajar dan berbagai aktivitas harian karena stamina yang terus menurun.
Melihat kondisi kesehatan Gibran yang semakin mengkhawatirkan, pihak sekolah segera mengambil langkah dengan memfasilitasi pemeriksaan kesehatan. Berbekal kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI), Gibran memperoleh akses pelayanan kesehatan untuk mengetahui penyebab keluhan yang dialaminya.
Pemeriksaan pertama dilakukan di Puskesmas Banjarnegara II. Setelah menjalani pemeriksaan medis, dokter merujuk Gibran ke RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Di rumah sakit tersebut, Gibran sempat menjalani perawatan inap dan serangkaian pemeriksaan mendalam. Hasil diagnosis menunjukkan bahwa ia menderita hepatitis autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel hati sehingga menyebabkan peradangan kronis.
Karena membutuhkan penanganan yang lebih komprehensif, tim medis kemudian merujuk Gibran ke RS dr. Sardjito Yogyakarta. Di rumah sakit rujukan tersebut, ia menjalani tindakan operasi hati sebagai bagian dari proses pengobatan dan pemulihan.
Bagi seorang pelajar berusia 14 tahun, menjalani perawatan medis dalam waktu yang cukup lama bukanlah hal mudah. Selain harus menghadapi berbagai prosedur pengobatan, ia juga harus meninggalkan sementara aktivitas belajar bersama teman-temannya.
“Saya sempat khawatir tertinggal pelajaran karena harus sering kontrol dan menjalani perawatan. Tapi guru dan teman-teman terus memberi semangat sehingga saya tetap optimistis untuk sembuh,” katanya.
Di tengah perjuangan melawan penyakit, Gibran mengaku mendapatkan dukungan besar dari lingkungan sekolah. Meski jauh dari keluarga karena tinggal di asrama, perhatian para guru dan teman menjadi sumber motivasi yang membantunya tetap kuat menjalani pengobatan.
Ia juga merasa bersyukur karena seluruh proses pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dapat diakses melalui Program JKN tanpa harus memikirkan biaya pengobatan yang besar.
Kini kondisi kesehatan Gibran berangsur membaik. Meski masih harus menjalani kontrol rutin, ia berharap dapat segera pulih sepenuhnya agar bisa kembali belajar dengan maksimal dan mengejar cita-cita yang diimpikannya.
“Saya ingin cepat sembuh supaya bisa sekolah dan belajar dengan semangat lagi. Terima kasih kepada tenaga kesehatan yang sudah merawat saya dan Program JKN yang membantu proses pengobatan saya,” katanya.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kebumen, Dina Diana Permata, mengatakan bahwa perlindungan kesehatan bagi anak usia sekolah memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Menurutnya, kesehatan yang terjaga akan membantu anak-anak menjalani pendidikan secara optimal tanpa terhambat masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan medis.
“Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang perlu mendapatkan perlindungan kesehatan yang memadai. Melalui Program JKN, peserta dapat memperoleh akses pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medisnya tanpa terkendala biaya sehingga dapat fokus menjalani proses pemulihan,” katanya.
Ia menambahkan, kisah yang dialami Gibran menjadi bukti bahwa Program JKN hadir untuk memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat, termasuk peserta dari keluarga prasejahtera yang terdaftar sebagai penerima bantuan iuran dari pemerintah.
“Kami berharap kondisi Gibran terus membaik sehingga dapat kembali mengikuti kegiatan belajar secara optimal. Semoga pengalaman ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki perlindungan kesehatan melalui Program JKN,” katanya.