
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan tahunan yang berulang di sejumlah wilayah Indonesia, seperti yang kembali terjadi di Kalimantan. Fenomena ini merusak ekosistem dan memicu gangguan kesehatan massal akibat kabut asap pekat.
Di tengah desakan publik dan suara netizen di media sosial yang meminta aksi nyata serta pengalihan prioritas anggaran darurat untuk menyelamatkan nyawa, penanganan cepat dari udara menjadi salah satu komponen paling vital.
Di tingkat global, armada udara amfibi seperti Super Scooper (termasuk lini Canadair CL-415 hingga DHC-515 Firefighter) menjadi andalan utama dalam operasi pemadaman kebakaran hutan masif. Namun, berapa sebenarnya harga pesawat pemadam kebakaran berteknologi tinggi ini?
Penanganan titik api di kawasan hutan tropis yang sulit dijangkau jalur darat membutuhkan kecepatan dan kapasitas angkut air yang besar. Pesawat amfibi dirancang khusus untuk melakukan aksi water bombing secara efektif.
Berbeda dengan helikopter atau pesawat pemadam biasa, pesawat amfibi dapat mengambil air langsung dari permukaan laut, danau, maupun sungai berukuran besar. Keunggulan ini memungkinkan armada udara melakukan siklus pengambilan dan pelepasan air secara berulang-ulang tanpa perlu kembali mendarat di pangkalan udara (airbase), selama sumber air berada dalam jangkauan area kebakaran.
Tingginya nilai investasi pesawat pemadam udara dipengaruhi oleh spesifikasi dan ketahanan teknisnya dalam menghadapi kondisi ekstrem. Pesawat Super Scooper seperti Canadair CL-415 memiliki sejumlah kemampuan teknis unggulan:
Untuk pengadaan satu unit pesawat baru, biaya yang dibutuhkan tergolong sangat besar. Nilai investasi satu unit pesawat amfibi Super Scooper (seperti Canadair CL-415/DHC-515) diperkirakan berada pada kisaran USD 30 juta hingga USD 40 juta, atau sekitar Rp480 miliar hingga Rp640 miliar (dengan estimasi nilai rata-rata berada di kisaran Rp580 miliar per unit, tergantung konfigurasi teknis dan nilai tukar mata uang).
Besarnya nilai investasi ini membuat ketersediaan pesawat amfibi pemadam di seluruh dunia relatif terbatas, yakni hanya sekitar 160 unit aktif.
Hal ini pula yang mendorong sejumlah pemerintah daerah maupun otoritas internasional lebih memilih skema penyewaan armada saat memasuki puncak musim kebakaran.
Sebagai gambaran perbandingan anggaran yang ramai dibahas publik, alokasi dana program harian nasional tertentu, seperti proyeksi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun per hari secara hitungan kasar setara dengan nilai pengadaan lebih dari 2 unit pesawat pemadam amfibi baru.
Mengingat eskalasi bencana karhutla yang terus berulang setiap tahun, kepemilikan skuadron atau armada pemadam udara mandiri menjadi aset strategis jangka panjang bagi negara rawan karhutla seperti Indonesia.
Kemampuan menyerap ribuan liter air dalam hitungan detik merupakan keunggulan mutlak dalam memenangkan perlombaan melawan penyebaran api.
Meski membutuhkan investasi awal yang fantastis, ketersediaan armada pemadam udara yang memadai dipandang mampu menekan kerugian ekonomi, meredam dampak kesehatan masyarakat, serta melindungi kelestarian hutan Indonesia secara berkelanjutan. (Reza Nugraha)