
SERAYUNEWS – Viralnya video kesaksian seorang pria yang diduga sopir taksi Green SM menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Lantas, siapa sopir taksi Green SM tersebut?
Video tersebut memperlihatkan penjelasan langsung dari pengemudi terkait detik-detik sebelum kendaraannya tertemper kereta rel listrik (KRL) di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Dampaknya meluas hingga mengganggu operasional perjalanan kereta api dan memicu perhatian serius dari pemerintah.
Lantas, siapa sebenarnya sosok sopir taksi Green SM yang viral tersebut, dan bagaimana kronologi kejadian yang ia ungkapkan?
Dalam video yang beredar luas di media sosial, pria berseragam hijau yang diduga sopir taksi Green SM memberikan penjelasan mengenai kondisi mobil yang ia kendarai sesaat sebelum insiden terjadi.
Ia menyebut bahwa kendaraan listrik tersebut tiba-tiba mengalami gangguan sistem.
Menurut pengakuannya, mobil mendadak “ngonci” atau terkunci secara otomatis saat berada tepat di atas rel kereta.
Kondisi tersebut membuat kendaraan tidak bisa digerakkan sama sekali. Situasi menjadi semakin genting karena pada saat bersamaan, kereta sudah akan melintas.
Pengemudi juga menjelaskan bahwa mobil dalam keadaan mati, sehingga tidak memungkinkan untuk segera dipindahkan dari jalur rel.
Kesaksian ini memunculkan dugaan adanya gangguan teknis serius pada sistem kendaraan listrik yang digunakan.
Pernyataan sopir tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya kegagalan sistem pada kendaraan listrik.
Dalam kondisi normal, kendaraan seharusnya memiliki fitur keamanan atau sistem cadangan (fail-safe) yang memungkinkan pengemudi tetap bisa mengendalikan kendaraan, terutama dalam situasi darurat.
Namun, dalam kasus ini, dugaan “ngonci” justru membuat kendaraan kehilangan kendali sepenuhnya.
Hal ini menjadi perhatian penting, terutama karena kendaraan listrik kini semakin banyak digunakan dalam layanan transportasi publik.
Jika benar terjadi kegagalan sistem, maka evaluasi terhadap standar keamanan kendaraan menjadi hal yang tidak bisa ditunda.
Terlebih, insiden ini terjadi di lokasi yang sangat berisiko, yaitu perlintasan rel kereta.
Berdasarkan dugaan kronologi awal yang disampaikan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, insiden bermula ketika sebuah KRL relasi Bekasi–Cikarang melintas di perlintasan sebidang JPL 85.
Pada saat yang sama, taksi Green SM berada di jalur rel dan akhirnya tertemper oleh KRL tersebut.
Tabrakan ini menyebabkan rangkaian kereta tidak dapat melanjutkan perjalanan seperti biasa.
Akibatnya, KRL harus dihentikan untuk penanganan darurat. Status perjalanan pun diubah menjadi Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181, yang menandakan bahwa kereta tidak lagi beroperasi sesuai jadwal reguler.
Untuk mengantisipasi kondisi yang semakin kompleks, petugas juga menghentikan satu rangkaian KRL lainnya, yaitu PLB 5568 yang sedang menuju Cikarang.
Langkah ini diambil guna menghindari risiko lanjutan di jalur yang sama. Namun situasi yang sudah tidak normal ini justru memicu insiden berikutnya.
Kereta api jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta menuju Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya saat melintasi area tersebut.
Akibatnya, KA tersebut terlibat insiden dengan rangkaian KRL PLB 5568 yang sedang dalam posisi berhenti di jalur yang sama.
Rangkaian kejadian ini memperlihatkan bagaimana satu insiden kecil dapat memicu efek domino yang besar dalam sistem transportasi.
Hingga saat ini, identitas resmi sopir taksi Green SM yang viral tersebut belum diungkap secara terbuka kepada publik.
Video yang beredar hanya menampilkan kesaksiannya tanpa menyebutkan nama atau latar belakang secara detail.
Meski demikian, kesaksian tersebut menjadi kunci penting dalam mengungkap penyebab awal kecelakaan.
Pernyataan mengenai mobil yang “ngonci” membuka kemungkinan adanya masalah teknis yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Publik kini menunggu hasil investigasi resmi dari pihak berwenang, termasuk klarifikasi dari perusahaan taksi terkait serta hasil audit teknis kendaraan.***