
SERAYUNEWS – SMA Negeri 1 Binangun, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, resmi menjalin kerja sama dengan Nara Higashi Hospital Group Jepang melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang digelar di lingkungan sekolah, Selasa (19/5/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah orang tua siswa yang antusias menyimak peluang pendidikan dan karier ke Jepang bagi anak-anak mereka.
Kerja sama ini membuka kesempatan bagi siswa untuk menempuh pendidikan bahasa Jepang dan keperawatan lansia di Jepang melalui jalur beasiswa. Program tersebut juga memberikan peluang bagi siswa memperoleh lisensi nasional keperawatan lansia Jepang yang disebut sebagai salah satu kualifikasi terbaik di dunia.
Chief Director Nara Higashi Hospital Group, Mr. Tetsumura Shinji, menegaskan bahwa program tersebut bukan program kerja biasa ataupun magang.
Menurut Shinji, siswa yang berangkat ke Jepang nantinya akan fokus menjalani pendidikan bahasa Jepang dan sekolah keperawatan lansia sebelum mendapatkan lisensi nasional Jepang.
“Program ini bukan datang ke Jepang untuk langsung bekerja, tetapi program pendidikan. Mereka akan belajar bahasa Jepang dan pendidikan keperawatan lansia dengan tujuan mendapatkan lisensi nasional Jepang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses pendidikan memang membutuhkan waktu cukup panjang. Para peserta akan belajar bahasa Jepang selama dua tahun, kemudian melanjutkan pendidikan keperawatan selama dua tahun berikutnya. Namun, di balik proses yang panjang tersebut, ada keuntungan besar yang bisa didapatkan siswa.
Shinji menyebut, peserta yang berhasil lulus ujian nasional keperawatan di Jepang memiliki kesempatan tinggal di Jepang tanpa batas waktu tertentu.
“Kalau lulus ujian negara, mereka bisa tinggal di Jepang selama yang diinginkan. Ini berbeda dengan program magang atau pekerja keterampilan spesifik yang biasanya hanya tiga sampai lima tahun,” katanya.
Tak hanya itu, lulusan program tersebut juga memungkinkan membawa keluarga ke Jepang apabila telah memenuhi syarat dan lulus ujian negara.
“Kalau sudah menikah dan memenuhi ketentuan, ada peluang membawa pasangan atau keluarga ke Jepang,” jelasnya.

Menurutnya, lisensi keperawatan lansia Jepang merupakan kualifikasi yang sangat bernilai dan memiliki standar tinggi di dunia. Ia meyakini para lulusan nantinya bisa menjadi tenaga profesional bahkan pemimpin di bidang keperawatan lansia jika kembali ke Indonesia.
“Kalau suatu saat mereka pulang ke Indonesia, mereka bisa menjadi leader atau pimpinan bagi tenaga kerja lain yang belum memiliki lisensi,” ujarnya.
Kerja sama tersebut disambut positif pihak sekolah. Kepala SMA Negeri 1 Binangun, Sukami, SPd., mengatakan sekolah telah menyiapkan berbagai langkah untuk mendukung program tersebut. Salah satunya dengan program ekstrakurikuler bahasa Jepang yang akan terus diperkuat ke depan.
“Kami ingin anak-anak siap, baik kemampuan bahasa, mental, maupun kondisi fisiknya ketika nanti mengikuti seleksi dan berangkat ke Jepang,” katanya.
Menurut Sukami, program itu bersifat jangka panjang sehingga melibatkan seluruh siswa mulai kelas 10 hingga kelas 12. Namun pihak sekolah menilai siswa kelas 10 memiliki peluang lebih besar karena memiliki waktu belajar yang lebih panjang. “Kalau kelas 11 dan 12 memenuhi standar, tetap kami buka kesempatan untuk ikut seleksi,” ujarnya.
Sukami menilai kerja sama tersebut menjadi peluang besar bagi siswa karena dilakukan langsung antara sekolah dan rumah sakit di Jepang, bukan melalui lembaga penyalur tenaga kerja (LPK).
Ia menyebut program itu juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkait SMA MANTAP yang memberi bekal keterampilan kerja bagi siswa setelah lulus sekolah.
“Ini peluang luar biasa karena anak-anak bisa langsung difasilitasi sekolah dan pihak rumah sakit Jepang,” katanya.

Ia menjelaskan, program tersebut berbentuk beasiswa yang dibiayai pihak Nara Higashi dan pemerintah Jepang. Namun siswa tetap harus memenuhi syarat kemampuan bahasa Jepang.
“Syarat awal minimal harus lulus level N4. Nanti di Jepang ditingkatkan lagi sampai N3 bahkan N2 sebelum masuk sekolah keperawatan,” jelasnya.
Minat siswa terhadap program tersebut terbilang tinggi. Berdasarkan hasil angket yang dibagikan sekolah kepada siswa kelas 10, sedikitnya 56 siswa menyatakan tertarik mengikuti program pendidikan ke Jepang.
Pihak sekolah juga melibatkan orang tua dalam proses persiapan karena kegiatan belajar bahasa Jepang dilakukan hingga sore hari bahkan pada hari Sabtu.
“Kalau tidak ada dukungan orang tua tentu akan sulit, karena program ini membutuhkan keseriusan,” kata Sukami.
Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti hanya sekali pengiriman siswa, tetapi bisa terus berlanjut dalam jangka panjang. “Harapan kami selama SMA Negeri 1 Binangun dan Nara Higashi masih ada, kerja sama ini bisa terus berjalan,” ujarnya.
Menurut Sukami, program itu diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa karena mereka memiliki tujuan pendidikan dan karier yang jelas sejak di bangku sekolah.
“Anak-anak jadi punya gambaran masa depan yang pasti dan jalurnya juga jelas secara hukum maupun kelembagaan,” pungkasnya.