
SERAYUNEWS – Belakangan ini, warga Kabupaten Cilacap merasakan suhu udara yang cukup panas dan gerah, terutama pada siang hari. Kondisi tersebut sempat dikeluhkan masyarakat karena terasa lebih menyengat dibanding hari-hari biasanya.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan, fenomena tersebut merupakan hal yang wajar terjadi di masa peralihan musim atau pancaroba. Saat ini, wilayah Cilacap dan sekitarnya memang tengah memasuki fase transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
“Pada musim peralihan, kondisi cuaca cenderung labil. Bisa sangat panas, tapi tiba-tiba turun hujan, bahkan disertai petir,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Berdasarkan data BMKG, suhu udara maksimum di Cilacap sempat mencapai 33,8 derajat Celsius pada 24 April 2026. Sementara pada hari-hari berikutnya, suhu berkisar antara 32 hingga 33 derajat Celsius.
Angka tersebut tergolong cukup tinggi, apalagi didukung kondisi langit cerah dengan tutupan awan yang minim, sehingga sinar matahari terasa lebih terik. Tak heran jika masyarakat merasakan hawa panas yang lebih menyengat dalam beberapa hari terakhir.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pada 28 April 2026, hujan ringan mulai mengguyur wilayah Cilacap dan sekitarnya sejak pagi hari. Berdasarkan pantauan citra satelit hingga pukul 10.30 WIB, awan masih menutupi sebagian wilayah, terutama di kawasan pesisir, dan hujan diprakirakan berlangsung hingga siang. “Dengan adanya hujan, suhu udara kembali terasa lebih normal,” ujarnya.
BMKG mencatat, kondisi angin di wilayah Cilacap saat ini bertiup dari arah tenggara hingga barat dengan kecepatan berkisar antara 5 hingga 30 km per jam. Sementara tingkat kelembaban udara cukup tinggi, yakni antara 68 hingga 95 persen.
Ke depan, potensi hujan masih akan terjadi, terutama pada sore hingga malam hari. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi secara tiba-tiba, termasuk kemungkinan hujan lebat disertai petir.
Memasuki bulan Mei 2026, curah hujan di Kabupaten Cilacap diprakirakan berada pada kisaran 100 hingga 150 mm, dengan sifat hujan di bawah normal. Artinya, intensitas hujan diprediksi lebih rendah dibanding kondisi biasanya.
Sementara itu, awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei dasarian kedua. Khusus wilayah pesisir tenggara seperti Binangun dan Nusawungu, musim kemarau diprediksi datang lebih awal, yakni pada dasarian pertama Mei.
Durasi musim kemarau tahun ini diprakirakan berlangsung antara 14 hingga 18 dasarian atau sekitar 140 hingga 180 hari, dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.
BMKG juga mengingatkan bahwa sifat musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dari kondisi normal. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipasi, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan.
“Kami mengimbau instansi terkait dan masyarakat untuk mulai bersiap menghadapi musim kemarau, khususnya dalam mengantisipasi potensi kekeringan,” pungkasnya.