
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Kekeringan mulai dirasakan warga Dusun Romokamal RT 04 RW 04, Desa Jalatunda, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara. Sejumlah sumber air yang selama ini menjadi andalan warga mengering, membuat kebutuhan air bersih sehari-hari semakin sulit dipenuhi.
Di tengah kondisi tersebut, warga kini mengandalkan bantuan distribusi atau droping air bersih. Namun, ketika pasokan belum datang, sebagian warga terpaksa berjalan kaki hingga beberapa kilometer untuk mencari sumber air yang masih tersedia.
Setibanya di lokasi, warga masih harus mengantre untuk mendapatkan air. Kondisi itu menggambarkan beratnya dampak kekeringan yang mulai dirasakan masyarakat di wilayah tersebut. Air yang biasanya mudah diperoleh dari sumber maupun sumur kini menjadi kebutuhan yang harus diperjuangkan setiap hari.
Kabid Infokom PMI Banjarnegara, Aji Piluroso, mengatakan Dusun Romokamal menjadi salah satu wilayah di Desa Jalatunda yang terdampak cukup parah akibat kekeringan.
Menurutnya, sekitar 240 jiwa di dusun tersebut merasakan langsung kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
“Di Dusun Romokamal ada sekitar 240 jiwa yang terdampak cukup parah. Mereka saat ini mengandalkan droping air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Aji.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi setelah sejumlah sumber air di wilayah Jalatunda mengalami kekeringan. Akibatnya, warga harus mencari alternatif untuk memperoleh air, termasuk menunggu bantuan distribusi air bersih.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak, persoalan air bersih bukan sekadar kebutuhan tambahan. Air dibutuhkan untuk berbagai aktivitas rumah tangga, mulai dari memasak, minum, mandi hingga mencuci.
Ketika sumber air di sekitar permukiman tidak lagi mengeluarkan air, warga harus mencari sumber lain yang jaraknya cukup jauh. Tidak jarang mereka harus berjalan kaki beberapa kilometer. Setelah sampai di sumber air yang masih tersedia, mereka juga harus bersabar menunggu giliran karena banyak warga mengalami kondisi serupa. Situasi tersebut membuat aktivitas warga sehari-hari ikut terganggu.
Nuriyah, salah seorang warga setempat, mengatakan warga tidak hanya mengandalkan bantuan droping air. Sebagian masyarakat yang membutuhkan air dalam jumlah lebih banyak terpaksa membeli air bersih.
Salah satu pilihan warga adalah membeli air dari tempat cucian mobil di wilayah Kecamatan Mandiraja. “Kalau tidak ada droping, ada warga yang membeli air. Harganya sekitar Rp300 ribu sampai Rp400 ribu untuk sekitar 500 liter,” kata Nuriyah.
Harga tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi warga, terlebih kebutuhan air bersih harus dipenuhi secara terus-menerus selama sumber air di lingkungan mereka belum kembali tersedia.
Di tengah kondisi kekeringan, distribusi air bersih menjadi salah satu solusi yang paling diharapkan masyarakat. Bantuan tersebut setidaknya dapat meringankan beban warga yang kesulitan memperoleh air dari sumber alami.
Namun, kebutuhan air bersih tidak berhenti pada satu kali distribusi. Selama kekeringan masih berlangsung dan sumber-sumber air belum kembali normal, pasokan air harus dilakukan secara berkala agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Kondisi di Dusun Romokamal sekaligus menjadi gambaran bagaimana musim kering dapat memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama warga yang tinggal di kawasan dengan sumber air terbatas.
Warga berharap bantuan distribusi air bersih dapat terus dilakukan hingga kondisi sumber air kembali normal. Mereka juga berharap ada solusi jangka panjang agar persoalan kekurangan air tidak selalu berulang setiap kali musim kemarau tiba.
Bagi warga Dusun Romokamal, air bersih saat ini bukan lagi sesuatu yang tinggal diambil dari keran atau sumur. Mereka harus berjalan jauh, mengantre, bahkan mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah hanya untuk memenuhi kebutuhan air sekitar 500 liter.
Kekeringan pun bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah menjadi persoalan kebutuhan dasar yang langsung menyentuh kehidupan ratusan warga di Jalatunda.