
SERAYUNEWS-Upaya untuk menekan sedimentasi di Waduk Mrica terus dilakukan melalui tanaman konservasi yang berdampak pada nilai ekonomi bagi masyarakat. Tanaman kopi menjadi pilihan tepat untuk menekan sedimentasi dari hulu DAS Serayu dan terbukti mampu menekan sedimentasi hingga 100.000 meter kubik per tahun.
Senior Manager PT PLN Indonesia Power UBP Mrica Banjarnegara Nazrul Very Andhi mengatakan, konservasi melalui penanaman kopi di wilayah hulu DAS Serayu menjadi prioritas, karena hal ini berpengaruh langsung terhadap kondisi Waduk Mrica.
“Wilayah hulu memang memiliki tingkat kesuburan tinggi, namun saat hujan berpotensi menimbulkan sedimentasi. Tanaman kopi dipilih karena memiliki akar kuat yang mampu menahan erosi sekaligus bernilai ekonomi,” kata Nazrul saat melakukan penanaman 20 ribu bibit kopi di Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, sejak digalakkan pada 2012 lalu, tanaman kopi sebagai konservasi telah berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat. Bahkan hingga kini penanaman kopi telah mencapai sekitar 76.000 batang yang tersebar di lima kecamatan di kawasan hulu. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, dengan sekitar 100.000 meter kubik sedimentasi berhasil ditekan dalam periode 2024–2025.
Saat ini, total sedimentasi di Waduk Mrica diperkirakan mencapai 133 juta meter kubik. Untuk mengatasi hal tersebut, PLN Indonesia Power juga mengembangkan inovasi pemanfaatan sedimen menjadi pupuk organik dengan mencampurkannya bersama enceng gondok dan kotoran ternak.
Ke depan, program konservasi akan diperluas hingga wilayah Sungai Mrawu yang menjadi bagian dari DAS Serayu dan menyumbang sekitar 70 persen sedimentasi ke waduk.
“Dari sisi lingkungan, program ini mampu menekan potensi erosi hingga 13.616,2 meter kubik per tahun serta menyerap karbon sekitar 1.805 ton CO2e per tahun,” tambahnya.
Melalui pendekatan terpadu antara konservasi dan pemberdayaan ekonomi, PLN Indonesia Power berharap inisiatif ini dapat menjadi model pengelolaan lingkungan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Melihat hasil yang positif, maka pihaknya akan terus mengembangkan dan meningkatkan konservasi di wilayah DAS Serayu, adanya penambahan 20 ribu bibit kopi ini diharapkan mampu menekan laju sedimentasi serta meningkatkan ekonomi masyarakat.
Dari sisi ekonomi juga menunjukkan hasil yang menggembirakan, dimana dari luasan lahan kopi sekitar 72,5 hektare dengan sistem tumpangsari, potensi pendapatan kelompok tani setempat mencapai Rp 250 juta per tahun.
“Ini melibatkan tiga kelompok tani dengan total 148 penerima manfaat. Ke depan, kami juga akan mengembangkan untuk wilayah DAS Merayu, sebab sungai Merawu juga ikut andil dalam menyumbang sedimentasi di Waduk Mrica,” katanya.