
SERAYUNEWS – Kasus kekerasan terhadap anak di tempat penitipan atau daycare menjadi sorotan publik.
Peristiwa terbaru yang terjadi di kawasan Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, memunculkan kekhawatiran luas terkait keamanan anak di lembaga pengasuhan tersebut.
Dalam kasus ini, ada dugaan pengelola daycare melakukan tindakan kekerasan dengan mengikat tangan dan menyumpal mulut anak-anak.
Peristiwa tersebut terungkap setelah seorang mantan karyawan melaporkan dugaan kekerasan kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Kota Yogyakarta pada Senin (20/4/2026).
Kasus ini menambah daftar panjang insiden serupa yang menyoroti pentingnya pengawasan terhadap layanan penitipan anak.
Dari sudut pandang psikologi perkembangan, masa balita merupakan periode yang sangat krusial dalam pembentukan aspek kognitif dan emosional anak.
Pada fase ini, perkembangan otak berlangsung sangat cepat, sehingga pengalaman anak akan memberi pengaruh besar terhadap tumbuh kembangnya.
Ahli menjelaskan bahwa kekerasan pada anak pada usia dini tidak selalu tampak secara langsung.
Anak mungkin belum mampu memahami atau mengingat kejadian tersebut secara sadar. Namun, pengalaman tersebut tetap tersimpan dalam bentuk ingatan emosional dan sensasi tubuh.
Artinya, meskipun anak tidak bisa menceritakan apa yang dialami, dampak psikologis tetap ada. Trauma bisa muncul dalam bentuk perubahan perilaku, seperti menjadi lebih mudah takut, sulit percaya pada orang lain, hingga mengalami gangguan emosi.
Lebih jauh, pengalaman buruk di usia dini berpotensi mengganggu pembentukan rasa aman dasar atau basic trust.
Jika kondisi ini tidak segera ditangani, dampaknya dapat berlanjut hingga anak tumbuh dewasa, termasuk memengaruhi kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, dan pola hubungan interpersonal.
Menanggapi kondisi tersebut, para ahli menekankan pentingnya peran orang tua dalam proses pemulihan anak yang mengalami trauma. Langkah pertama adalah mengembalikan rasa aman pada anak.
Orang tua sebaiknya menjauhkan anak dari lingkungan yang memicu ketakutan. Selain itu, kehadiran orang tua yang tenang, konsisten, dan penuh perhatian menjadi faktor penting dalam membantu anak merasa kembali aman.
Dalam proses ini, anak tidak boleh dipaksa untuk menceritakan pengalaman yang dialaminya.
Sebaliknya, orang tua perlu memberikan ruang dan waktu hingga anak siap untuk berbicara. Sikap empati dan kesabaran menjadi kunci utama dalam mendampingi anak.
Selain itu, menjaga rutinitas harian juga sangat penting. Aktivitas seperti makan, tidur, dan bermain secara teratur dapat membantu anak merasa lebih stabil secara emosional.
Orang tua juga sebaiknya memberikan kegiatan yang menenangkan, seperti membacakan cerita atau bermain bersama.
Kasus ini kembali mengingatkan bahwa daycare seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak, bukan sebaliknya.
Lembaga penitipan memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan anak selama berada di bawah pengasuhan mereka.
Pengawasan dari pemerintah, pengelola, serta partisipasi aktif orang tua menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Orang tua perlu lebih selektif dalam memilih daycare, termasuk memastikan lembaga tersebut memiliki izin resmi, tenaga pengasuh yang kompeten, serta sistem pengawasan yang baik.
Di sisi lain, pemerintah juga akan memperkuat regulasi serta melakukan pengawasan berkala terhadap lembaga penitipan anak agar kasus serupa tidak kembali terjadi.***