
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Segelas dirty latte dituang perlahan di atas meja bar. Seorang pengunjung berdiri tak jauh dari situ, matanya mengikuti gerakan tangan sang barista yang meraciknya. Prosesnya berlangsung terbuka, tepat di hadapan orang yang menunggu, bukan di balik dinding dapur seperti kebanyakan kedai kopi. Tidak ada sekat pemisah. Siapa pun yang duduk di depan bar bisa menyaksikan setiap tahap, mulai dari es yang dituang hingga susu yang diaduk pelan-pelan.
Pengunjung itu bernama Danang. Ia baru saja memesan dirty latte, menunggu sambil memperhatikan Ikbal, barista yang meraciknya, bekerja tepat di depan matanya. “Yang paling asyik, pegawainya ramah, menyambut waktu datang. Asyik diajak ngobrol dan sharing,” ujar Danang, Kamis (6/8/2026) menceritakan kesannya usai mencicipi pesanannya. Ia bahkan sempat mencoba meracik kopinya sendiri.
Fenomena seperti ini sebetulnya bagian dari perubahan yang lebih besar. Di Purwokerto, coffee shop belakangan tidak lagi sekadar tempat membeli kopi. Sejumlah kedai baru bermunculan dengan konsep yang mencoba menawarkan sesuatu di luar rasa. Misalnya, desain ala perpustakaan, nuansa vintage, hingga area kerja yang nyaman untuk work from cafe (WFC). Konsep ruang dan pengalaman kini jadi pertimbangan yang tak kalah penting dari racikan kopi.
Kedai tempat Danang duduk sore itu adalah salah satu yang ikut meramaikan tren tersebut: Wombats Kauman Lama, cabang dari Wombats Coffee yang sebelumnya lebih dulu dikenal di Yogyakarta. Menurut Ikbal, kedai ini baru berjalan lima hari sejak dibuka. Lokasinya di Jalan Jenderal Sudirman, Kauman Lama Nomor 716, Purwokerto Wetan, Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas, buka setiap hari pukul 06.00 hingga 22.00 WIB.
Konsep utama Wombats Kauman Lama adalah slow bar. Bar diletakkan di tengah ruang sehingga pengunjung bisa mengamati proses pembuatan kopi sebelum cangkirnya diantar. Menurut Ikbal, pendekatan ini dirancang untuk menjual pengalaman, bukan sekadar produk jadi. Pengunjung bisa berbincang dengan barista sambil menunggu, bahkan mencoba membuat kopinya sendiri jika berminat.
Menu andalan kedai ini mengikuti gaya racikan kopi Australia, dengan nama seperti Magic, Dirty Latte, hingga varian Manual Brew dari beberapa pilihan biji kopi. Racikan ini disebut Ikbal mengikuti resep dari “Bapak Magic Indonesia”, Farchan Noor Rachman, rujukan konsep kopi di kedai pertama mereka di Wijilan, Yogyakarta.

Dibanding kedai pertama di Wijilan yang menurut Ikbal areanya terbatas, cabang Purwokerto punya ruang duduk lebih luas. Meja dan kursi di lantai dua dirancang ergonomis, mengincar pengunjung yang ingin bekerja atau berlama-lama. Ada pula fasilitas loker pakaian dan kamar mandi, ditujukan menurut Ikbal bagi pelari pagi atau pesepeda yang ingin singgah setelah berolahraga.

Pemilihan nama “Kauman Lama” punya alasan tersendiri. Ikbal menjelaskan, penamaan itu mengikuti kebiasaan Wombats menyematkan nama kampung tempat kedai berdiri, seperti di Wijilan, Yogyakarta, sebagai bentuk penghormatan pada sejarah dan ekonomi kawasan setempat. Jika di Yogyakarta pengunjung dibebaskan membawa nasi gudeg dari sekitar kedai, di Purwokerto konsep itu diterjemahkan lewat kolaborasi menu bersama kuliner lokal. Salah satunya menu affogato yang memakai Es Brasil Purwokerto sebagai bagian dari racikannya.
Ikbal mulai bekerja sebagai barista sejak 2018-2019, saat masih semester dua kuliah. Awalnya sekadar mengisi waktu luang sambil mencari uang saku. “Karena ngerasa bukan yang pinter-pinter banget di bidang akademik, yang penting pinter bikin kopi,” katanya, menambahkan bahwa pekerjaan itu perlahan menambah keterampilan dan pengalamannya.
Baginya, menjadi barista bukan sekadar meracik minuman. “Jangan ngerasa puas, terus jangan jadiin barista cuma sebagai gaya-gayaan doang, karena nggak cuma bikin produk, kita ngelayani orang,” ujarnya. Ia memandang profesi ini sebagai soal pelayanan, sama besarnya dengan soal rasa. Pandangan itu, menurutnya, ia bawa juga ke cara Wombats Kauman Lama menyambut pengunjung.
Dirty latte yang tadi diracik kini sudah di tangan Danang. Baginya, menonton proses pembuatan sekaligus mencobanya sendiri adalah yang membuat kunjungan pertama itu terasa berbeda. Ada gula mencair, susu dituang perlahan, dan obrolan singkat antara barista dan pengunjung yang baru saling kenal.
Fenomena ini barangkali bukan cerita satu kedai saja. Di tengah makin banyak pilihan coffee shop di Purwokerto, ruang dan interaksi tampaknya ikut jadi bagian dari yang dicari pengunjung, melengkapi, bukan menggantikan, secangkir kopi. (akhmad sofwan jauhari)