
SERAYUNEWS – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto di tingkat nasional.
Dua mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek), Naufal Abdi Valencia dan Sabrillah Raya Fadwa Adzin Zildani, berhasil meraih Juara II pada Kompetisi Sains dan Teknologi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (KST PTKI) II Tahun 2026 kategori Lomba Pemetaan Tematik menggunakan Google My Maps.
Prestasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa UIN Saizu dalam menghasilkan riset berbasis teknologi geospasial yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menawarkan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan di Indonesia.
Ajang KST PTKI II berlangsung pada 24 April hingga 8 Juni 2026 dan diikuti mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di seluruh Indonesia. Kompetisi ini menjadi wadah pengembangan inovasi, sains, dan teknologi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Dalam kompetisi tersebut, Naufal dan Sabrillah mengusung karya ilmiah berjudul “Pemetaan Kerentanan Airtanah Karst Berbasis Model COP sebagai Dasar Zonasi Perlindungan Sistem Sungai Bawah Tanah Goa Barat, Kebumen.”
Penelitian ini berfokus pada identifikasi tingkat kerentanan airtanah terhadap pencemaran di kawasan tangkapan air sistem sungai bawah tanah Goa Barat, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Melalui pendekatan ilmiah dan teknologi pemetaan digital, penelitian tersebut bertujuan menyediakan dasar data yang dapat digunakan dalam upaya konservasi sumber daya air di kawasan karst yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi terhadap pencemaran.
Sabrillah menjelaskan bahwa kawasan karst memiliki karakteristik geologi yang unik sekaligus rentan terhadap berbagai bentuk pencemaran lingkungan.
Struktur batuan kapur yang berpori memungkinkan air hujan masuk dengan cepat ke dalam sistem akuifer tanpa melalui proses penyaringan alami yang optimal. Kondisi tersebut menjadikan kawasan karst lebih rentan terhadap masuknya berbagai zat pencemar dari permukaan tanah.
Menurutnya, salah satu karakteristik penting kawasan karst adalah keberadaan ponor atau lubang resapan alami yang berfungsi sebagai jalur masuk air permukaan menuju sistem sungai bawah tanah.
“Polutan yang berasal dari aktivitas manusia di permukaan, terutama dari sektor pertanian maupun perubahan penggunaan lahan, dapat dengan mudah masuk ke sistem airtanah karst,” ungkapnya.
Karena itu, kawasan karst membutuhkan pengelolaan lingkungan yang lebih ketat agar kualitas air tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Dalam penelitian ini, tim menggunakan metode COP (Concentration of Flow, Overlying Layers, and Precipitation) sebagai pendekatan utama untuk menganalisis tingkat kerentanan airtanah karst.
Metode COP dikenal luas dalam studi hidrogeologi karena mampu mengintegrasikan berbagai faktor yang memengaruhi risiko pencemaran sumber air bawah tanah.
Beberapa parameter yang dianalisis meliputi:
Untuk meningkatkan akurasi penelitian, tim juga memanfaatkan data primer dan sekunder, termasuk hasil observasi lapangan, identifikasi fitur karst, penelitian terdahulu, uji tracer, hingga analisis hidrokimia.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, sebagian besar daerah tangkapan sistem sungai bawah tanah Goa Barat berada dalam kategori kerentanan airtanah sangat tinggi.
Tingkat kerentanan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain:
Kondisi tersebut memungkinkan berbagai zat pencemar masuk ke sistem airtanah dengan lebih cepat tanpa melalui proses filtrasi yang memadai.
Temuan tersebut juga sejalan dengan penelitian hidrokimia sebelumnya yang menemukan indikasi pencemaran mikrobiologis pada sistem sungai bawah tanah Goa Barat.
Berdasarkan hasil penelitian, tim merekomendasikan penerapan zonasi perlindungan kawasan imbuhan airtanah sebagai langkah strategis menjaga kualitas sumber daya air di kawasan Goa Barat.
Zonasi perlindungan dinilai penting karena dapat menjadi instrumen pengelolaan lingkungan yang mampu mengatur aktivitas manusia berdasarkan tingkat sensitivitas kawasan terhadap pencemaran.
Melalui sistem zonasi tersebut, berbagai aktivitas yang berpotensi mengancam kualitas airtanah dapat dikendalikan secara lebih efektif dan terarah.
Rekomendasi ini menjadi semakin penting mengingat sistem sungai bawah tanah Goa Barat merupakan salah satu sumber air utama yang dimanfaatkan ribuan warga di wilayah sekitarnya.
Selain berfungsi sebagai penyedia air bersih, kawasan karst Goa Barat juga memiliki nilai ekologis dan geologis yang tinggi sebagai bagian dari bentang alam karst Kebumen.
Lomba Pemetaan Tematik pada KST PTKI II mengangkat tema besar degradasi lingkungan. Para peserta ditantang memanfaatkan teknologi geospasial untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan sekaligus menawarkan solusi berbasis data.
Penilaian dilakukan berdasarkan kualitas data, ketepatan metodologi, visualisasi kartografi, inovasi penelitian, hingga relevansi solusi yang ditawarkan.
Keberhasilan Naufal dan Sabrillah meraih Juara II menjadi bukti bahwa mahasiswa UIN Saizu memiliki kapasitas akademik dan kemampuan riset yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Prestasi ini sekaligus memperkuat komitmen UIN Saizu Purwokerto dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, riset lingkungan, dan pemanfaatan teknologi geospasial untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan.
Diharapkan capaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan menghasilkan penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.