
SERAYUNEWS – Minuman isotonik kerap menjadi pilihan sebagian masyarakat saat bulan Ramadhan. Produk ini dianggap mampu membantu menjaga stamina dan mencegah dehidrasi selama berpuasa.
Perubahan pola makan dan minum yang cukup drastis dari bebas sepanjang hari menjadi terbatas hanya saat sahur dan berbuka membuat banyak orang khawatir tubuh kekurangan cairan. Lantas, benarkah minuman isotonik efektif untuk mendukung puasa?
Minuman isotonik dikenal sebagai minuman elektrolit atau sport drink yang diformulasikan untuk membantu proses rehidrasi.
Komposisinya dibuat menyerupai cairan tubuh sehingga lebih cepat diserap dibandingkan minuman biasa.
Secara umum, minuman ini mengandung karbohidrat sederhana sekitar 6–9 persen serta mineral penting seperti natrium, kalium, dan klorida.
Kandungan tersebut berfungsi menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat aktivitas fisik, terutama saat tubuh banyak berkeringat.
Di pasaran, terdapat berbagai merek minuman isotonik yang cukup populer, seperti Pocari Sweat, Mizone, dan ISOPLUS.
Produk-produk ini kerap dikonsumsi saat sahur maupun berbuka dengan harapan tubuh tetap segar selama menjalani puasa.
Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan cairan selama kurang lebih 12–14 jam, bahkan bisa lebih lama tergantung lokasi dan musim.
Kondisi ini dapat memicu rasa lemas, pusing, hingga penurunan konsentrasi, khususnya pada orang yang memiliki aktivitas padat atau bekerja di luar ruangan.
Dalam kondisi tertentu, minuman isotonik memang dapat membantu proses rehidrasi lebih cepat setelah berbuka.
Kandungan elektrolitnya mendukung keseimbangan cairan tubuh, sementara gula sederhana di dalamnya mampu memberikan tambahan energi instan.
Namun, efektivitas minuman ini sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing individu.
Bagi orang dengan aktivitas ringan dan minim keringat, air putih sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidrasi harian.
Sebaliknya, bagi mereka yang banyak beraktivitas fisik, olahraga intens, atau terpapar cuaca panas, minuman isotonik bisa menjadi pilihan tambahan yang membantu.
Ada beberapa manfaat utama minuman isotonik jika dikonsumsi secara tepat.
Pertama, membantu rehidrasi lebih cepat. Karena komposisinya menyerupai cairan tubuh, penyerapan berlangsung relatif efisien sehingga cairan yang hilang dapat segera tergantikan.
Kedua, menggantikan elektrolit yang hilang. Aktivitas berat dapat menyebabkan tubuh kehilangan natrium dan kalium melalui keringat. Ketidakseimbangan elektrolit bisa memicu kram otot hingga rasa lelah berlebihan.
Ketiga, menyediakan energi cepat. Kandungan glukosa atau sukrosa di dalamnya dapat meningkatkan kadar gula darah dalam waktu singkat, sehingga tubuh terasa lebih bertenaga setelah berbuka.
Agar manfaatnya optimal tanpa menimbulkan efek samping, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Minuman isotonik sebaiknya dikonsumsi saat berbuka setelah aktivitas berat, bukan dijadikan minuman harian rutin tanpa alasan jelas. Air putih tetap menjadi sumber hidrasi utama.
Perhatikan juga kandungan gula pada label kemasan. Pilih produk dengan kadar gula lebih rendah dan hindari konsumsi berlebihan.
Bagi individu dengan kondisi medis tertentu, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan sebelum menjadikannya bagian dari menu sahur atau berbuka.
Pada akhirnya, minuman isotonik memang bisa membantu mencegah dehidrasi dalam situasi tertentu selama puasa.
Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Hidrasi seimbang, pola makan bergizi, serta pengaturan aktivitas tetap menjadi kunci utama agar puasa berjalan lancar dan tubuh tetap bugar sepanjang hari.***