
SERAYUNEWS – Puasa Tarwiyah merupakan salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan bagi umat Islam pada bulan Dzulhijjah.
Puasa ini dilaksanakan setiap tanggal 8 Dzulhijjah atau sehari sebelum puasa Arafah dan dua hari menjelang Hari Raya Idul Adha.
Pada kalender Hijriah 1447 H, puasa Tarwiyah diperkirakan jatuh pada Senin, 25 Mei 2026. Ibadah ini banyak diamalkan umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut Idul Adha.
Nama Tarwiyah berasal dari tradisi jamaah haji pada masa dahulu yang menyiapkan persediaan air sebelum berangkat menuju Arafah. Dari sinilah istilah “Tarwiyah” dikenal dalam rangkaian ibadah Dzulhijjah.
Selain menjadi amalan sunnah, puasa Tarwiyah juga dipercaya memiliki banyak keutamaan. Karena dilakukan pada hari-hari terbaik dalam Islam, umat Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah seperti puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.
Sahur menjadi salah satu sunnah yang sangat dianjurkan ketika menjalankan puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah seperti Tarwiyah dan Arafah.
Meski demikian, banyak masyarakat yang masih bertanya apakah puasa Tarwiyah tetap sah jika tidak sempat sahur.
Dalam ajaran Islam, sahur memang bukan syarat sah puasa. Artinya, seseorang tetap diperbolehkan menjalankan puasa meskipun tidak makan sahur terlebih dahulu.
Namun, sahur tetap dianjurkan karena memiliki keberkahan dan membantu menjaga kondisi tubuh selama berpuasa.
Rasulullah SAW bersabda:
“Bersahurlah kalian karena dalam sahur terdapat keberkahan.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak melewatkan sahur jika memungkinkan. Selain mendapatkan energi tambahan, sahur juga menjadi bagian dari sunnah Nabi Muhammad SAW yang bernilai pahala.
Sahur juga membantu tubuh tetap bertenaga saat menjalankan aktivitas harian. Terlebih puasa Tarwiyah dilaksanakan pada cuaca panas menjelang musim haji dan Idul Adha, sehingga asupan makanan dan cairan saat sahur menjadi penting untuk menjaga stamina.
Puasa Tarwiyah tidak harus diawali dengan sahur agar dianggap sah. Dalam hukum Islam, yang menjadi syarat utama puasa adalah niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Artinya, seseorang yang terlambat bangun atau lupa sahur tetap boleh melanjutkan puasa Tarwiyah selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa setelah masuk waktu Subuh.
Para ulama menjelaskan bahwa sahur hukumnya sunnah, bukan kewajiban. Karena itu, tidak sahur tidak membuat puasa menjadi batal. Hal yang berbeda justru berlaku pada niat puasa.
Untuk puasa sunnah seperti Tarwiyah, sebagian ulama memperbolehkan niat dilakukan pada pagi hari sebelum waktu Zuhur, selama orang tersebut belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Hal ini merujuk pada hadis ketika Rasulullah SAW berniat puasa sunnah setelah mengetahui tidak ada makanan di rumah beliau pada pagi hari. Dari penjelasan tersebut, umat Islam dapat memahami bahwa Islam memberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah sunnah.
Meski tidak wajib sahur, umat Muslim tetap dianjurkan makan sahur agar tubuh lebih kuat dan ibadah puasa dapat dijalankan dengan optimal hingga waktu berbuka.
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah. Pada tahun 2026, puasa ini diperkirakan jatuh pada 25 Mei 2026.
Adapun bacaan niat puasa Tarwiyah adalah:
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta’aalaa.
Artinya:
“Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
Niat dapat dibaca sejak malam hari hingga sebelum Zuhur selama belum melakukan pembatal puasa. Banyak ulama menyarankan agar niat dilakukan sejak malam untuk menghindari lupa dan membuat ibadah lebih mantap.
Selain puasa Tarwiyah, umat Islam juga dianjurkan menjalankan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah dikenal memiliki keutamaan besar karena diyakini dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Demikian informasi tentang apakah puasa tarwiyah harus sahur. Semoga menjawab ya.***