
SERAYUNEWS – Puasa Dzulhijjah menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan umat Islam menjelang Hari Raya Idul Adha.
Ibadah ini dilakukan pada awal bulan Dzulhijjah, terutama pada tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan puasa Arafah yang memiliki keutamaan besar.
Meski begitu, masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya mengenai tata cara pelaksanaannya, khususnya terkait niat puasa.
Tidak sedikit umat Muslim yang khawatir puasanya tidak sah karena lupa membaca niat pada malam hari sebelum tidur atau sebelum waktu subuh.
Dalam ajaran Islam, niat memang menjadi bagian penting dalam setiap ibadah, termasuk puasa sunnah Dzulhijjah.
Namun, terdapat beberapa ketentuan yang membuat puasa sunnah memiliki kelonggaran dibandingkan puasa wajib seperti Ramadan.
Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Hijriah. Pada bulan ini terdapat berbagai amalan istimewa yang sangat dianjurkan untuk diperbanyak, mulai dari sedekah, takbir, dzikir, hingga puasa sunnah.
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah bahkan disebut sebagai waktu terbaik untuk beramal saleh. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tidak ada hari yang lebih dicintai Allah SWT untuk melakukan amal ibadah selain hari-hari tersebut.
Karena itulah, banyak umat Islam memanfaatkan awal bulan Dzulhijjah untuk meningkatkan kualitas ibadah sebagai bentuk persiapan spiritual menjelang Idul Adha.
Selain mendatangkan pahala, puasa Dzulhijjah juga dipercaya dapat membantu melatih kesabaran, memperkuat pengendalian diri, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Puasa Dzulhijjah tetap harus diawali dengan niat karena niat merupakan bagian penting dalam ibadah puasa. Namun, karena termasuk puasa sunnah, waktu membaca niat memiliki kelonggaran dibanding puasa wajib Ramadan.
Niat puasa sunnah paling utama dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar atau sebelum tidur. Meski demikian, seseorang masih diperbolehkan berniat pada pagi atau siang hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum sejak subuh.
Kelonggaran ini didasarkan pada sejumlah pendapat ulama mengenai puasa sunnah. Dengan demikian, orang yang lupa berniat pada malam hari tetap bisa melanjutkan puasa Dzulhijjah asalkan syarat tersebut terpenuhi.
Adapun bacaan niat puasa Dzulhijjah yang umum dibaca adalah:
“Nawaitu shauma syahri Dzulhijjah sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: “Saya berniat puasa sunnah Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”
Niat tersebut dapat dibaca dalam hati maupun dilafalkan secara lisan untuk membantu menguatkan tekad dalam beribadah.
Pelaksanaan puasa Dzulhijjah pada dasarnya sama seperti puasa sunnah lainnya. Umat Islam dianjurkan makan sahur sebelum waktu subuh meski sahur bukan syarat sah puasa.
Selama menjalankan puasa, seseorang wajib menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Selain menahan lapar dan haus, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amal saleh selama bulan Dzulhijjah.
Membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, sedekah, hingga menjaga ucapan dan perilaku menjadi bagian penting agar puasa lebih bernilai di sisi Allah SWT.
Ketika waktu berbuka tiba, disunnahkan berbuka dengan makanan sederhana seperti air putih dan kurma sebelum melanjutkan makan utama.
Selain bernilai ibadah, puasa Dzulhijjah juga memiliki manfaat positif bagi kesehatan tubuh. Pola makan yang lebih teratur selama puasa dapat membantu menjaga sistem pencernaan dan mengontrol berat badan.
Puasa juga dipercaya membantu proses detoksifikasi alami tubuh sehingga membuat tubuh terasa lebih ringan dan segar.
Dari sisi spiritual, puasa Dzulhijjah menjadi sarana untuk meningkatkan kedisiplinan, melatih kesabaran, serta memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Dengan memahami tata cara dan ketentuan niat puasa Dzulhijjah, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah sunnah ini dengan lebih tenang dan penuh keyakinan.***