
SERAYUNEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Tengah akan terasa lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, fenomena El Nino kuat yang kerap disebut sebagai “Godzilla El Nino” hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda kemunculan yang signifikan.
Informasi ini mengacu pada data prakiraan musim yang disampaikan BMKG dan materi yang Anda lampirkan.
Prediksi tersebut menjadi perhatian karena Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah yang cukup rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Dampaknya dapat memengaruhi sektor pertanian, menurunkan ketersediaan air bersih, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
BMKG menjelaskan bahwa hingga akhir Maret 2026, kondisi iklim global seperti ENSO (El Nino-Southern Oscillation) dan Indian Ocean Dipole masih berada pada fase netral.
Artinya, belum terdapat sinyal kuat yang mengarah pada kemunculan El Nino ekstrem dalam waktu dekat.
Meski belum ada indikasi El Nino besar, BMKG tetap mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dari kondisi normal.
Hal ini dipengaruhi oleh kombinasi variabilitas iklim alami, perubahan pola musim, dan dinamika atmosfer yang dapat berkembang pada pertengahan tahun.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa awal musim kemarau 2026 di Jawa Tengah secara umum diperkirakan mulai terjadi pada Mei.
Namun, beberapa wilayah diprediksi mengalami peralihan musim lebih awal sejak April 2026.
Daerah yang diperkirakan lebih dulu memasuki musim kemarau meliputi:
Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah pesisir utara dan kepulauan perlu lebih waspada terhadap potensi kekeringan yang datang lebih dini.
Sementara itu, beberapa wilayah lainnya diperkirakan baru memasuki musim kemarau pada pertengahan Juni 2026, antara lain:
Perbedaan waktu awal kemarau ini dipengaruhi oleh kondisi geografis, topografi wilayah, dan pola hujan yang berbeda-beda di setiap daerah. Karena itu, strategi antisipasi di masing-masing wilayah juga perlu disesuaikan.
BMKG menyebut sifat hujan pada musim kemarau tahun ini secara umum berada di bawah normal. Artinya, curah hujan selama periode kemarau diprediksi lebih sedikit dibandingkan rata-rata klimatologis tahunan.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan di berbagai daerah, khususnya wilayah yang masih bergantung pada air hujan untuk kebutuhan pertanian dan air bersih. Dampak paling besar diperkirakan akan dirasakan sektor:
Puncak musim kemarau di Jawa Tengah diprakirakan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode ini, suhu udara umumnya lebih panas dan risiko kekurangan air meningkat di sejumlah wilayah.
Dari sisi durasi, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung selama 16 hingga 18 dasarian atau sekitar lima sampai enam bulan. Namun, beberapa wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih panjang.
Sebagian wilayah di Pati dan Rembang bahkan diperkirakan mengalami musim kemarau hingga 25 sampai 27 dasarian.
Jika dikonversi, durasi tersebut setara dengan sekitar delapan hingga sembilan bulan kondisi kering.
Secara umum, panjang musim kemarau 2026 diprediksi lebih lama sekitar satu hingga tiga dasarian dibanding kondisi klimatologis normal. Kondisi ini menjadi sinyal penting agar masyarakat mulai bersiap sejak sekarang.
Istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada fenomena El Nino dengan kekuatan sangat tinggi yang mampu memicu kemarau ekstrem berkepanjangan.
Belakangan, istilah ini ramai diperbincangkan masyarakat karena kekhawatiran terhadap cuaca panas ekstrem dan kekeringan berat.
Namun, BMKG menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat tanda kemunculan El Nino ekstrem. Berdasarkan pemantauan terakhir, suhu muka laut di Samudra Pasifik tropis masih relatif stabil dan belum cukup kuat memicu dampak besar ke Indonesia.
Meski demikian, peluang berkembangnya El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 masih tetap ada.
Oleh sebab itu, masyarakat diimbau tetap waspada tanpa perlu panik menghadapi berbagai spekulasi yang beredar.
BMKG juga mengingatkan bahwa periode Maret hingga Mei merupakan masa transisi musim, sehingga prediksi iklim masih dapat berubah seiring pembaruan data atmosfer global.
Menghadapi potensi musim kemarau yang lebih panjang, pemerintah daerah diminta memperkuat langkah mitigasi sejak dini. Beberapa langkah antisipasi yang dinilai penting antara lain:
Masyarakat juga diimbau mulai menghemat penggunaan air sejak sekarang. Kesiapsiagaan bersama dinilai menjadi kunci utama agar dampak musim kemarau 2026 dapat diminimalkan secara optimal.