
SERAYUNEWS – Sebanyak 11 wilayah di Jawa Tengah diprediksi akan mengalami musim kemarau dengan durasi paling singkat sepanjang tahun 2026.
Meski secara umum kemarau diperkirakan mulai pada Mei, sejumlah daerah justru lebih cepat memasuki periode kering sejak awal April.
Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah menyampaikan prediksi tersebut dalam laporan prakiraan musim kemarau 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa awal musim kemarau di wilayah ini secara umum terjadi pada Mei 2026.
Namun, terdapat sejumlah zona musim yang mengalami percepatan. Awal kemarau paling dini tercatat pada dasarian pertama April atau periode tanggal 1 hingga 10 April 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peralihan musim tidak terjadi secara seragam di seluruh wilayah.
Menurut BMKG, proses peralihan dari musim hujan ke kemarau tahun ini berlangsung secara bertahap dan akan masih berlanjut hingga Juni 2026.
Variasi ini merupakan pengaruh dari dinamika atmosfer dan kondisi geografis yang berbeda-beda di setiap wilayah.
BMKG mencatat terdapat 11 wilayah di Jawa Tengah yang akan mengalami musim kemarau dengan durasi paling pendek. Wilayah ini mencakup sekitar 12,9 persen dari total zona musim yang ada di provinsi tersebut.
Daerah yang masuk dalam kategori tersebut meliputi Kabupaten Purbalingga, sebagian wilayah Brebes, Tegal, Pemalang, Kendal, dan Kebumen.
Selain itu, sebagian wilayah Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Wonosobo juga termasuk dalam daftar tersebut. Sementara itu, sebagian besar wilayah Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara turut mengalami kondisi serupa.
Durasi kemarau yang lebih singkat di wilayah-wilayah tersebut menandakan bahwa periode kering tidak berlangsung lama sebelum kemungkinan terjadi perubahan pola cuaca kembali.
Meskipun demikian, masyarakat tetap perlu mewaspadai kondisi ini karena dapat memengaruhi aktivitas, khususnya di sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air.
Selain membahas awal dan durasi kemarau, BMKG juga mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem selama masa pancaroba.
Goeroeh Tjiptanto menegaskan bahwa periode peralihan musim kerap memiliki tanda seperti fenomena cuaca yang tidak menentu.
Beberapa potensi yang perlu diwaspadai antara lain hujan lebat berdurasi singkat, petir, angin kencang, hingga kemungkinan terjadinya puting beliung.
Kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan berdampak pada aktivitas harian masyarakat.
Masyarakat sebaiknya tetap siaga serta memperhatikan perkembangan informasi cuaca resmi dari BMKG.
Di sisi lain, BMKG juga memproyeksikan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Tengah akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau 2026.
Kondisi ini berarti jumlah hujan yang turun akan kurang dari 85 persen daripada rata-rata klimatologis.
Jika berlangsung dalam jangka waktu panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan meteorologis.
Dampaknya dapat muncul di berbagai sektor, mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih hingga terganggunya produksi pertanian.
Wilayah yang terdampak mencakup hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah, baik di kawasan pesisir, dataran rendah, maupun pegunungan.
Sementara itu, hanya sebagian kecil wilayah yang memiliki prediksi curah hujan dalam kategori normal. Tidak ada daerah yang diperkirakan mengalami curah hujan di atas normal.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Pengelolaan air secara bijak menjadi salah satu upaya penting untuk menghadapi potensi kekeringan.
Selain itu, kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi juga perlu ditingkatkan, terutama selama masa pancaroba yang rawan cuaca ekstrem.
Di sektor pertanian, penyesuaian pola tanam dapat menjadi strategi untuk mengurangi risiko kerugian akibat perubahan iklim.***