
SERAYUNEWS – Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif bergerak cepat memimpin penanganan darurat banjir bandang yang menerjang wilayah lereng Gunung Slamet, Kabupaten Purbalingga.
Pemerintah daerah langsung mengerahkan seluruh unsur terkait untuk percepatan evakuasi dan pembersihan material bencana.
Bupati Fahmi meninjau langsung sejumlah titik terdampak banjir bandang dan angin ribut di Kecamatan Mrebet dan Karangreja, didampingi Forkopimda, BPBD, TNI, Polri, serta perangkat daerah terkait, Sabtu (24/1/2026).
Bencana terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 23–24 Januari 2026, pukul 22.00–03.00 WIB, akibat hujan berintensitas tinggi di wilayah lereng Gunung Slamet.
“Banjir bandang membawa banyak material, mulai dari batu, kayu, pohon, lumpur yang berasal dari area hutan (pegunungan, red),” kata Bupati Fahmi.
Berdasarkan data BPBD Purbalingga, di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, tercatat 78 rumah terdampak luapan banjir, tujuh rumah hanyut, puluhan hewan ternak mati, serta tiga rumah rusak berat. Selain itu, dua jembatan terputus, tujuh sepeda motor, dan dua mobil hilang terbawa arus.
Sementara di Kecamatan Karangreja, tepatnya Desa Kutabawa Dusun Bambangan, tercatat 29 rumah rusak ringan, sekitar 60 hektare lahan pertanian gagal panen, 1.000 sak pupuk serta alat pertanian hilang, tiga sepeda motor hanyut, akses jalan kabupaten tertutup material longsor sepanjang 12 meter, dan jembatan penghubung Kutabawa–Clekatakan ambruk.
Kerusakan terparah terjadi di Desa Serang. Di Dusun Kaliurip, 36 rumah rusak berat akibat tertimbun lumpur, batu, dan kayu, enam rumah rata dengan tanah, serta sekitar 500 jiwa mengungsi.
Di Dusun Gunung Malang, tercatat 12 rumah rusak berat, enam rumah terancam, dua ruas jalan kabupaten terputus, dan dua jembatan rusak.
“Kejadian bencana ini menyebabkan satu warga luka berat dan satu korban meninggal dunia,” kata bupati.
Bupati Fahmi mengapresiasi sinergi BPBD, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat dalam penanganan darurat, mulai dari pembukaan sumbatan sungai, pembersihan material, hingga evakuasi warga.
“Banyaknya titik bencana memaksa penanganan harus dilakukan secara bertahap. Semisal pada pemakaian alat berat yang jumlahnya terbatas sehingga harus bergantian,” jelas bupati.
Pemkab Purbalingga akan melanjutkan penanganan dengan penyaluran bantuan sembako, air bersih, serta bantuan bagi pengungsi berupa tempat pengungsian dan dapur umum.
Pemerintah daerah juga berharap dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat agar penanganan bencana dapat berjalan cepat dan optimal.