
SERAYUNEWS — Di tengah hiruk pikuk Pasar Pon, Purwokerto Barat, tersimpan kisah inspiratif tentang ketekunan dan kesabaran. Sucipto, seorang juru parkir asal Banyumas, akhirnya dipastikan berangkat menunaikan ibadah haji pada 14 Mei 2024 setelah menanti selama belasan tahun.
Perjalanan Sucipto menuju Tanah Suci bukan proses instan. Ia mulai mendaftar dan menabung sejak 2012, dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp50.000 per hari dari jasa parkir.
Dengan disiplin, ia menyisihkan sebagian pendapatan setelah memenuhi kebutuhan keluarga.
“Saya menabung setiap hari semampunya setelah membayar sekolah ketiga anak saya,” kenang Sucipto.
Selain menjadi juru parkir sejak 1999, ia juga bekerja sebagai penjaga malam di sebuah perumahan dengan penghasilan sekitar Rp900.000 per bulan. Prioritas utamanya tetap keluarga, terutama pendidikan tiga anaknya.
Demi melunasi biaya awal pendaftaran haji, Sucipto bahkan rela menjual sebidang tanah miliknya. Baginya, tanah dapat dicari kembali, sementara kesempatan memenuhi panggilan ibadah adalah prioritas spiritual yang tidak ingin ia tunda.
Keputusan tersebut menjadi bukti kesungguhan dan komitmennya dalam meraih rukun Islam kelima.
Menjelang keberangkatan, Sucipto tidak hanya mempersiapkan mental dan spiritual. Ia juga rutin melakukan latihan fisik sederhana seperti berjalan kaki untuk menjaga kebugaran.
Seluruh persyaratan administratif dan kesehatan, termasuk vaksinasi, telah ia selesaikan sebagai bagian dari proses keberangkatan.
Kini, ia memfokuskan diri pada doa dan persiapan ibadah, serta menyusun harapan yang akan ia panjatkan di depan Kakbah.
Keberangkatan Sucipto tidak hanya membahagiakan keluarga, tetapi juga warga di lingkungan tempatnya bekerja dan tinggal. Para warga di perumahan tempat ia berjaga malam turut memberikan doa dan dukungan.
“Nelangsa, kadang senang gitu. Warga perumahan yang saya mengaji di situ pada bangga, menyelamati saya. Tiga RT itu senang sama saya. Alhamdulillah, rukun Islam kelima bisa tercapai, saya sangat semangat,” ungkapnya dengan haru.
Kisah Sucipto menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju cita-cita besar tidak selalu ditentukan oleh kondisi ekonomi, melainkan oleh konsistensi, disiplin, dan niat yang kuat.
Dari peluit parkir di Pasar Pon hingga panggilan ke Tanah Suci, ia membuktikan bahwa keteguhan hati mampu mengantarkan seseorang pada tujuan spiritual yang telah lama diimpikan.