
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Dieng Culture Festival (DCF) 2026 bakal kembali digelar di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, pada 28–30 Agustus 2026. Mengusung tema “Spirit of Harmony”, festival ini membawa pesan tentang keberagaman, kebersamaan, dan upaya menjaga Dieng sebagai ruang budaya yang terus hidup.
Namun, di balik kemeriahan DCF yang kini dikenal hingga mancanegara, terdapat perjalanan panjang yang berawal dari upaya masyarakat Dieng merawat tradisi sekaligus mengembangkan potensi wisata daerah.
Salah satu tradisi yang menjadi identitas kuat festival tersebut adalah ruwatan dan pemotongan rambut gimbal.
Lantas, bagaimana perjalanan Dieng Culture Festival hingga menjadi salah satu festival budaya yang dikenal luas?
Jauh sebelum Dieng Culture Festival menjadi agenda wisata yang ditunggu pengunjung, masyarakat Dieng telah memiliki tradisi ruwatan dan pemotongan rambut gimbal.
Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi kegiatan budaya yang lebih luas. Masyarakat dan pemuda Desa Dieng Kulon pernah menggelar Pekan Budaya Dieng, sebuah kegiatan yang memadukan tradisi lokal dengan potensi wisata Dataran Tinggi Dieng.
Beberapa tahun kemudian, muncul gagasan membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa. Kehadiran kelompok tersebut membuat pengembangan kegiatan budaya dan pariwisata Dieng mulai ditata secara lebih serius.
Nama Pekan Budaya Dieng kemudian berkembang menjadi Dieng Culture Festival.
DCF pertama kali diselenggarakan pada 2010 melalui kerja sama Pokdarwis Dieng Pandawa dengan Dieng Ecotourism yang saat itu dimotori Alif Faozi.
Sejak awal, festival tersebut tidak hanya dirancang sebagai pertunjukan budaya. DCF membawa misi lebih besar untuk menjadikan potensi budaya dan alam Dieng sebagai kekuatan yang dapat mendorong perekonomian masyarakat setempat.
Penggagas Dieng Culture Festival, Alif Faozi, menjelaskan bahwa DCF dibangun dengan mempertemukan tiga unsur utama, yakni kekayaan budaya masyarakat Dieng, potensi wisata alam Dataran Tinggi Dieng, serta pemberdayaan masyarakat.
Ketiga unsur tersebut kemudian menjadi fondasi penyelenggaraan DCF dari tahun ke tahun.
Pelaksanaan festival melibatkan berbagai pihak, mulai dari kelompok sadar wisata, masyarakat, komunitas seni dan budaya, pelaku usaha, organisasi, hingga instansi pemerintah.
Konsep tersebut membuat DCF berkembang dari kegiatan masyarakat menjadi festival budaya yang memiliki daya tarik wisata semakin luas.
Puluhan ribu pengunjung memadati Dieng dalam berbagai penyelenggaraan DCF. Mereka tidak hanya datang untuk menikmati lanskap pegunungan dan udara sejuk, tetapi juga ingin merasakan atmosfer budaya yang menjadi identitas kawasan tersebut.
Seiring perkembangannya, DCF menghadirkan semakin banyak kegiatan. Salah satu yang paling dikenal adalah Jazz Atas Awan, pertunjukan musik yang berlangsung di tengah atmosfer pegunungan Dieng.
Perpaduan musik, panorama pegunungan, dan udara dingin membuat Jazz Atas Awan memiliki karakter tersendiri.
Selain musik, DCF juga menghadirkan berbagai kegiatan budaya dan kreatif, seperti Festival Film Dieng, Festival Lampion, Camping DCF, Sendratari Rambut Gimbal, hingga pameran seni dan budaya.
Festival tersebut juga memberikan ruang bagi produk lokal. Pameran kopi dan berbagai produk UMKM menjadi bagian dari upaya mempertemukan wisatawan dengan hasil kreativitas masyarakat Banjarnegara.
Dengan berbagai rangkaian tersebut, DCF tidak hanya menjadi panggung hiburan. Festival ini juga menjadi ruang promosi budaya, destinasi wisata, ekonomi kreatif, dan produk lokal.
Di antara berbagai rangkaian kegiatan, ruwatan dan pemotongan rambut gimbal menjadi salah satu prosesi yang paling kuat secara budaya.
Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal pada anak bukan sekadar persoalan penampilan. Fenomena tersebut telah lama menjadi bagian dari kepercayaan dan tradisi masyarakat setempat.
Dalam cerita yang berkembang secara turun-temurun, anak-anak yang rambutnya tumbuh gimbal secara alami dipercaya sebagai titisan Kyai Kolo Dete.
Kyai Kolo Dete dikenal dalam kisah masyarakat sebagai tokoh yang memiliki hubungan dengan sejarah awal kehidupan masyarakat di Dataran Tinggi Dieng.
Bersama istrinya, Nini Roro Rence, ia dipercaya mendapat amanah untuk membawa masyarakat Dieng menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, kemunculan anak-anak berambut gimbal kemudian dikaitkan dengan kesejahteraan Dieng. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang terus diceritakan lintas generasi.
Tradisi masyarakat Dieng mengenal keyakinan bahwa rambut gimbal tidak boleh dipotong sembarangan.
Pemotongan rambut dilakukan melalui prosesi khusus yang didahului berbagai ritual. Dalam tradisi tersebut, anak yang akan menjalani pemotongan rambut biasanya menyampaikan permintaan atau keinginan tertentu yang perlu dipenuhi.
Rangkaian ritual menjadi bagian penting sebelum prosesi utama dilakukan.
Secara tradisional, doa dan ritual dilakukan di sejumlah lokasi yang dianggap memiliki nilai penting bagi masyarakat Dieng.
Beberapa di antaranya yakni Candi Dwarawati, Kompleks Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balikambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, kawasan Telaga Warna, Kali Pepek, hingga tempat pemakaman di Dieng.
Setelah rangkaian doa selesai, prosesi dilanjutkan dengan kirab menuju lokasi pencukuran.
Anak berambut gimbal berada dalam iring-iringan yang dikawal para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok seni tradisional, dan warga.
Prosesi tersebut bukan sekadar tontonan wisata. Bagi masyarakat Dieng, ruwatan merupakan bagian dari penghormatan terhadap tradisi dan warisan leluhur yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Perjalanan Dieng Culture Festival menunjukkan bagaimana sebuah tradisi lokal dapat berkembang menjadi kekuatan budaya dan pariwisata tanpa harus kehilangan akar sejarahnya.
Festival yang bermula dari kegiatan masyarakat dan pemuda Dieng Kulon tersebut kini menjadi salah satu agenda budaya yang ikut mengangkat nama Dieng di tingkat nasional dan internasional.
Di tengah arus modernisasi, DCF menawarkan pengalaman berbeda: menyaksikan tradisi yang tetap hidup di tengah masyarakat dan berpadu dengan kreativitas serta potensi wisata alam.
Di situlah kekuatan Dieng Culture Festival. DCF bukan sekadar festival musik dan bukan pula hanya pertunjukan budaya.
Festival ini menjadi pertemuan antara tradisi, alam, kreativitas, dan ekonomi masyarakat.
Pada 28–30 Agustus 2026, denyut Dieng Culture Festival kembali terasa di Dataran Tinggi Dieng.
Mengusung tema “Spirit of Harmony”, DCF 2026 membawa pesan bahwa keberagaman tidak harus menjadi sekat, tetapi dapat menjadi energi untuk membangun kebersamaan.
Bagi wisatawan, DCF mungkin menjadi kesempatan menikmati musik, seni, lampion, dan panorama pegunungan.
Namun, bagi masyarakat Dieng, festival tersebut memiliki makna yang lebih dalam. DCF menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan budaya sekaligus membuka ruang bagi masa depan.
Di antara kabut, udara dingin pegunungan, dan riuh pengunjung, tradisi rambut gimbal tetap menjadi pengingat bahwa jauh sebelum Dieng dikenal sebagai destinasi wisata, kawasan tersebut telah memiliki cerita dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, Dieng Culture Festival bukan hanya tentang bagaimana sebuah festival digelar, tetapi bagaimana masyarakat menjaga identitas agar tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.