
SERAYUNEWS- Puasa Ramadan yang dijalankan umat Islam setiap tahun ternyata bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.
Sejumlah dokter mengungkapkan bahwa selama bulan Ramadan, jumlah pasien yang datang ke rumah sakit, khususnya kasus gawat darurat, cenderung menurun dibandingkan bulan-bulan biasa.
Fenomena ini menarik perhatian kalangan medis karena menunjukkan bahwa pola hidup yang lebih teratur selama Ramadan memberi pengaruh positif pada tubuh. Selain menahan lapar dan haus, umat Muslim juga dianjurkan menjaga emosi serta mengontrol pola makan.
Di sisi lain, peningkatan pasien sering kembali terjadi setelah Lebaran. Perubahan pola makan secara drastis serta konsumsi makanan manis dan tinggi lemak disebut menjadi faktor utama meningkatnya kembali kasus kesehatan di masyarakat. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Dokter umum sekaligus Kepala IGD RS Prikasih Jakarta Selatan, dr. Gia Pratama Putra, mengungkapkan bahwa jumlah pasien gawat darurat cenderung menurun ketika masyarakat menjalankan puasa Ramadan dengan baik.
Menurutnya, selama Ramadan banyak orang lebih mampu mengontrol emosi dan menjaga pola makan. Kondisi tersebut membuat tekanan darah, kadar gula darah, serta stres tubuh menjadi lebih stabil.
“Sepanjang tahun selalu begitu. Pas bulan Ramadan pasiennya jumlahnya menurun,” ujar dr. Gia dalam sebuah kegiatan diskusi kesehatan Ramadan.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang mudah marah atau mengalami stres berkepanjangan, tubuh akan memproduksi hormon kortisol. Hormon ini dapat meningkatkan tekanan darah dan memperbesar risiko penyakit serius seperti stroke atau serangan jantung.
Sebaliknya, selama Ramadan banyak orang berusaha menahan emosi serta mengatur pola makan. Kombinasi tersebut membuat kondisi tubuh menjadi lebih stabil sehingga risiko penyakit akut menurun.
Selama Ramadan, frekuensi makan biasanya terbatas pada dua waktu utama, yaitu sahur dan berbuka puasa. Hal ini secara tidak langsung membuat pola makan menjadi lebih teratur dibandingkan hari biasa.
Ketika seseorang makan secara terkontrol dan tidak terlalu sering mengonsumsi camilan tinggi garam atau gula, tubuh dapat menjaga keseimbangan metabolisme. Kadar gula darah pun cenderung lebih stabil sehingga mengurangi risiko komplikasi kesehatan.
Namun setelah Lebaran, situasinya sering berubah. Berbagai makanan khas seperti kue manis dan camilan tinggi lemak tersedia dalam jumlah besar, sehingga banyak orang kembali makan secara berlebihan.
Kondisi inilah yang menurut dokter sering menyebabkan peningkatan pasien di rumah sakit setelah Ramadan berakhir.
Dokter spesialis penyakit dalam dari RSCM Kencana, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa puasa dapat memberi manfaat kesehatan jika dilakukan dengan pola makan yang tepat.
Menurutnya, menjaga asupan cairan saat sahur dan memilih makanan bergizi seimbang membantu tubuh tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa.
Ia juga menekankan pentingnya konsumsi karbohidrat, protein, dan lemak sehat dalam jumlah cukup agar tubuh memiliki energi sepanjang hari.
Selain itu, sejumlah penelitian kesehatan menunjukkan bahwa puasa dapat membantu proses detoksifikasi alami tubuh, menstabilkan kadar gula darah, serta meningkatkan sensitivitas insulin.
Puasa bukan hanya praktik kesehatan, tetapi juga perintah agama yang memiliki hikmah besar bagi manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan dan kebaikan bagi manusia.
1. Surah Al-Baqarah Ayat 183
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa puasa merupakan ibadah yang bertujuan membentuk ketakwaan sekaligus menjaga keseimbangan hidup manusia.
2. Surah Al-Baqarah Ayat 184
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Ayat ini sering dijadikan rujukan bahwa puasa membawa manfaat bagi manusia, termasuk manfaat bagi kesehatan tubuh.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa puasa memiliki berbagai manfaat medis apabila dijalankan dengan pola makan yang benar.
1. Mengontrol kadar gula darah
Puasa membantu tubuh mengatur penggunaan energi sehingga kadar gula darah menjadi lebih stabil.
2. Menurunkan risiko penyakit jantung
Dengan mengurangi konsumsi makanan berlebihan, kadar kolesterol dan tekanan darah dapat lebih terkontrol.
3. Membantu proses detoksifikasi alami
Saat tubuh tidak menerima makanan dalam waktu tertentu, organ seperti hati dapat bekerja membersihkan racun secara lebih optimal.
4. Menurunkan berat badan
Pembatasan waktu makan dapat membantu tubuh membakar lemak sebagai sumber energi.
5. Mengontrol emosi dan stres
Puasa juga melatih pengendalian diri sehingga membantu menurunkan tingkat stres yang berdampak pada kesehatan fisik.
Banyak pakar kesehatan menilai puasa sebagai salah satu bentuk pola hidup sehat alami. Dalam praktiknya, puasa tidak hanya menahan lapar tetapi juga melatih disiplin makan, pengendalian emosi, serta memperbaiki kualitas tidur.
Kombinasi faktor-faktor tersebut menjadikan Ramadan sebagai momen penting untuk memperbaiki gaya hidup. Jika kebiasaan sehat selama puasa dapat dipertahankan setelah Ramadan, manfaatnya akan terasa dalam jangka panjang.
Karena itu, para dokter mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga pola makan sehat setelah Lebaran agar manfaat kesehatan Ramadan tidak hilang begitu saja.
Puasa Ramadan bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan yang terbukti secara medis. Pola makan teratur, pengendalian emosi, serta pengurangan konsumsi makanan berlebihan membuat tubuh berada dalam kondisi lebih stabil.
Jika kebiasaan baik selama Ramadan dipertahankan sepanjang tahun, puasa bukan hanya membawa pahala tetapi juga menjadi kunci gaya hidup sehat bagi banyak orang.