
SERAYUNEWS – Semangat gotong royong yang dirumuskan Bung Karno sebagai “Eka Sila” dalam sidang BPUPKI ternyata bukan sekadar konsep politik modern.
Nilai tersebut telah mengakar kuat sejak masa Hindu–Buddha dan tercermin nyata dalam proses pembangunan candi-candi besar di Jawa.
Pemahaman itu mengemuka dalam kegiatan Fasilitasi Kunjungan Lapangan guru sejarah SMA/SMK se-Kabupaten Banjarnegara di Candi Plaosan dan Candi Sewu, Klaten, Rabu (11/2/2026).
Kegiatan ini diikuti belasan guru sejarah yang tergabung dalam Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Banjarnegara dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah.
Rombongan dipimpin Ketua AGSI Banjarnegara Candra Bahara, Ketua MGMP Sejarah SMK Fajar Amrulloh, serta perwakilan MGMP Sejarah SMA Adi Riski Hidayat.
Para guru menelusuri detail arsitektur, relief, hingga latar sejarah kedua candi untuk memperkaya pendekatan pembelajaran berbasis pendalaman materi dan penguatan karakter.
Pemandu Candi Plaosan, Nuri, menjelaskan bahwa kompleks Candi Plaosan dibangun oleh para rakai atau penguasa lokal dari berbagai wilayah di Jawa.
Hal tersebut dibuktikan melalui inskripsi yang ditemukan pada puluhan candi perwara yang mengelilingi candi utama.
“Yang menarik, terdapat nama Rakai Pikatan di sini. Padahal beliau dikenal sebagai penganut Hindu, sementara Plaosan merupakan candi Buddha. Di Candi Sewu pun keterlibatan berbagai pihak terlihat jelas. Ini menunjukkan semangat gotong royong sudah sangat kuat pada masa itu,” katanya.
Menurut Nuri, kolaborasi lintas keyakinan dalam pembangunan candi menjadi bukti nyata bahwa toleransi dan kerja bersama telah hidup sejak berabad-abad lalu.
Tak hanya mencerminkan toleransi, Plaosan juga menyimpan simbol penting tentang kemajuan peradaban.
Pada relung utama bagian selatan, terdapat relief Buddha yang digambarkan sedang memegang kitab, dengan simbol bulan sabit di sekitarnya.
“Itu menjadi penanda bahwa ilmu pengetahuan sudah mendapat tempat penting dalam kehidupan masyarakat saat itu,” katanya.
Candi Plaosan juga kerap dikaitkan dengan kisah kedekatan Rakai Pikatan dan Pramudyawardani.
Nilai historis dan romantisme tersebut menjadikan kompleks candi ini populer sebagai lokasi foto pranikah.
Ketua AGSI Banjarnegara Candra Bahara menegaskan pentingnya kegiatan lapangan semacam ini bagi guru sejarah, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.
“Sekarang sumber belajar sangat melimpah, termasuk dari AI dan berbagai platform digital. Kalau guru hanya menyampaikan informasi dasar, siswa bisa mendapatkannya dengan mudah di internet. Yang dibutuhkan siswa adalah pemahaman yang lebih mendalam, analisis yang kuat, dan nilai karakter yang bisa diteladani,” katanya.
Melalui kunjungan langsung ke situs sejarah, para guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan reflektif.
Pembelajaran tidak hanya berhenti pada hafalan tahun dan nama tokoh, tetapi juga menggali nilai toleransi, kolaborasi, dan semangat gotong royong yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dipelajari dan dihidupkan kembali dalam praktik pendidikan generasi muda.