SERAYUNEWS – Sholat tarawih merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan selama bulan Ramadan.
Walaupun biasanya dilaksanakan secara berjemaah di masjid, terkadang ada kondisi tertentu yang membuat seseorang, khususnya kaum perempuan, memilih untuk melaksanakannya di rumah.
Dalam hal ini, perempuan sering kali menghadapi dilema antara beribadah secara berjemaah atau sendiri. Ini menjadi pertimbangan penting mengingat kenyamanan dan keutamaan ibadah tersebut.
Sholat tarawih memiliki hukum yang signifikan, terutama bagi wanita. Menurut buku “Tuntunan Shalat Sunnah Tarawih”, sholat ini termasuk sunnah muakkad, yang artinya sangat dianjurkan untuk dilaksanakan baik pria maupun wanita.
Mereka yang melakukan sholat tarawih selama bulan Ramadan akan mendapatkan pengampunan atas dosa-dosanya, sebagaimana disampaikan dalam hadis berikut:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa yang melaksanakan ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya.” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Menurut informasi dari NU Online, pelaksanaan sholat tarawih dianjurkan dilakukan secara berjemaah. Namun, bagi mereka yang berada dalam keadaan uzur, diperbolehkan untuk melaksanakan sholat tarawih secara individual.
Rasulullah SAW pun tidak selalu melaksanakan sholat tarawih di masjid. Beliau juga melakukannya di rumah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
“Rasulullah pada suatu malam sholat di masjid, banyak orang pun sholat mengikuti beliau. Namun, pada malam ketiga atau keempat, ketika jamaah sudah berkumpul, Rasulullah tidak keluar menemui mereka.
Pagi harinya, beliau bersabda, ‘Aku melihat apa yang kalian lakukan malam itu. Namun, aku tidak keluar karena aku khawatir jika sholat ini diwajibkan kepada kalian.” (HR Bukhari dan Muslim).
Wanita diperbolehkan melaksanakan sholat tarawih di rumah, terutama jika keluar rumah dapat menimbulkan godaan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy di laman Muslim. Dalam kondisi tertentu, sholat tarawih di rumah dianggap lebih utama.
Penjelasan ini berlandaskan hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Humaid, istri Abu Humaid As Saa’idiy, yang pernah mendatangi Rasulullah SAW dan menyampaikan rasa senangnya jika dapat sholat bersamanya. Rasulullah pun menjawab:
“أَنا عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ… وَصَلاَتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِي.”
Artinya: “Aku tahu bahwa engkau sangat senang jika bisa sholat bersamaku. Sholatmu di rumah lebih baik daripada sholatmu di masjid kaummu. Dan sholatmu di masjid kaummu lebih baik daripada sholatmu di masjidku.”
Namun, jika pergi ke masjid tidak menimbulkan fitnah dan memberikan manfaat lain, seperti mendengarkan nasihat dari orang berilmu, maka sholat tarawih di masjid diperbolehkan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum sholat tarawih bagi wanita adalah diperbolehkan, baik di rumah maupun di masjid, dengan mempertimbangkan keutamaan dan syarat-syaratnya masing-masing.***