
SERAYUNEWS – Peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi kembali menjadi perhatian umat Islam di Indonesia.
Momen turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap 17 Ramadan ini dipastikan jatuh pada awal Maret 2026.
Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, terdapat perbedaan tanggal antara versi Muhammadiyah dan pemerintah.
Perbedaan tersebut bukan tanpa alasan. Penetapan 17 Ramadan sangat bergantung pada keputusan awal Ramadan yang ditentukan melalui metode berbeda.
Di Indonesia, dua pendekatan yang umum digunakan adalah metode hisab oleh organisasi Islam dan hasil sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama.
Makna Nuzulul Quran dalam Tradisi Islam
Secara historis, Nuzulul Quran dipahami sebagai peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira.
Peristiwa ini menjadi tonggak awal risalah kenabian dan menjadi dasar pedoman hidup umat Islam hingga kini.
Peringatan 17 Ramadan biasanya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, tadarus Al-Qur’an, hingga refleksi spiritual.
Banyak masjid dan lembaga keagamaan menggelar kajian khusus untuk memperdalam pemahaman terhadap isi Al-Qur’an.
Karena pentingnya momen ini, masyarakat pun mulai mencari informasi mengenai tanggal pasti Nuzulul Quran 2026 jauh-jauh hari sebelum pertengahan Ramadan.
Kapan Nuzulul Quran 2026?
Organisasi Islam Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal Ramadan 1447 H melalui maklumat resmi Pimpinan Pusat.
Berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Dengan dasar perhitungan tersebut, maka 17 Ramadan atau Nuzulul Quran versi Muhammadiyah diperkirakan bertepatan dengan Jumat, 6 Maret 2026.
Metode hisab yang digunakan Muhammadiyah merupakan sistem perhitungan astronomi yang menitikberatkan pada posisi bulan secara ilmiah.
Jika secara matematis hilal sudah memenuhi kriteria, maka bulan baru dinyatakan dimulai tanpa menunggu rukyatul hilal atau pengamatan langsung.
Pendekatan ini membuat Muhammadiyah dapat menetapkan kalender Hijriah jauh hari sebelumnya, termasuk tanggal-tanggal penting seperti Ramadan, Idulfitri, dan Nuzulul Quran.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Ramadan 1447 H berdasarkan sidang isbat yang melibatkan para ulama, ahli astronomi, dan perwakilan organisasi Islam.
Hasil sidang isbat menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Dengan demikian, 17 Ramadan versi pemerintah diperkirakan jatuh pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Sidang isbat menggabungkan metode hisab dan rukyat. Artinya, selain perhitungan astronomi, pemerintah juga mempertimbangkan hasil pengamatan hilal secara langsung di berbagai titik pemantauan di Indonesia sebelum mengambil keputusan resmi.
Tanggal yang ditetapkan pemerintah ini menjadi acuan nasional dan biasanya digunakan dalam agenda resmi kenegaraan maupun kegiatan keagamaan di instansi pemerintah.
Mengapa Terjadi Perbedaan?
Perbedaan satu hari dalam penetapan Nuzulul Quran 2026 merupakan konsekuensi dari perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah.
Ketika awal Ramadan berbeda satu hari, maka otomatis seluruh penanggalan selama bulan tersebut juga bergeser, termasuk peringatan 17 Ramadan.
Meski demikian, perbedaan ini bukanlah hal baru di Indonesia. Setiap tahun, masyarakat telah terbiasa dengan kemungkinan adanya selisih satu hari dalam penetapan awal puasa maupun hari-hari penting lainnya.
Para tokoh agama pun kerap mengimbau umat untuk tetap saling menghormati perbedaan tersebut. Substansi Nuzulul Quran tidak berubah, yakni sebagai momentum memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an dan meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan.
Momentum Memperdalam Al-Qur’an
Terlepas dari perbedaan tanggal, Nuzulul Quran 1447 H tetap menjadi kesempatan berharga bagi umat Islam untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an.
Banyak kalangan memanfaatkan momen ini untuk menambah target tilawah, mengikuti kajian tafsir, hingga memperbaiki pemahaman terhadap kandungan ayat-ayat suci.
Ramadan sendiri dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Karena itu, peringatan Nuzulul Quran bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ajakan untuk kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan mengetahui jadwal versi Muhammadiyah maupun pemerintah, masyarakat dapat menyesuaikan peringatan sesuai dengan keyakinan dan pedoman yang diikuti masing-masing.***







