Jumat, 24 September 2021

Keluarga Pasien Ngamuk, Kaca Kamar Jenazah RSUD Cilacap Dipecah

rsuda cilacap, serayunews, serayu news, berita terkini, berita hari ini, cilacap
RSUD Cilacap. (Ulul Azmie)

RSUD Cilacap dikabarkan sempat alami keributan dengan keluarga pasien yang tidak terima, salah satu anggota keluarganya meninggal dengan diagnosa Covid-19. Bahkan saking tidak terima dan merasa dicovidkan, anggota keluaga tersebut mengamuk hingga pecahkan kaca rumah sakit.


Cilacap, serayunews.com

Ketegangan terjadi antara pihak RSUD Cilacap dan salah satu keluarga pasien yang meninggal dengan diagnosa Covid-19 di kamar jenazah rumah sakit. Karena pegawai panik atas sikap keluarga yang tidak terima dan mengamuk , akhirnya pihak rumah sakit meminta bantuan Satpol PP untuk menanganinya.

“Sempat tegang keluarganya tidak mau dicovidkan, padahal jenazahnya itu karena Covid, keluarganya sampai ngamuk pecahin kaca kamar jenazah kemudian kita lerai, alhamdulillah setelah ditangani bisa diselesaikan dan saling menerima,” ujar Kasi Opasdal Satpol PP Cilacap Mukhamar, Minggu (11/07/2021).

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Cilacap dr Heri Kusdianto membenarkan dan tidak membantah atas peristiwa itu, namun pihaknya tidak sepakat kalau pihaknya dituduh mengcovidkan pasiennya. Menurutnya, ada kesalah pahaman pada kejadian tersebut.

“Hanya salah komunikasi aja salah paham, bukan dicovidkan, tapi memang (positif) Covid setelah di swab antigen. Sekarang banyak yang dipicu kabar RS mengcovidkan orang untuk mencari pendapatan. Sebenarnya kita tidak mengcovidkan, namun pasien itu masuk kriteria Covid,” ujar dr Heri Kusdianto didampingi Kabid Pelayanan Penunjang Medis Teguh Riyadi.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Cilacap dr Heri Kusdianto didampingi Kabid Pelayanan Penunjang Medis Teguh Riyadi. (Ulul Azmie)

Heri mengatakan, pihaknya bukan mengcovidkan pasien, namun ada kriterianya mulai dari suspect hingga diagnosa positif Covid. Hasil itu juga diketahui dari hasil riwayat kontak, swab antigen dan hasil PCR. Menurutnya pengertian ini yang perlu dipahami diluruskan oleh masyarakat.

Menurut Heri, terkadang alasan medis kurang dipahami oleh masyarakat, dimana hasil antigen yang positif dianggap belum tentu positif Covid-19, padahal di RS ada tindakan penunjang seperti radiologi, laboratorium dan sebagainya, namun tindakan itu kurang dipercaya. Bahkan hasil PCR masih saja kurang diterima dan dianggap direkayasa dan sebagainya.

“Rujukan ke rumah sakit pasti dari puskesmas punya alasan medis, namun sampai di RS argumentasi masyarakat masih terbawa hingga menilai dicovidkan. Padahal kita benar-benar profesioanal, untuk mengarah kecovid perlu pelayanan penunjang seperti laboratorium, rontgen dan sebagainya,” ujarnya

Baca juga Alhamdulillah, 17 Ribu KK Dapat BLT dari Pemkab Banjarnegara

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini